Home Opini Today Gagal Kudeta

Gagal Kudeta

0
101

BILA membaca buku-buku bergenre “militer­isme”, tindakan/upaya kudeta hanya bisa dilakukan oleh pihak Militer. Polisi pun tak sanggup berbuat Kudeta. Keberhasilan kudeta tergantung 3 hal : logistik, penguasaan media dan dukungan negara adidaya. Dukungan neg­ara adidaya tidak gratis. Negara adidaya men­dukung karena motif politis. Demi jatah sumber daya energi dan aneka proyek infrastruktur. Bu­kan rahasia lagi, Amerika mendominasi penuh gunung emas di Irian jaya usai tergulingnya Sang ploklamator RI.

Di Mesir, Kudeta pertama kali terjadi pada tahun 1952. Kudeta tersebut menimpa raja Farouk. Kudeta yang cukup fenomenal juga menimpa Presiden Mohammad Mursy. Keber­hasilan militer mengkudeta Mohammad Mursy dikarenakan terpenuhinya 3 hal tadi. Amerika, Israel dan sekutunya menyambut baik naiknya Jenderal as-Sisi usai berhasil menggulingkan presiden Mursy. Bagaimana dengan upaya Ku­deta yang baru saja terjadi di Turki?

Mari kita bandingkan dengan kudeta 1965. Kita pakai teori mutakhir yang telah beredar se­lama ini. Bila zaman Orde baru, PKI jadi aktor satu satunya, maka usai runtuhnya rezim Orde baru, bermunculan versi yang nampaknya lebih masuk akal. Kolonel abdul Latief dan Peter Dale- Scott dengan tegas menyatakan “The Smilling general” sebagai dalang Kudeta 1965.

Mengutip penjelasan Dr. Asvi warman Adam (Ombak, 2006), Proses kudeta yang beliau laku­kan adalah “Kudeta merangkak” dan strate­gi Ngluruk tanpa Bala. Kudeta pertama diawali pada 30 september dan diakhiri dengan terbit­nya Supersemar.

Peristiwa kudeta 1965 di Indonesia dan ku­deta 2016 di Turki ada kesamaan. Diantaranya : 1. Dilakukan salah satu faksi militer Angkatan darat, 2. Aktivitas militer dalam bidang politik dibatasi 3. Kudeta tersebut menelan korban jiwa baik aparat dan warga sipil yang tak paham apa apa.

Lantas bagaimana perbedaan kedua upa­ya kudeta tersebut? Kudeta 1965 dilakukan merangkak dan berhasil. Diduga kuat, Negara adidaya melalui badan intelijen CIA-nya terlibat sehingga aktor/dalang dibalik itu bisa berkuasa 3 dekade lebih. Usai merebut kekuasaan, ia men­gawasi gerak gerik pers dan Korupsi berjamaah pula dengan kroni kroninya.

Kudeta tahun 1965 hanya bermodal penggir­ingan opini dan memperalat warga sipil untuk membantai pihak yang jadi kambing hitam. Se­mentara, Kudeta yang terjadi di Turki menggu­nakan kendaraan militer seperti Tank, helikop­ter dan pesawat F-16. Belum sempat faksi militer di Turki memperalat bahkan memprovokasi warga sipil.

Pada akhirnya, Kudeta di Turki dipastikan gagal. Mengapa kudeta disana gagal total? Ada 2 faktor: pertama, faksi militer yang melakukan kudeta belum sanggup merebut obyek vital di Turki seperti istana Kepresidenan, bandara, sta­siun TV nasional dll.

Kedua, militer yang melakukan kudeta ti­dak mendapat moment yang tepat. Moment dimana jutaan rakyat Turki masih mempercayai leadership Reccep Tayeb Erdogan. Berbeda saat menjelang tahun 1965, dimana kala itu, rakyat Indonesia muak dengan kondisi Negara dibawah kepemimpinan Sang ploklamator. Keti­ga, Negara asing tidak ada yang sepakat dengan upaya kudeta tersebut. Baik Uni eropa, Amerika maupun Arab Saudi.

Dalam siaran “Breaking news” yang tayang di Euronews, BBC, France24 dan CNN terli­hat ribuan rakyat mencegah tank tank dan truk militer. Mereka berpihak dan bersimpati kepada Erdogan. Karena bersimpati, mereka tidak bisa diperalat melakukan pembantaian brutal sep­erti rentetan peristiwa 1965 s/d 1966.

Pasca kudeta yang gagal, presiden Erdogan memberi pernyataan dihadapan rakyatnya, diku­tip dari Euronews: “This is a betrayal movement and they will pay a high price for their actions. We will not tolerate attempts to undermine our De­mocracy”. Artinya : ini adalah gerakan pengkhi­anatan (kudeta) dan mereka akan membayarnya dengan harga yang mahal atas aksi mereka. Kami tak akan mentolelir percobaan kudeta ini karena merusak demokrasi kita.(*)