BOGOR TODAY – Ditengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Rifki Alaydrus menyempatkan waktunya bukan hanya untuk sekadar mendengarkan aspirasi warga saja, melainkan menawarkan program yang tentunya dapat mendatangkan nilai ekonomis, program yang diusung politisi PAN itu yakni, program Kampung Juara. Program tersebut rencananya akan dimulai di wilayah Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Rifki mengatakan, program Kampung Juara itu untuk membangun sumber daya masyarakat dan juga untuk mengubah mindset warga dalam membangun kampungnya menjadi kampung mandiri.

“Jadi program Kampung juara ini ada nilai segi ekonominya dan anggaranya pun kita inginkan tidak tergantung terhadap anggaran pemerintah. Intinya saya ingin mengubah mindset masyarakat supaya kreatif yang bisa menghasilkan ekonomi kedepannya. Alhamdulillah, program yang saya tawarkan ini diterima baik oleh masyarakat,” katanya kepada wartawan.

Ia menyadari bahwa didapilnya yang memiliki 16 kelurahan itu keinginannya pasti berbeda-beda. Meski begitu, dirinya akan memulai dan menginginkan wilayah kelurahan Cilendek Barat ini sebagai percontohan bagi 16 kelurahan lainnya yang ada di Bogor Barat.

“Misalnya program kampung juara yang memiliki nilai ekonomis itu dengan budidaya ikan, kemudian kita latih cara pengemasanannya, pengolahannya hingga nanti dijual dan saya ingin wilayah Cilbar sebagai percontohan,” ujarnya.

Selain menawarkan program, dirinya mendapat masukan atau asprisasi warga soal permasalahan dilapangan, salah satunya soal bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19 yang sampai saat ini masih dikeluhkan oleh masyarakat karena belum merata.

“Saya mendapat informasi bahwa bansos ditahap kedua ini ada penambahan jumlah keluarga penerima manfaat dari 17 ribu menjadi 32 ribu KK. Sehingga pencairannya sedikit terlambat, karena mungkin ada evaluasi data dan saya coba jelaskan dan masyarakat pun mengerti. Cuma yang disesalkan masyarakat kenapa tidak merata, hanya itu saja,” kata Rifki.

Kemudian, ada juga aspirasi terkait RTLH, pembangunan jalan setapak dan penerangan jalan umum (PJU) yang sampai saat ini masih mati atau padam lantaran belum adanya perbaikan oleh instansi terkait.

“Rata-rata itu saja sih yang dikeluhkan warga dan yang paling utama soal bansos yang tidak merata,” pungkasnya. (Heri)