BOGOR TODAY – Selama lebih dari 9 tahun dua kakak beradik Galih dan Andrea anak kandung pilot senior Garuda Eko Prasetyo berjuang untuk bertemu sang ayah (Eko, red) namun tak kunjung bertemu.

Berbagai cara pun dilakukan kedua kakak beradik itu, bahkan Galih dan Andrea meminta sejumlah media menyampaikan pesan kepada ayah kandungnya. Permintaan itu dilakukan karena sang ayah, Eko yang berprofesi sebagai Captain Pilot maskapai Garuda, sulit ditemuinya sejak 2009 lalu.

“Semoga dengan pesan ini, papi mau bertemu dengan kami. Kami hanya ingin bertemu. Kami sudah besar sekarang,” kata Andrea kepada sejumlah wartawan.

Menurut gadis kelahiran 15 Oktober 2000 itu, sang ayah sangat sulit ditemui sejak menikah lagi. “Setiap kali dihubungi handphonnya, yang angkat cewe dan dibilang salah sambung dengan nada ketus. Nggak lama nomor saya diblokir,” keluh gadis pemilik nama lengkap Andrea Dyah Arga Shafira itu.

Sementara itu, menurut Galih sang kakak, berbagai cara untuk bertemu dengan sosok ayahnya itu sudah dilakukan. Namun, hingga kini, sang pilot senior itu belum juga memiliki nyali menemui darah dagingnya sendiri.

“Saya hanya ingin bertemu, tidak minta lebih. Sebagai anak ingin ketemu papa. Saya juga pengen papa tahu, ini anaknya sudah pada besar,” kata mahasiswa semester dua di Universitas Gunadarma itu.

Mantan istri Eko Prasetyo, Agung Dewi nibu kandung kedua kakak beradik itu mengaku terpaksa meminta bantuan pewarta di Bogor, lantaran perjuangannya mendapatkan hak dari mantan suaminya itu tengah diperkarakan istri Eko yang sekarang.

“Kami disebut pemeras, dan diberitakan di beberapa media online tanpa asas keberimbangan. padahal anaknya hanya ingin bertemu ayah kandungnya,” kata Dewi didampingi kuasa hukumnya, Rini Prihandayani.

Pihak Garuda, kata Dewi, juga tidak terketuk hatinya untuk sekedar mempertemukan ayah dan anak. “Sampai saat ini, upaya kami meminta difasilitasi oleh Garuda tidak pernah ditanggapi. Mereka menganggap ini masalah pribadi,” tandasnya.

Dewi juga telah melaporkan sang pilot ke Departemen Perlindungan Anak-Perempuan dan KPAI untuk dimediasi. “Setiap kali dipanggil, selalu yang datang pengacaranya,” kata mantan Pramugari Garuda itu.

Dia berharap, keinginan keras kedua anaknya untuk sekedar bertemu anaknya bisa segera terwujud. Soal gugatan nafkah 11 tahun 1 bulan yang belum dibayarkan pilot dengan jam terbang banyak, menjadi urusan yang dapat dinomorduakan.

“Waktu mereka kecil masih bisa saya alihkan perhatiannya ketika mereka ingin bertemu ayahnya. Sekarang mereka sudah besar dan penasaran dengan sosok ayahnya. Sejak 2009 mereka tidak pernah memperoleh haknya untuk bertemu,” pungkasnya. (Iman R Hakim)