BOGOR TODAY – Menjalankan bisnis pasti ada saja yang namanya kegagalan. Namun dibalik kegagalan itu, harus menjadi motivasi untuk mencapai sebuah kesuksesan. Hal ini lah yang dialami dan dirasakan Arif Rahman warga Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, yang kini memulai bisnisnya dibidang perternakan yaitu budidaya cacing sutra organik.

Sebelum budidaya cacing sutra, Ia pernah menjalankan bisnis serupa dibidang peternakan yaitu budidaya ayam arab, kroto dan ikan patin. Disaat menjalankan bisnis budidaya ayam arab ia pernah merasakan sebuah kesuksesan, bahkan mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat kala itu masih dijabat Ahmad Heryawan.

Di bisnis ini tidak berjalan lama, lantaran ia mengalami kerugian yang cukup besar. Kata Arif, budidaya ayam arab membutuhkan biaya besar untuk membeli pakannya. Bukan itu saja, setiap penjualan telur-telur yang dihasilkan ayam arab tersebut dirugikan oleh tengkulak.

Hal serupa juga dialami ketika dirinya menjalankan bisnis budidaya ikan patin. Dia kembali dirugikan oleh tengkulak, dimana ketika ia menjualnya dengan harga murah sedangkan para tengkulak menjual ke yang lain dengan harga tinggi. Ditengah perjalanan, Ia bingung dan kesulitan mencari pakan untuk ikannya, dan disinilah Ia memulai untuk membudidaya cacing sutra organik.

Awalnya, budidaya cacing sutra itu hanya untuk pakan ikan patin miliknya. Namun, budidaya cacing sutra ini ternyata memiliki potensi besar karena banyak yang mencari. Apalagi, saat ini ikan hias sedang buming, di mana-mana orang mencari dan memelihara ikan tersebut, dan dia bisa memenuhi untuk pakannya.

Arif mengatakan, budidaya cacing sutra ini merupakan bisnis yang murah tapi menguntungkan. Sebab, untuk mencari bibitnya tidak usah membeli melainkan mencarinya di selokan, kemudian dipelihara hingga menghasilkan cacing-cacing berkualitas.

“Saya mulai budidaya cacing sutra ini pada Februari 2020 lalu dan selama 4 bulan berjalan, kami baru bisa mendapat penghasilan. Cacing-cacing yang kami ternak ini baru bisa dipanen sejak tiga minggu lalu dan berlanjut sampai sekarang,” kata Arif kepada BogorToday dilokasi budidaya cacing sutra, kemarin.

Kemudian, lanjut Arif, cacing-cacing tersebut ia jual Rp 25 ribu perliter dan penjualannya pun langsung ke pembeli sehingga tidak lagi ke para tengkulak. Dia mengaku, setiap hari bisa panen sebanyak 50 liter. Jika diakumulasikan, maka penghasilan bisa mencapai Rp 1 juta lebih.

“Awalnya saya baru bisa panen itu sehari baru 5 sampai 10 liter, tapi sekarang alhamdulillah bisa mencapai 50 liter. Kalau dihitung penghasilannya, ya lumayan lah bisa diatas Rp 1 juta. Tapi kalau omset perbulannya belum kami hitung, karena panennya juga baru tiga minggu,” ujar Arif yang juga Ketua Poktan Asyirah di Kelurahan Cikaret itu.

Melihat warganya yang inovatif dan kreatif, Lurah Cikaret, Saepudin mengaku bangga. Di sini, Ia bukan hanya melihat dari segi ekonomisnya saja tetapi dilihat dari kepedulian warga terhadap lingkungan. Sebab, dengan budidaya cacing bisa mengurangi sampah-sampah organik sebagai pakannya.

“Saya bangga ya, apalagi kan sekarang ini lagi buming ikan hias. Jadi para pecinta ikan hias bisa membelinya ke sini. Terus saya juga ngelihat ternyata pakan cacing ini bisa dari sampah-sampah organik,” katanya.

Bahkan, kata dia, budidaya cacing sutra ini akan dijadikan ikon baru yang ada di Cikaret. “Kalau saya lihat, budidaya cacing sutra di Kota Bogor ini baru di sini ya. Jadi, ini bisa menjadi ikon baru di kelurahan Cikaret untuk tingkat Kota Bogor bahkan tingkat nasional,” pungkasnya. (Heri)