Home Nasional - Internasional Nasional Today  Darsiah Nenek Miskin Hidup di Gubuk Reot Dalam Hutan,Tak Pernah Tersentuh Program...

 Darsiah Nenek Miskin Hidup di Gubuk Reot Dalam Hutan,Tak Pernah Tersentuh Program Sakti Pemerintah 

0
117

Oleh : EGa (Kontributor Bogor Today di Pandeglang)

Enam bulan berada di Desa ini, baru kemarin tepatnya Rabu 24 Juli 2019 saya berjumpa dengan seorang Ibu yang luar biasa tangguhnya. Darsiah, nenek berusia 80 tahun itulah panggilan sehari-harinya.

Ibu Darsiah ini adalah salah satu warga di Kampung Cimuncang, RT 14/5, Desa Sudimanik, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Waktu itu, saya mencoba iseng sambil menghabiskan waktu menelusuri kampung tersebut sampai kehutan. Saya terheran – heran ternyata masih ada penduduk ditengah hutan meski hanya ada 3 rumah, salah satunya yakni milik ibu Darsiah.

Temen-teman pernah membayangkan tidak meninggalkan hingar bingarnya kota dan merasakan tinggal di berukuran 3×3 meter dan itupun udah sekaligus dapur. Tempat tidur dan dapur hanya terpaut sekat amben (bale – bali yang terbuat dari bambu, red). Asap dari tungku menyebar di ruangan sebesar kamar mandi bagi rumah orang kaya. Pernah terbayangkan? Mungkin tidak pernah.

Darsiah, sedang menunjukan isi rumahnya yang begitu jauh dari kata mewah. pakaian yang dikenakan dan perabotan yang terpampang di dinding rumah reotnya, bukti nyata bahwa negeri ini belum merdeka bagian masyarakat seperti Darsiah.

Tapi inilah kondisi rumah Ibu Darsiah WNI yang hidup di negeri surge (kata orang). Beliau seorang janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya sekitar 40 tahun yang lalu. Rumah reot berukuran mini itupun hanya terbuat dari bilik kayu dan atapnyapun tidak menggunakan genteng, serta belum ada listrik. Setiap malam beliau menggunakan lampu yang terbuat dari kaleng susu. Mati Listrik ataupun tidak, tidak ada bedanya bagi Darsiah.

“Baheulamah teu didieu imahna, rada belah ditu (Dulu rumahnya tidak disini, agak sebelah sana). Ieumah dipindahkeun ku warga, ja karunya ceunah hirup sorangan, ieu Imah digotong (Rumah ini dipindahkan oleh warga, karena saya hidup sendiri, ini rumah digotong sama waraga),” tutur Darsiah menggunakan bahasa sunda. Bahkan, tanah yang ditempatinya pun bukan miliknya, dia hanya pinjam pakai.

Perbincangan ini nyaris membuatku ingin menangis meraung-raung, kenapa Ibu seperti Ibu Darsiah ini dibiarkan saja, hidupnya perih, tinggal dirumah kecil, seukuran kamarku, tanpa listrik, tidak ada bedanya malam hari ketika mati listrik dan tidak.

Sungguh ironis memang, kekayaan alam yang begitu besar tidak dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia justru lebih banyak dinikmati asing, aseng, dan segelintir orang yang berada pada pusaran kekuasaan.

Rumah reot milik Darsiah berukuran 3 x 3 buktinyata bahwa program unggulan yang digaungkan pemerintah pusat tak pernah sampai pada tangan yang berhak, nyatanya masih ada rumah tidak layak huni di negeri yang kaya dan makmur.

Dalam mengatasi masalah kemiskinan, katanya pemerintah mempunyai program pemberian bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Indonesia Sehat (KIS), serta dana desa keman ?

Program Keluarga Harapan (PKH) yang digembor-gemborkan oleh Pemerintah, Apakah itu hanya untuk orang-orang berduit? Apakah itu hanya Untuk orang-orang yang masih kuat untuk mencari penghasilan? Apakah itu untuk orang-orang yang memiliki penghasilan tetap? Dimana adilnya?

Banyak masyarakat yang mengeluh terkait Program Pemerintah yang tak adil ini, mereka bertanya-tanya. “Mengapa? Mengapa yang mendapatkan malah orang-orang yang mempunyai penghasil besar setiap bulannya? dan kami. kami hanya gigit jari,” keluhnya.

Darsiah mengaku telah beberapa kali didatangi petugas entah darimana, dan memoto kondisi rumahnya. Nenek miskin itupun berharap ini malaikat yang menyerupai manusia yang diutus tuhan untuk merubah nasibnya. Bahkan ada pula yang mengaku wartawan yang melakukan peliputan. Namun hingga Indonesia ini telah rampung melakukan pemilihan presiden pun, keajaiban itu tak pernah datang, darsiah pun hanya bisa pasrah kepada Allah SWT.

Masih ingatkah dengan Hadist ini : “Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Wahai Penguasa, taukah kalian.

Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda : “Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad). (*)