HL-(3)Bulan Ramadan diidentikkan dengan kegiatan religius. Bukan hanya dengan kegiatan sembahyang saja yang menjadi kegiatan religius, melainkan juga kegiatan berwisata yang mengandung unsur keagamaan yang menjadi kegiatan umat muslim. Salah satunya ialah kegiatan ziarah ke makam Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Athas—seorang yang diyakini sebagai Walliyah—yang berada di Kampung Arab di Jalan Lolongok, Empang.

Oleh : Herza

Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Athas atau Habib Abdullah atau Habib Keramat merupakan ulama yang be­rasal dari Yaman. Pada saat berada di Mekkah, beliau mendapatkan wangsit untuk pergi Ke Indonesia. Habib Abdullah sudah mengalami berbagai macam perjalanan hingga akhirnya menetap di daerah Empang, Bogor dan menikah dengan seorang ga­dis di sana. Jasadnya pun di­makamkan di Masjid An-Nur atau yang lebih dikenal den­gan sebutan Masjid Keramat Empang bersama jasad istri, anak-anaknya, dan seorang murid kebanggaannya.

Sabtu kemarin, warga Kam­pung Arab tengah disibukkan dengan pembuatan nasi kebu­li yang menjadi ciri khas warga Arab di Bogor. Tradisi nasi ke­buli terjadi ketika bulan Rama­dan, perayaan Isra Mi`raj, dan juga Maulid Nabid Muhammad SAW. Di malam ke-21 Ramadan kemarin, Kampung Arab dipa­dati oleh beberapa tamu yang berasal dari keluarga Habib Abdullah.

“Diyakini bahwa 10 malam terakhir malam lailatul qadar, maka keluarga Habib Abdul­lah Mukhsin Al-Athas yang berasal dari luar kota datang ke sini sesuai tradisi,” ungkap Bapak Ahyat, seorang pekerja Masjid An-Nur.

Nasi yang semula berasal dari India ini terbuat dari cam­puran nasi dengan bumbu khas Timur dan juga bumbu khas India. Akan tetapi, pada saat para ulama Yaman hijrah ke Indonesia, racikan nasi ke­buli pun berubah sesuai den­gan citra rasa khas Indonesia. Bahan-bahan pun ditambah dengan delapan belas jenis rempah asli Indonesia. Itulah sebabnya nasi kebuli lebih dikenal berasal dari Indone­sia bukan dari India. Nasi ke­buli pun sudah mengalami beragam variasi, seperti di­campurkan daging kambing atau daging ayam sesuai selera penyantap nasi kebuli.

“Tradisi bermula dari salat Magrib berjamaah, makan nasi kebuli bersama, lalu di­tutup dengan salat Isya bersa­ma. Bahkan, keesokan harinya akan ada sahur bersama di sini” lanjut Bapak dari dua orang anak tersebut.

Bapak Ahyat mengatakan bahwa para tamu pun tidak se­luruhnya makan nasi kebuli di Masjid Keramat Empang saja. Ada beberapa tamu yang me­milih menikmati nasi kebuli di rumah warga. Itulah alasan mengapa setiap rumah juga menyajikan nasi kebuli ketika akan melaksanakan tradisi. Para tamu yang berasal dari luar kota pun diimbau untuk menginap di rumah-rumah warga setempat ataupun di masjid sebab tradisi yang sele­sai hingga larut malam. “Tradi­si nasi kebuli sudah menjadi ciri khas Kampung Arab dan Empang,” tutup Bapak Ahyat. (Herza/Mgg/ed:Mina