16-Setelah-PNS-BNN-Bidik-417-Kades-BogorJAKARTA TODAY – Kasus penang­kapan Bupati Ogan Ilir, Ahmad Wa­zir Nofiandi (27), terkait penggu­naan sabu-sabu membuat Badan Narkotika Nasional (BNN) kian gen­car memburu kepala daerah nakal di Indonesia. BNN menjadwalkan tes urine massal kepada seluruh kepala daerah di Indonesia.

Kepala Badan Narkotika Na­sional (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso, mengatakan, In­donesia sudah darurat narkoba. “Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kami agendakan semua bupati, walikota dan gubernur serta pejabat tinggi dites urine,” kata dia, kemarin.

Buwas-sapaan akrabnya juga mempertanyakan lolosnya Bu­pati Ogan Ilir Ahmad Wazir Nofi­adi dalam pilkada. ”Ada beberapa yang sedang kami intai, tetapi tidak bisa kami sebutkan seka­rang,” kata Budi.

Terkait penggunaan sabu-sabu oleh kepala daerah, Menteri Koor­dinator Politik dan Keamanan (Pol­hukam) Luhut Binsar Pandjaitan mensinyalir Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Nofiadi (AWN) tidak hanya seb­agai pengguna. Luhut menduga AWN sebagai pengedar sabu-sabu. “Kat­anya jadi dealer (pengedar), bukan hanya pengguna,” ujar Luhut.

Menanggapi ancaman BNN un­tuk melakukan tes urine massal, Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, mengaku siap. “Saya siap. Ini lang­kah dan komitmen bagus dari Pak Budi Waseso. Negara dan bangsa kita memang sudah dalam taraf darurat narkoba,” kata dia, kemarin petang.

Politikus PAN ini juga mengusul­kan, tes urine ini tidak hanya untuk kepala daerah saja. “Menteri dan pe­jabat tinggi di birokrat juga semesti­nya dites,” kata dia.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mendukung penuh langkah Badan Narkotika Nasional (BNN) yang tidak pandang bulu memberantas narkoba termasuk di kalangan pejabat daerah. Ganjar pun memperingatkan bawahannya agar tidak berurusan dengan narkoba.

“Tidak hanya kepala daerah, semuanya. Tidak hanya urine, ada teknologi yang lebih canggih lagi dari BNN, bisa dilakukan. Saya orang yang ikut geram, kan itu kejadian di Suma­tera Selatan, masih muda, kan harapan orang banyak. Saya dukung sepenuh­nya langkah BNN,” kata Ganjar usai menghadiri Peringatan Hari Jadi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ke-66 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Alun-alun Kabupaten Pati, Rabu (16/3/2016).

Ganjar menegaskan, jika sudah masuk wilayah publik terutama pe­jabat daerah, segala gerak akan ter­batas termasuk dalam menggunakan anggaran maupun gaya hidup yang melibatkan narkoba maupun obat terlarang. “Seluruh kepala daerah hati-hati, jangan gunakan kewenan­gan dengan salah, jangan gunakan uang negara dengan keliru, jangan narkoba! Ini diingatkan betul agar soal moralitas, integritas, bisa terjaga betul, susila termasuk,” tandasnya.

Politisi PDIP itu juga memperin­gatkan bahwa keburukan pasti akan terbongkar apalagi jika sudah men­jadi prilaku buruk sehari-hari. Hal itu juga termasuk kecurangan pada proses pendaftaran menjadi calon kepala daerah misalnya soal data ke­sehatan. “Gusti Allah mengingatkan dengan caranya. Kalau bicara hukum tidak selesai, ternyata diselesaikan di belakang, ternyata proses yang dulu dicurigai, hari ini terbongkar (kasus Bupati Ogan Ilir). Tidak usah ditutup-tutupi, kalau sudah jadi prilaku mesti konangan (ketahuan).

Mereka seolah merasa aman pada lingkungan kekuasaan. Tapi hari ini siapa yg bisa melindungi,” terang Ganjar. “Pak Buwas itu buas betul, artinya masuk-masuk luar bi­asa. Dia punya kemampuan reserse, daya intipnya luar biasa. Jadi waktu ngobrol sama saya, tak dukung penuh, dan memang harus ekstra ordinary. 40 orang mati setiap hari karena narkoba, mau jadi apa, terus mau jadi kepala daerah, bernarkoba ria?” katanya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mempersilakan Badan Narkotika Nasional melakukan tes urine terhadap semua kepala dan wakil kepala daerah di Indonesia. BNN dapat melakukan tes urine tanpa didahului pemberitahuan.

“Tidak perlu ada instruksi dari Mendagri supaya kepala dan wakil kepala daerah melakukan tes narko­ba. Kalau sifatnya instruksi, mereka yang biasa memakai narkoba bisa siap-siap lebih dulu untuk mengakali hasil tes narkoba,” kata Tjahjo di Jakarta, kemarin. “Kalau ketahuan positif ya langsung pecat lah. Kami ti­dak main-main kalau soal narkoba,” tandasnya.

(Yuska Apitya Aji)