BOGOR TODAY – Isu pemilu 2019 menyita perhatian ratusan juta penduduk Indonesia, tidak terkecuali TNI dan Budayawan Bogor. Kemarin, Minggu 19 Mei 2019, Korem 061/ SuryaKancana silaturahmi sekaligus buka bersama puluhan budayawan Bogor di Rumah Makan Kabayan di Jalan Tegar Beriman, Kabupaten Bogor.

“Hari ini kami (Korem 061/SK) berkumpul dengan para budayawan Bogor untuk bersilaturhami sekaligus membahas isu – siu yang sedang berkembang di negeri ini, salah satunya soal hasil pilpres yang menyita perhatian masyarakat Indoneia,” ujar Danrem 061/SK, Kolonel Inf. Novi Helmi Prasetya.

Menurut Danrem, salah satu tugas TNI adalah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk itu, dirinya mengajak budayawan untuk ikut andil dalam menjaga keutuhan NKRI dan jangan sampai terpecah belah hanya karena perbedaan pendapat dalam pilpres 2019 ini.

“Budayawan tidak perlu ikut serta dalam aksi 22 Mei mendatang, kalau bisa justru budayawan harus mengajak masyarakat untuk tidak turun aksi, dihawatirkan akan memperkeruh atau menimbulkan ketidak nyamanan di wilayah. Manfaatkan bulan Ramadhan ini untuk kita saling menahan diri, tetap jaga persatuan dan kesatuan,” tuturnya.

Danrem berpendapat, alangkah baiknya jika masyarakat menyampaikan pendapatnya soal dugaan adanya kecurangan dalam pemilu 2019, sampaikan secara konstitusi.

“Karena di setiap daerah ada KPU ada Bawaslu nya juga, tidak harus rame – rame turun aksi ke Jakarta,” pintanya.

Melihat kondisi politik di Indonesia kian memanas, Budayawan muda Bogor, Bambang Sumantri mengatakan, dalam sejarah Indonesai, budayawan ikut andil dalam kemerdekaan Indoensia, sudah tentu budayawan turun saat melihat kondisi bangsa Indonesia yang disinyalir adanya gerakan yang ingin memecah belah bangsa Indonesia.

“Sikap budayawan terhadap pilpres 2019 ini, kami akan ikuti konstitusi Negara Indonesia. Siapapun yang ditetapkan pemenang oleh hasil penghitungan secara konstitusi, kami akan mengikuti undang – undang yang berlaku di Republik Indoneisa,” kata Kisumantri – sapaan akrabnya.

Kata Kisumantri, budayawan tidak berpihak ke kubu manapun. Budayawan tidak akan terpancing oleh isu yang berapiliasi memecah belah bangsa Indonesia. Justru budayawan menghimbau kepada kubu 01 maupun 02 agar sama – sama mengikuti ungdang – undang yang berlaku.

“Menyampaikan pendapat di muka umum atau berdemo itu boleh – boleh saja karena ada aturannya. Namun saya menghimbau agar tidak terjadi anarkis,” pungkasnya. (Chamonk)

loading...