BENGKULU TODAY – Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang rawan di guncang gempa dan gelombang tsunami. Provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia” ini terdapat dua sumber gempa bumi yang setiap saat bisa terjadi. Hal tersebut di lihat dari posisi provinsi yang memiliki 10 kabupaten/kota ini.

Sumber pertama adalah potensi gempa bumi yang terletak di wilayah lautan. Hal tersebut merupakan batas pertemuan dua lempeng. Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, namanya. Lempeng Indo-Australia, relatif bergerak ke arah utara. Sementara lempeng Eurasia bergerak ke arah selatan.

Sehingga karakteristik gempa bumi yang terjadi pada bagian laut ini memiliki kekuatan mulai dari gempa-gempa kecil hingga gempa besar. Selain itu, gempa bumi yang terjadi juga bisa berpotensi menimbulkan tsunami jika syarat-syarat terpenuhi.

Selain potensi gempa bumi dari lautan, daerah Bengkulu juga memiliki potensi gempa bumi di wilayah daratan. Hal ini terjadi karena adanya sistem patahan lokal sumatera yang melalui wilayah Bengkulu. Ada tiga patahan lokal yang ada di wilayah Bengkulu.

Seperti patahan Musi (Segmen Musi) yang terletak di Kabupaten Kepahiang, patahan Manna (Segmen Manna) yang terletak di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan patahan Ketahun (Segmen Ketahun). Karakteristik gempa bumi darat tersebut biasa terjadi dengan kekuatan lebih kecil dari pada gempa bumi di laut.

”Masih ada potensi gempa kuat di segmen Mentawai. Kita tidak berharap itu untuk terjadi,” kata Kepala Bidang Seismologi Teknik BMKG Pusat, Dadang Permana, Jumat (10/5/2019).

Dengan adanya tingkat kerawanan gempa yang berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat, BMKG Kepahiang Bengkulu dibantu teknisi dari PT Bita Enarcon Engineering memasang 15 unit Intensity Meter di 15 titik di Kota Bengkulu.

Alat yang digunakan untuk mengetahui intensitas gempa bumi dan untuk mengukur tingkat kerusakan, akibat gempa bumi dalam satuan Modified Mercalli Intensity (MMI) tersebut merupakan bantuan hibah dari pemerintah Jepang melalui JICA.

Kata Dadang, alat untuk mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI. Dari I MMI hingga XII MMI. Di mana saat gempa terjadi Intensity Meter langsung terkoneksi secara langsung dan akan terlihat di alat digitizer pada Intensity Meter yang sebelumnya telah terpadang di daerah-daerah.

Dadang menjelaskan, di digitizer pada Intensity Meter akan muncul skala intensitas, I-II MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang tetapi terekam oleh alat. Di digitizer akan muncul warna putih.

Sementara jika pada digitizer pada Intensity Meter berwarna hijau atau III-V MMI getaran gempa dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.

Kemudian, jika warna kuning muncul di alat digitizer pada Intensity Mete atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.

Lalu, VII – VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer pada Intensity Meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah. Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan sampai sedang.

Selanjutnya, jika di alat digitizer pada Intensity Meter berwarna merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat, rel kereta api melengkung.

”Getaran gempa yang terjadi akan terekam di alat digitizer pada Intensity Meter,” sambungnya.

Alat digitizer pada Intensity Meter yang terpasang di Kota Bengkulu, sampai Dadang, juga akan langsung masuk ke server BMKG Pusat dalam hitungan menit. Selain itu, laporan alat digitizer pada Intensity Meter yang terkoneksi tersebut nantinya akan terlihat tingkat guncangan gempa yang terjadi di Bengkulu.

Sehingga, kata Dadang, peta tingkat guncangan shakemap secara otomatis akan masuk selama 20 menit. Di mana peta itu, jelas Dadang, akan melihat kerusakan dampak gempa parah. Dari peta itu BMKG akan menyampaikan ke BNPB, BPBD Provinsi, BPBD kabupaten dan kota tingkat kerusakan terparah di daerah yang terdampak gempa.

”Tujuannya agar di respon cepat BNPB, BPBD provinsi, kabupaten dan kota daerah yang terdampak gempa. Peta kerusakan itu kalau berat akan berwarna merah, jika berwarna kuning rusak ringan, warna jingga rusak sedang,” jelas Dadang.

”Dengan adanya peta tersebut maka dari BPBD bisa mengambil keputusan cepat untuk mengambil tindakan,” sambung Dadang.

Intensity Meter, sampai Dadang, tidak hanya mencatat getaran gempa yang terjadi di daerah di Bengkulu. Namun, getaran gempa yang berlokasi atau berpusat di Aceh, Padang Sumatera Barat hingga Lampung pun bisa terdeteksi oleh alat intensity meter yang terpadang di 15 titik di Kota Bengkulu.

”Hanya saja tingkat guncangan gempa yang berlokasi di provinsi lainnya skala MMI yang dirasakan di Bengkulu tidak begitu terasa atau besar. Tapi, intensity meter tetap merekam dan mencatat,” ujar Dadang.

Pemasangan alat intensity meter, lanjut Dadang, tidak hanya di Kota Bengkulu. Pemasangan juga di lakukan di sejumlah provinsi di Indonesia, yang dilihat dari populasi pendudduk, kota besar serta tingkat kerawanan gempa di daerah tersebut.

”Intensity meter bantuan dari pemerintah Jepang. Bantuan Intensity Meter yang diberikan sebanyak 200 unit termasuk di Kota Bengkulu, Bengkulu,” ujar Dadang. (net)

loading...