Oleh Heru B. Setyawan (Guru Sekolah Pesat & Relawan Baznas Pusat)

Secara bahasa kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Sehingga  kalau ada seseorang berbuat keji dan tidak senonoh dikatakan orang tersebut tidak beradab atau tidak punya akal sehat.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lainnya. Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian kebudayaan (budaya) adalah semua hasil karya, rasa dan cipta manusia yang sangat dominan mempengaruhi kehidupan manusia. Atau dengan bahasa yang lebih mudah budaya itu suatu tradisi dan kebiasaan dari suatu kelompok masyarakat. Lalu budaya atau tradisi apa saja yang terjadi selama puasa.

Pertama, budaya ngabuburit. Secara bahasa kata Ngabuburit itu sendiri berasal dari Bahasa Sunda, Jawa Barat, yang berasal dari kata “burit” yang merepresentasikan waktu yang berarti sore, senja, atau menjelang Maghrib. Istilah Ngabuburit juga umum diucapkan banyak orang ketika menunggu waktu berbuka puasa, tepatnya setelah ba’da Ashar.

Kalau kita melihat sejarah ngabuburit yang dijalani oleh masyarakat Sunda nun jauh di masa lalu, kebanyakan masyarakatnya menghabiskan waktu Ngabuburit di dalam surau atau Masjid. Seperti mengaji dengan Ustad dan Kyai, dengan membaca kitab suci Al-qur’an, dengan bertujuan untuk mengkhatamkannya dalam jangka waktu hanya bulan puasa Ramadhan. Selain itu, Ngabuburit tempo dulu juga diisi dengan kegiatan dakwah Islam untuk mengajak kebaikan dan mengajak kembali pada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan hadis dan kitab suci Al-Qur’an. Inilah ngabuburit yang benar dan sesuai dengan syariat agama Islam.

Tidak seperti sekarang, ngabuburit sudah melenceng jauh dari sejarahnya dan bahkan ngabuburit bisa membatalkan puasa kita. Pada jaman kini ngabuburit diisi dengan pacaran, main kartu, nonton bioskup, main music, nonton TV seharian, bali (balapan liar), belanja di mall dan semua perbuatan komsumtif dan tidak produktif serta sia-sia belaka.

Karena istilah ngabuburit begitu terkenalnya dan bahasanya pas dengan anak muda ada acara musik dengan label ngabubutit bersama Gigi dan Slank. Sehingga ada  Hadist yang berbunyi ”Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR. Ahmad, hadist hasan shahih). Saatnya sekarang dengan ngabuburit kita lebih kenal dan dekat kepada Allah SWT dan RosulNya dengan melaksanakan shalat berjamaah di Masjid, iftikaf di Masjid, membaca, memahami dan mengamalkan isi Kitab Suci Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, budaya Sahur On The Road (SOTR). Pada awalnya budaya Sahur On The Road adalah kegiatan sosial dengan membagikan makan sahur yang dilakukan oleh anak muda. Sama seperti ngabuburit istilah ini sangat popular di kalangan anak muda, apalagi SOTR juga diikuti para selebritis dan secara massif diberitakan oleh media massa.

SOTR waktu dan tempatnya juga pas dengan dunia anak muda, yaitu kegiatan nongkrong, kumpul, ngerumpi dan konvoi dengan sepeda motor. Sesuai dengan perkembangan jaman dan gaya hidup anak muda komunitas motor (bersifat positif) dan gang motor (bersifat negatif) berkembang pesat bagai jamur dimusim hujan.

Kalau malam libur jam 24.00 ke atas para komunitas motor dan gang motor ini pada nongkrong di pinggir jalan, orang nongkrong di pinggir jalan, meski tidak melakukan kegiatan negatif, tapi paling kegiatannya tidak bermanfaat, misal ngobrol, makan, minum, merokok, main games, main kartu dan lain-lain. Kecil kemungkinan misal, mereka membicarakan dan membahas hal-hal demi kemajuan bangsa dan Negara.

Bahkan kalau kumpul-kumpul di malam hari dengan banyak orang rawan untuk berbuat negatif, bukankah kebanyakan kejahatan terjadi pada malam hari. Apalagi kalau di tempat tersebut ada mirasnya, maka kemungkinan akan terjadi tindak kriminal, pelecehan dan kekerasan sexual, ajang vandalisme, tawuran (yang paling sering terjadi) bahkan pembunuhan. Dan sekarang sedang marak geng motor yang sangat ganas dengan  membawa senjata tajam.

Saatnya sekarang kita ganti dari Sahur On The Road menjadi Sahur On The Mosqoe dengan memakmurkan Masjid, karena Masjid itu adalah rumah Allah yang penuh keberkahan. Jika sebagaian besar orang tahu  bahwa Masjid adalah tempat keberkahan, maka Masjid pastilah akan penuh setiap hari. Tidak seperti sekarang, Masjid hanya penuh kalau shalat jum’at, shalat tarawih dan shalat 2 hari raya.

Ketiga, budaya petasan dan kembang api pada puasa dan lebaran.  Sejarah petasan bermula dari Cina. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampur tiga bahan bubuk hitam  yakni  kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar.

Jika ketiga bahan tersebut dimasukan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya yang lalu dibakar dan akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan jenis ini dipercaya dipakai juga dalam perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan, dan upacara-upacara keagamaan.

Baru pada saat dinasti Song (960-1279 M) didirikan pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitik-beratkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di angkasa hingga akhirnya dibedakan. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia.

Membeli petasan dan kembang api adalah suatu pemborosan, padahal pemborosan itu adalah sifat dari setan. Apakah tidak lebih bagus, dari pada membeli petasan dan kembang api yang rawan bahaya dan mahal, kita ganti dengan memukul bedug dan kentongan yang gratis dan tanpa bahaya. Jayalah Indonesiaku. (*)

loading...