97352_banjir-bandang-di-wasior-papuaBANJIR akhir-akhir ini menjadi masalah terbesar bagi umat di Indonesia. Laju urbanisasi dan jumlah penduduk yang tidak bersamaan dengan perbaikan ekologis menyebabkan bencana bertubi-tubi. Bencana banjir bukan lagi persoalan yang baru untuk sejarah bumi. Masa lalu nabi Nuh dan kaumnya pernah mengalami hal yang sama. Kini masyaraka bumi dan negeri ini terancam dari banjir. Fungsi ekologis mati dan masyarakat tumbuh menjadi manusia yang serakah. Sikap serakah tadi mengalahkan perilaku untuk beriman.

Oleh: BAHAGIA, SP., MSC.
Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan IPB dan Dosen Tetap Universitas
Ibn Khaldun Bogor (UIKA Bogor)

Seberapa luaspun bumi ini tetap akan kurang saja untuk menam­pung banyaknya orang tadi. Satu sisi semua bagian-bagian bumi sudah dicu­kupkan dan tidak lagi mungkin untuk ditambah. Meski manu­sia cerdas namun belum bisa membuat bumi baru. Belum bisa membuat hewan-hewan baru. Hewan-hewan tadi lama kelamaan punah sehingga berkurang jumlahnya. Tumbu­han yang tadinya beragam jen­isnya namun harus punah satu persatu.

Lantas kita mau makan apalagi suatu saat? lantas kita mau minum air yang seperti apa suatu saat? lantas benih tumbuhan apa yang kita tanam sehingga bisa tumbuh untuk memberi makan umat dibumi. Rumahlah yang kita perluas. Kita buat rumah kita mewah. Sebagian yang lain punya dua dan tiga rumah. Lagi-lagi hak setiap orang untuk dapat rumahlah yang selalu men­jadi perdebatan. Ia lupa kalau dirinya telah serakah lahan dan rumahnya membuat desakan kepada yang lain.

Mendesak semua yang ada dibumi. Mendesak air agar tumpah, membuat air keruh dan jenuh, membuat bumi ker­ing dan banjir. Gejala itu ben­cana besar bagi manusia dibu­mi. Ntah apa yang dipikiran umat kini. Mau sebanyak apa­lagi kita ini. Jumlah kita sudah banyak sekali. Dimana tidak ada manusia? jadi benar banyaknya jumlah manusia namun tumpul kecerdasan dan iman maka be­ginilah jadinya bumi tadi.

Sayangnya yang mengaku ustadz, ilmuwan, pemikir dan pengamat tak bisa berbuat ban­yak. Sekedar teori saja disam­paikan didepan publik. Padahal ikut pula dirinya menjadi pe­rusak bumi tadi. Mau bencana seperti apalagi agar kita mau kembali beriman. Mau seban­yak apalagi korban berjatuhan dan meninggal sia-sia agar kita mau memperbaiki ekologis kita ini. Kondisi kota kini tumpah dengan musibah. Lapisan ta­nah harus tertutup rumah, as­pal, dan beton. Air tumpah dan memberikan bencana kepada manusia.

Menurut BPS (2014) Jum­lah desa terbanyak yang ter­kena banjir tahun 2014 ada tiga propinsi. Propinsi Jawa barat sebanyak 1193 desa mengalami banjir, disusul jawa tengah 1273 desa, dan 1218 desa terkena banjir. Kini banjir dimana-mana sesuai dengan kadar kerusakan ekologis. Tentu banjir ekologis tadi sangat ditentukan kadar imannya manusia tadi. Banjir masa lalu belum juga jadi per­ingatan kepada manusia saat ini agar kembali ke jalan benar. Banjir bandang kaum Nabi Nuh harus dijadikan referensi untuk memperbaiki ekologis dan miti­gasi bencana.

Untuk itu kita perlu melaku­kan mitigasi atau antisipasi sebelum terjadinya banjir. Ter­ungkap dalam Al-Quran Surat Huud ayat 40. Hingga apabila perintah Kami datang dan da­pur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari mas­ing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluar­gamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadap­nya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

Ada beberapa hikmah dari ayat Al-Quran diatas. Pertama, Allah sudah menyuruh nabi Nuh membuat perahu dari kayu sebagai antisipasi terjadi bencana banjir. Persiapan un­tuk mengatasi bencana sudah dilakukan dengan memahat kayu-kayu menjadi perahu besar. Membuat perahu tidak lang­sung jadi. Butuh waktu mem­persiapkan perahu agar mampu beradaptasi terhadap bencana. Termasuk bahan-bahannya seperti kayu yang bermutu dan cara pembuatannya.

Adaptasi itu butuh perenca­naan berapa kekuatan dari ben­da yang akan digunakan untuk adaptasi. Berapa jumlah makh­luk hidup yang bisa ditampung didalam perahu. Harusnya kita mempersiapkan dan melaku­kan identifikasi terhadap ke­mungkinan kerentanan daerah yang terkena bencana ekologis. Selanjutnya disiapkan alat-alat yang bisa membantu dalam me­nyelamatkan korban bencana ekologis tanah air. Jangan lupa berapa kapasitasnya.

Kedua, hewan yang naik haruslah berpasang-pasangan. Maksudanya disini agar suatu saat setelah banjir bandang ma­sih tersedia keragaman hayati sebagai kekayaan alam. Sumber genetik hewan dan tumbuhan tadi sebagai makanan bagi ma­nusia suatu saat nanti. Selain itu, cadangan makanan selama musibah atau banjir. Pangan terselamatkan karena fauna masuk ke kapal berpasang-pa­sangan. Hutan kita kini hancur dan minim ruang terbuka hijau. Kemana perginya hewan kita, tentu punah jawabannya.

Kemana tumbuhan kita, pu­nah jawabannya. Kemudian kita impor pula untuk itu. Kita ini memang perusak nomor satu dibumi ini. Kaya tetapi dangkal sekali otak untuk berpikir. Saat kisah nabi Nuh, fauna ini seb­agai sumber pangan bagi manu­sia karena ikut naik fauna tadi ke kapal nabi Nuh. Suatu saat juga sebagai cadangan setelah terjadi banjir atau bencana karena fauna akan berkembang biak. Perkembangbiakannnya akan jadi sumber bahan pangan bagi manusia. Ketiga, ada kai­tannya antara keimanan den­gan bencana.

Orang yang beriman jus­tru diselamatkan yaitu makhluk yang naik ke kapal nabi Nuh. Jadi orang yang tidak percaya ada kaitannya keimanan dengan bencana banjir serta bencana ekologis pada umumnya maka negeri itu akan tetap terkena bencana. Mengapa demikian, perangai merusak tanah, ser­akah atas lahan, merusak hu­tan, merusak air, mencemari air dan membuat banjir termasuk perilaku salah. Kesalahan terha­dap pengelolaan ekologis men­cirikan bahwa manusia telah salah. Tentu kesalahan itu ada efeknya terhadap dirinya dan manusia yang lainnya.

Keempat, perlunya kita antisipasi sebelum bencana sehingga bencana tidak meru­sak banyak. Kelima, perlunya pemimpin memberikan ara­han yaitu Nabi Nuh kepada warganya agar beriman namun mereka malah ingkar. Siapa yang ingkar tadi dimusnahkan dengan air bah atau banjir ban­dang. Pemimpin negeri ini bisa menghentikan bencana jika pe­mimpinnya juga memberikan arahan dan memberikan solusi atas banjir. Jika pemimpinnya tidak memberikan solusi dalam tanda kutip tidak beriman maka masyarakat akan terdampak atas itu.

Masyarakat yang memilih jadi hati-hati untuk memilih pemimpin. Keenam, setelah bencana banjir maka datan­glah kebahagiaan. Orang-orang zalim telah meninggal semua. Tinggalah orang-orang yang se­lamat dalam perahu nabi Nuh. Peradaban baru akan dimulai dengan orang-orang yang su­dah terseleksi imannya. Untuk itulah kita harus yakini jika bencana ekologis makim ban­yak pada negeri ini maka ma­kin banyak kerusakan ekolo­gis. Kerusakan ekologis sangat dekat dengan manusia yang kurang berpikir. Selalu meny­alahkan banjir, air hujan dan longsor. Padahal diri sendiri yang salah.

Suatu saat jika bencana alam itu makin luas maka ma­kin menyebar meratalah keru­sakan itu. Bencanapun tidak akan pernah berhenti. Orang yang beriman juga harus terus melakukan penyuluhan kepada yang melakukan kerusakn. Jan­gan sampai yang beriman juga ikut terkena karena tidak mau memberikan arahan ke jalan yang benar. Tentu dengan hal itu kita harus melakukan antisi­pasi untuk mitigasi bencana se­belum bencana terjadi. Siapkan peta daerah yang rawan ben­cana atas dasar kerusakan. Ke­mudian siapakan segala keper­luan untuk siaga dan tanggap bencana. (*)

 

loading...