Untitled-19Oleh : Yuska Apitya
[email protected]

PT Biotis Prima Agrisindo (BPA), perusahaan yang didirikan oleh 2 investor asal China yang bernama Pharmally International Holding Company dan Harbin Weike Biotechnology Company, mendirikan pabrik vaksin hewan di Jalan Pemuda, Desa Curug, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Pabrik vaksin hewan yang akan memproduksi vaksin Avian Influ­enza (flu burung) dan vaksin New­castle Disease ini mulai ground­breaking pada pukul 09.00 WIB tadi.

Dijadwalkan proses pembangu­nan pabrik dan percobaan produk­si akan selesai pada kuartal III 2017. Sementara kegiatan produksi akan dimulai pada kuartal IV 2017. “Pe­rusahaan akan memenuhi kebutu­han pasar ASEAN, terutama Indo­nesia dengan produk vaksin Avian Influenza dan Newcastle Disease,” kata Chairman Pharmally Interna­tional, Tony Huang, saat ground­breakingpabrik di Bogor, Sabtu (23/7/2016).

Tony mengatakan, Indonesia se­bagai negara dengan populasi terbe­sar keempat di dunia dan terbanyak di Asia Tenggara memiliki tingkat konsumsi daging ayam yang sangat tinggi. “Oleh kareana itu, terdapat kebutuhan yang besar akan vaksin flu burung untuk mencegah penye­baran penyakit dan menjamin kes­ehatan unggas,” tutur Tony.

Untuk membangun pabrik vak­sin ini, total biaya investasi yang digelontorkan dalam 3 tahun ke depan mencapai US$ 100 juta atau setara Rp 1,3 triliun (dengan asumsi kurs dolar Rp 13.000). “Pada tahap awal, kapasitas produksi vaksin tahunan diperkirakan mencapai 8 miliar ampul,” dia mengungkap­kan.

Untuk penyerapan tenaga ker­ja, Tony berjanji akan sebanyak-banyaknya menyerap tenaga kerja lokal dari Indonesia. “Tentu kita mengharapkan sebanyak mungkin pekerja lokal. Tapi untuk departe­men penelitian dan pengembangan (litbang) dan quality control masih harus pakai expert dari Tiongkok. Selain 2 departemen tadi semuanya pakai pekerja lokal,” pungkasnya.

PT Biotis Prima Agrisindo (BPA), perusahaan yang didirikan oleh investor asing asal China, mendirikan pabrik vaksin hewan dengan investasi senilai US$ 100 juta atau setara dengan Rp 1,3 tril­iun di Jalan Pemuda, Desa Curug, Kecamatan Gunung Sindur, Kabu­paten Bogor.

Chairman Pharmally Interna­tional, Tony Huang, mengungkap­kan bahwa pihaknya mendirikan pabrik yang memproduksi vaksin Avian Influenza (flu burung) dan vaksin Newcastle Disease di Indo­nesia karena melihat potensi pasar yang besar.

“Sebagai negara dengan popu­lasi terbesar keempat dan terbanyak di Asia Tenggara, tingkat konsumsi daging ayam di Indonesia sangat tinggi. Oleh kareana itu, terdapat kebutuhan yang besar akan vaksin flu burung untuk mencegah penye­baran penyakit dan menjamin kes­ehatan unggas,” kata Tony.

Tony juga menyebut Indonesia sebagai negara yang kondusif seb­agai tujuan investasi berkat situasi ekonomi dan dukungan pemerin­tahan.

“Dalam beberapa tahun terakh­ir, Indonesia menjadi salah satu neg­ara dengan pertumbuhan kekuatan ekonomi dunia tercepat. Pemerin­tah Indonesia juga selalu berupaya menyempurnakan iklim investasi bagi investor asing dan menawar­kan kebijakan fasilitas penanaman modal,” ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini In­donesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan vaksin hewan. Adanya produksi vaksin flu burung dari BPA ini akan mengurangi impor yang dilakukan Indonesia.

“Vaksin hewan di Indonesia masih tergantung pada impor. Vak­sin flu burung kami telah memiliki reputasi yang sangat baik di Indone­sia,” ucap Tony.

Pabrik yang didirikannya ini nantinya tidak hanya akan me­masok vaksin di Indonesia saja, tapi untuk seluruh pasar ASEAN.

“Perusahaan akan memenuhi kebutuhan pasar ASEAN, terutama Indonesia,” pungkasnya.

Pabrik yang memproduksi vak­sin Avian Influenza (flu burung) dan vaksin Newcastle Disease ini akan menyerap sekitar 200 tenaga kerja pada tahap pertama mulai 2017.

Chairman Pharmally Interna­tional, Tony Huang, Tony Huang, berjanji akan menggunakan seban­yak-banyaknya tenaga kerja lokal. Dari pekerja sebanyak 210, hanya akan ada 10 tenaga kerja asing, si­sanya lokal.

“Untuk tahap pertama ada 10 orang tenaga kerja asing dan 200 tenaga kerja lokal,” ucap Tony.

Pekerja asing tersebut dibutuh­kan untuk posisi-posisi tertentu yang membutuhkan keahlian khu­sus, misalnya untuk penelitian dan pengembangan vaksin dan quality control.

“Tentu kita mengharapkan untuk semuanya pekerja lo­kal. Tapi untuk departemen lit­bang dan quality controlmasih ha­rus pakai expert dari China. Selain 2 departemen tadi, semuanya pakai pekerja lokal,» ujarnya.

Jumlah pekerja asing, sambung­nya, akan semakin dikurangi saat pengembangan pabrik di tahun 2020. Akan dilakukan pelatihan dan transfer teknologi pada pekerja In­donesia sehingga peran pekerja as­ing bisa makin dikurangi.

“Tahap kedia tahun 2020, tena­ga kerja asing akan makin sedikit, tinggal 3 sampai 4 orang. Tentu­nya akan ada pelatihan dan trans­fer teknologi. Semoga kerja sama ini bisa meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal,” pungkasnya.

Dijadwalkan proses pembangu­nan pabrik dan percobaan produksi akan selesai pada kuartal III 2017. Sementara kegiatan produksi akan dimulai pada kuartal IV 2017.

Untuk membangun pabrik vak­sin ini, total biaya investasi yang digelontorkan dalam 3 tahun ke depan mencapai US$ 100 juta atau setara Rp 1,3 triliun (dengan asumsi kurs dolar Rp 13.000).(*)

 

loading...