Oleh : Ahmad Agus Fitriawan

(Guru MTs. Yamanka Kec. Rancabungur dan Sekretaris KKM MTs Kab. Bogor)

Marhaban ya Ramadan. Salah satu tanda keimanan seorang muslim adalah bergembira dengan datangnya bulan Ramadan. Dan sejatinya seorang muslim harus khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira terhadap Ramadan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak.

Kahadiran Ramadan banyak membawa keberkahan. Keberkahan itu sendiri adalah bertambahnya kebaikan. Pertama, ia mampu mempersatukan ayah, ibu, dan anak di satu meja makan untuk saling membina komunikasi, menghantarkan getaran cinta dan kasih sayang yang selama ini hilang ditelan robot-robot kesibukan. Ayah ataupun ibu sibuk di kantor dengan pekerjaannya, pergi sebelum terbit fajar dan pulang sesudah terbenam matahari. Hingga pertemuan dan berkumpulnya semua anggota keluarga jarang terjadi.

Kedua, masjid dan musholla tak sanggup menampung jamaah yang ingin melaksanakan shalat berjamaah terlebih shalat Isya dan Tarawih. Padahal biasanya, masjid dan musholla kelihatan sepi dan kurang makmur oleh jamaah. Kesempatan ini yang dimanfaatkan oleh para pengurus DKM untuk menghadirkan penceramah agama dengan harapan membangkitkan ingatan kolektif tentang kewajiban muslim terhadap Allah SWT dan sesama manusia, yang pada akhirnya akan meningkatkan ketakwaan jamaah dan menebalkan kesalehan individu dan kesalehan sosial jamaah.

Ketiga, panggilan untuk tadarus Al-Qur’an sampai pada mengkaji makna kandungannya setelah shalat fardhu atau pada kesempatan luang, selalu hadir menyapa. Bukan rahasia lagi, di bulan-bulan selain Ramadan, Al-Qur’an hanya tersimpan rapi di rak buku dan lemari. Ia dibaca pada waktu anggota keluarga meninggal dunia, atau ada pengajian dan acara keagamaan lain.

Keempat, ia mampu mengasah pisau jiwa sosial setajam mungkin untuk kemudian dilanjutkan dengan kerelaan mengeluarkan infaq dan sedekah, karena infaq dan sedekah di bulan ini diberi kelipatan nilai kebaikan yang tak terhingga. Pisau jiwa sosial yang selama ini tumpul dan tertutup rapat atau hanya sedikit saja tersingkap karena jarang mendengarkan nasehat-nasehat agama yang menganjurkannya untuk berbagi dengan sesama tanda jiwa yang takwa. Diceritakan oleh Ibnu Abbas RA: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah SAW melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Kelima, setiap orang berduyun-duyun menunaikan zakat, baik zakat harta maupun zakat lainnya kepada para panitia zakat. Andai semua muslim Indonesia sadar akan kewajiban zakatnya, maka tidak akan ada lagi problematika kesulitan ekonomi dan jurang pemisah antara kaya dan miskin.

Keenam, diet menjadi ringan karena bisa puasa bersama seluruh anggota keluarga dan muslim lainnya. Badan-badan gemuk yang beratnya sulit untuk diturunkan dan bisa jadi bertambah gemuk, serta berubah menjadi overweight sampai obesitas karena malas diet dan berpuasa sunnah. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.” (H.R. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim).

Semoga kita bisa memaksimalkan momentum Ramadan dengan kebaikan-kebaikan yang mendekatkan diri kita meraih predikat takwa. (QS. al-Baqarah [2]: 183). Wallahu’alam. (*)

loading...