foto-persib-bandung-vs-pbfc-piala-presiden-2015-ZULHAM-SIM_9821vBANDUNG, Today – Keberhasilan Persib Bandung menembus ba­bak semifinal Piala Presiden harus dibayar mahal.

Kerasnya pertandingan pada leg kedua babak perempat final memaksa enam pemain andalannya terancam tak bisa tampil di laga berikutnya.

Namun, Pelatih PERSIB Djadjang Nurdjaman tidak merisaukan hilang­nya enam pemain karena akumulasi kartu dan cedera pada babak semifi­nal Piala Presiden 2015.

Lima pemain yang dapat huku­man kartu adalah, Achmad Jufri­yanto, Ilija Spasojevic, Vladimir Vu­jovic, Hariono dan Zulham Zamrun. Sementara yang cedera adalah M Ridwan.

Djadjang mengaku masih mempu­nyai stok pemain yang dapat meng­gantikan peran enam pemain itu. Namun, Djadjang berharap ada pe­mutihan kartu pada babak semifinal, tidak hanya untuk laga final.

“Saya mengantisipasi jika pemu­tihan kartu baru dilakukan di laga final. Ia kehilangan 50 persen start­ing eleven tapi prinsipnya percaya dengan pemain-pemain lain. Mereka pasti bisa jaga performa tim,” kata pria yang karib disapa Djanur ini.

Djanur menambahkan, untuk mengganti peran pemain lini be­lakang, sudah ada, meskipun beber­apa di antaranya mengalami perge­seran posisi atau bukan pada posisi utama. Karena itu, jika tidak ada pemu­tihan pada semifinal, Djanur ber­harap, timnya dapat tampil tandang terlebih dahulu pada babak semifinal yang formatnya home and away.

Untuk mengantisipasi kemungki­nan terburuk, Djanur pun tidak mau menunggu lama. Meski baru melalui pertandingan super berat melawan PBFC, Sabtu (26/9/2015) lalu, para pemain sudah kembali digembleng sejak hari ini, Senin (28/9/2015).

“Persiapan sudah dimulai sejak hari ini sebagai antisipasi. Kami per­caya mereka (pemain pelapis,red) bisa membuat dan menjaga perfor­ma tim agar tetap stabil. Opsi pemain tengah banyak, depan ada, mungkim belakang ada pergeseran sedikit tapi biasa,” kata Djanur.

Djanur pun menyoroti lini per­tahanan yang ditinggalkan sekaligus dua bek intinya. Otak-atik peruba­han posisi pun akan direncanakan. Abdul Rahman menjadi opsi utama bermain reguler.

Selain itu, Tony Sucipto yang bi­asa bermain di bek kiri, kemungki­nan akan ditempatkan menjadi stop­er sebagai alternatif.

“Lini tengah masih banyak stok pemain kita, lini depan masih ada, lini belakang juga, paling kalau di belakang ada pergeseran posisi bi­asanya,” tukas Janur.

Ogah Tiru Cara Iwan

PSYCHOLOGICAL Warfare alias Psywar adalah hal lumrah dilakukan kedua kubu termasuk klub sepak bola yang saling beradu.

Namun di Indonesia, hal ini masih be­lum marak terjadi. Mungkin saja, karena menimbulkan perseteruan, sehingga cara ini dihindari oleh para pelatih.

Namun Pelatih Pusamania Borneo FC, Iwan Setiawan justru melontar­kan statmen berbumbu Psywar se­belum menghadapi Persib Bandung. Seperti apa dam­paknya?

Pelatih Persib, Djadjang Nurdja­man menilai, ucapan Iwan yang seo­lah menyepelekan dirinya itu, mem­buat tensi pertandingan menjadi memanas.

“Sebetulnya tambah ramai, buk­tinya kemarin sambutannya yang ke stadion banyak sekali, tensi pertand­ingan jadi tinggi,” jelas pelatih karib disapa Djanur ini.

Secara pribadi, Djanur ogah menggunakan cara yang dilakukan Iwan. “Tapi kembali kepada pelati­hnya sendiri, berani atau tidak bikin psywar begitu. Kalau saya sih tidak mau,” tegasnya.

Djanur mengatakan, selama dia menjadi seorang pemain maupun mengarsiteki tim di Tanah Air, baru kali ini mendapatkan psywar.

“Dan kesan masyarakatnya juga menjadi seperti itu, yang melontar­kan psywar jadi seolah sombong,” pungkasnya.

(Imam/net)

loading...