Bahagia-FotoOleh: Bahagia, SP., MSc. Penulis sedang S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dan dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor

Manusia yang butuh hewan dan bukan hewan yang butuh manusia. Semua hewan-hewan yang berada pada bentang alam mempunyai peran ekologis. Masing-masing telah punya peran masing-masing. Manusia dan hewan mempunyai hubungan yang sangat dekat. Manusia sebagai pengembala hewan harus . Tugas utamanya membuat bumi jadi subur serta menjaga hewan agar tidak punah. Punahnya hewan dan rusaknya peran hewan dialam termasuk perangai yang harusnya tidak dilanjutkan.

Semua hewan tadi termasuk hewan titipan dari Tuhan. Kepunahan satu saja dari sekian banyak hewan pasti ada tanggungjawab yang harus dikatakan. Manusia dan hewan bagi Tuhan tidak ada beda-bedanya. Sama-sama diciptkan oleh Allah. Sama-sama bertasbih kepadanya. Hanya manusia tadi bisa berkarya namun hewan tidak. Disitulah bedanya. Namun baik dan buruknya perangai manusia hanya akhlaknya yang dinilai. Kalau ia sukses menjaga hewan dan memakmurkan bumi.

Suatu saat bumi kita akan dibanjiri oleh berbagai jenis serangga yang merugikan hidup kita. Kita juga akan kelimpahan hama mamalia seperti tikus. Lingkungan kita juga akan penuh dengan pestisida untuk mengendalikan hama tadi. Kita juga akan kesulitan untuk mengendalikan hama tikus yang terkadung makin banyak. Makin sering pestisida dipergunakan makin tinggilah pencemaran air dan udara. Pencemaran karena pestisida berbahaya bagi manusia dan hewan. Hama makin banyak namun konsumsi akan pangan tidak bisa berkurang.

Mengatasi masalah tadi, petani akan menggunakan pestisida lebih banyak lagi. Kalau tidak dipergunakan nanti gagal panen. Apakah kita bisa bayangkan seperti apa kondisi ekologis kita suatu saat nanti. Penggunaan pestisida mematikan semua makhluk hidup yang terkena. Pengurai tanah pasti mati dan punah. Cacing tanah tadi akan mati seketika. Jika kita kembali kepada hukum dialam semesta yaitu keseimbangan. Kita sudah temukan hal yang tidak lagi seimbang. Semua kondisi telah berubah.

Hama serangga dan mamalia makin banyak karena ketidakseimbangan ekologis. Apakah ada kaitan antara kepunahan hewan dengan kerusakan ekologis. Bagaimana peran masing-masing hewan liar dialam sehingga dapat mempengaruhi keseimbangan ekologis. Hewan yang hidup dialam semesta mempunyai musuh. Ada yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lemah. Hewan yang lebih kuat tidak pula membuat punah yang lebih lemah. Populasi yang lebih lemah pasti lebih banyak dibandingkan dengan yang kuat. Kalau terjadi kebalikan maka populasi hewan tidak seimbang.

Hukum alam ini yang harus kita pahami bersama. Mengapa hewan yang lebih lemah lebih banyak karena hewan yang kuat (pemangsa) makan beberapa dari yang lemah. Akhirnya terjadi keseimbangan populasi. Hewan-hewan yang kuat dialam semesta tadi mempunyai karakter khusus termasuk habitat. Biasanya habitatnya harus jauh dari manusia. Burung elang pada umumnya termasuk predator ekologis. Peran burung elang dalam ekologis sebagai pengimbang sangatlah kuat.

Burung elang termasuk hewan yang kuat. Ia memangsa apa saja yang masih bisa dimakan. Elang memakan ular, elang memakan tikus, dan elang juga makan burung. Jika kita ambil satu contoh saja pada lingkungan kita. Daerah urban seperti tanah air. Daerah metropoplitan seperti kota DKI Jakarta dan kota besar lain. Tikus termasuk salah atu persoalan penting. Hama mamalia ini dapat hidup dimana saja. Tikus dapat hidup pada gorong-gorong. Ia dapat hidup dalam lemari. Tikus juga dapat hidup pada parit-parit dan bahkan sampah.

Penyakit banyak timbul dari tikus. Populasi tikus diperkotaan bukan main banyaknya. Hampir setiap got ada tikus. Hampir setiap rumah ada tikus. Pengendaliannnya sangat sulit. Tikus hanya bisa dikendalikan dengan musuhnya. Tikus punya musuh yaitu burung elang. Punahnya elang dari permukaan bumi membuat berbagai jenis tikus seakan-akan merdeka. Tikus tidak lagi takut. Tikus rumah berkembang pesat. Tikus ladang dan sawah makin banyak. Tikus got-got juga makin banyak.

Peran burung pemangsa seperti Elang dapat mengkonsumi tikus. Makin banyak populasi elang maka makin banyak tikus yang dimakan. Burung hantu juga sama dengan burung elang fungsinya. Burung Alap-alap yang lebih kecil dibandingkan dengan elang juga mempunyai fungsi yang sama. Tikus dapat hidup pada daerah seperti apapun. Burung Hantu, Elang dan Alap-alap tidak bisa hidup dekat dengan manusia. Sebenarnya bisa dibuatkan habitat pada perkotaan. Hanya saja, manusia kadang tak mau hewan ini ada.

Selalu beranggapan burung tadi mempunyai nilai ekonomi. Rawan diburu. Satu sisi hama tikus terus makin banyak jumlahnya. Tikus akan takut keluar dari lubangnya jika burung pemangsa ada diluar. Semakin banyak yang tidak mau keluar makin banyak tikus yang lapar dan mati. Peran lain untuk mengatur populasi tikus. Burung Elang dan burung pemangsa termasuk burung yang kuat makan hama mamalia seperti tikus. Burung pemangsa kalau tidak diselamatkan dialam akan terancam dari kepunahan.

Kepunahan burung elang dan burung pemangsa membuat hama tikus berkembang pesat. Tikus terus semakin banyak. Elang makin banyak punah. Burung preadator alami punah karena habitat dari burung tidak lagi memenuhi syarat. Burung predator juga sebagai barang dagangan dengan harga yang mahal. Kerusakan habitat burung elang di alam membuat burung elang kesulitan untuk berkembang biak. Burung predator alami haruslah tinggal pada kondisi hutan yang luas. Jarang ada intervensi manusia karena hewan liar seperti burung Elang tidak mau dekat dengan manusia.

Saat kerusakan hutan mengakibatkan menyempitnya habitat burung elang dan predator alami. Kalau ada burung elang yang tersisa maka akan berakhir dipasar burung. Kalau tidak dipasar burung nanti punah karena perburuan manusia. Predator lain sama nasibnya. Burung alap-alap dan burung hantu juga bernasib yang sama. Burung hantu yang termasuk hewan malam nampak sulit jika hidup pada banyak lampu-lampu manusia. Meskipun demikian, burung predator alami tetap bisa dikembangbiakan asalkan tidak diganggu.

Kepunahan burung predator alami menjadi masalah bagi kesehatan manusia karena meningkatnya jumlah populasi tikus. Petani juga bisa gagal panen karena keberadaan hama tikus. Tikus termasuk hama yang sangat ditakuti oleh petani sehingga tidak heran kalau petani bisa gagal panen karena tikus. Serangan tikus sangat berbahaya, batang-batang padi bisa terpotong-potong. Kalau padi sudah berisi, padi bisa tinggal sekam saja karena telah dimakan berasnya oleh tikus.

Dalam penyerangannya, tikus juga bergerombol, jadi tidak heran kalau satu malam saja hama tikus menyerang cukup membuat petani gagal panen. Tikus bisa kapan saja melakukan serangan terhadap padi. Mereka bisa menyerang pada malam hari dan menyerang juga pada siang hari. Tikus menyerang padi tidak terbatas waktu. Selain burung sebagai musuh alami, keberadaan kodok dan katak sangat membantu dalam mengembalikan keseimbangan.

Katak tidak ada yang tidak pemakan serangga, semua katak adalah pemakan serangga sehingga kepunahan katak berpotensi memberikan bencana kepada manusia. Populasi serangga akan stabil pada saat ada penyeimbang populasi serangga. Jenis serangga banyak yang dikonsumsi oleh katak dan kodok. Wereng sebagai musuh utama tanaman padi akan stabil pada saat kodok dan katak masih menjadi bagian ekosistem persawahan. Jenis serangga dari family orthoptera juga akan dikonsumsi oleh katak dan kodok.

Petani tidak perlu melakukan penyemprotan hebat pada lahan pertanian hanya untuk menyelamatkan padi. Jangka pendek, penyemprotan dengan pestisida dapat mempercepat terbunuhnya berbagai jenis serangga. Satu sisi terjadi pula penumpukan pestisida disawah. Pestisida tadi kemudian terbawa saat hujan pada sumur-sumur warga. Semua pestisida yang belum terurai tadi membuat air jadi tercemar. Siapa yang minum air mengandung pestida berpotensi mengalami kematian.

Semakin sering sawah tadi disemprot makin tinggi dosisnya karena hama mulai kebal akan pestisida. Serangannya juga semakin gawat. Katak dan kodok tadi juga ikut punah karena banyak kandungan pestisida. Sebagian lagi karena diburu oleh manusia. Selain mengkonsumsi serangga disawah. Katak berperan penting dalam mereduksi populasi jenis nyamuk. Saat ini nyamuk tidak ada lagi yang memakan. Dampaknya terjadi ledakan populasi nyamuk. Hal itu adalah salah satu malapetaka bagi kehidupan manusia.

Penyebab kerusakan dan kepunahan katak akibat kerusakan hutan dan pengendalian hama serta penyakit yang tidak ramah lingkungan. Kepunahan katak mempengaruhi kesehatan manusia melalui terputusnya rantai makanan antara katak dan nyamuk. Meningkatnya populasi nyamuk menyebabkan manusia terkena penyakit demam berdarah dan malaria. Untuk mengatasi kepunahan burung predator sebaiknya menternakanya kembali burung tadi. Burung hantu dan burung elang dipelihara oleh kelompok tani.

Lakukan perlindungan pada burung hantu. Lakukan penyuluhan kepada warga dan berjanji tidak akan membunuh burung jika berkeliaran pada lingkungan mereka. Petani yang bisa mengendalikan hama dengan pestisida untuk hama dan rodentisida untuk tikus maka mulai ditinggalkan. Pengendalian hama dengan kekuatan alami lebih lebih efektif sebab burung mengkonsumsi tikus sangat banyak. Bahan pangan yang dihasilkan dari pengendalian hama pakai burung predator akan lebih sehat.

Bahan pangan bebas dari pestisida. Termasuk pertanian organik. Jadi kalau mau pertanian berkelanjutan dan ramah ekologis maka mulailah gerakan peternakan burung hantu. Usahakan pada setiap kelompok tani mempunyai burung hantu. Sebarkan pada daerah yang lain. Lakukan perhitungan berapa banyak tikus yang dikonsumsi. Sesudah itu terus lakukan analisis. Bagaimana selanjutnya perkembangbiakan tikus. Apakah populasi tikus mengalami penurunan atau tetap tak berubah.

Kedua, setiap sawah pada lahan petani usahakan ada kawasan hijau, pada level desa usahakan ada taman-taman desa. Semacam alun-alun yang ditumbuhi oleh pohonan yang banyak sehingga memungkinkan jadi habitat hewan. Ketiga, pengembangan burung hantu dan elang harus segera lakukan secara massal. Pemerintah harus mencari burung-burung hantu yang tersisa. Burung hantu bisa didapatkan dikebun binatang. Tujuan awal kebun binatang untuk penangkaran hewan.

Manusia yang butuh hewan dan bukan hewan yang butuh manusia. Semua hewan-hewan yang berada pada bentang alam mempunyai peran ekologis. Masing-masing telah punya peran masing-masing. Manusia dan hewan mempunyai hubungan yang sangat dekat. Untuk menjaga peran dari hewan agar berkelanjutan secara ekologis maka dipercayalah manusia sebagai pengembala hewan dibumi. Tugas utamanya membuat bumi jadi subur serta menjaga hewan agar tidak punah.

Punahnya hewan dan hilangnya peran hewan dialam termasuk perangai yang harusnya tidak dilanjutkan. Semua hewan tadi termasuk hewan titipan dari Tuhan. Kepunahan satu saja dari sekian banyak hewan pasti ada tanggungjawab yang harus dikatakan. Manusia dan hewan bagi Tuhan tidak ada beda-bedanya. Sama-sama diciptkan oleh Allah. Sama-sama bertasbih kepadanya. Hanya manusia tadi bisa berkarya namun hewan tidak. Disitulah bedanya. Namun baik dan buruknya perangai manusia hanya akhlaknya yang dinilai. Kalau ia sukses menjaga hewan dan memakmurkan bumi.

Selain katak dan elang, hewan famili tawon-tawonan juga rawan dari kepunahan. Padahal hewan ini sudah diperintahkan untuk dekat dengan manusia. Dalam Al-Quran An-Nahl ayat 69 yang artinya: kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Dalam ekosistem fungsi lebah sangat banyak. Lebah sebagai fungsi penyilang tumbuhan dan penghasil madu bagi manusia. Hewan ini banyak yang punah saat ini. Kepunahan lebah karena lahan dan hutan sudah dibabat kemudian dijadikan kebun sawit. Lebah dan famili tawon-tawonan juga punah karena pengendalian hama yang tidak ramah ekologis. Kepunahan lebah akan terus kalau kita tidak bisa mewujudkan pembangunan pertanian organik.

Lebah juga terus makin langka kalau habitatnya dihutan terus kita rusak. Kita harus paham, kualitas dari madu lebah sangat bergantung kepada lingkungan dimana lebah tinggal. Saat lebah tinggal dihutan kemudian menghisap berbagai jenis bunga-bunga hutan dan tumbuhan hutan. Madu hutan tetap lebih baik karena lebah yang pergi jauh akan banyak menyerap berbagai jenis bunga-bungaan. Madunya terjamin dalam hal mutu karena jauh juga dari pestisida. Madu bisa tercemar kalau lingkungan lebah banyak pestisida.