Untitled-11BOGOR TODAY – Lawang (Ger­bang) Suryakancana kemarin diresmikan. Simbol Kota Pu­saka ini diresmikan dengan tabuhan tambur dari Walikota Bogor Bima Arya dan Warga Kehormatan, Syamsul Djalal. Ada pelepasan burung Pipit juga yang membuat semarak launching Lawang Suryakan­cana yang menjadi kawasan Pecinan ini.

Warna merah terlihat men­dominasi Lawang Suryakan­cana. Lawang dengan ciri khas budaya Tionghoa ini jika ditilik lebih detail memadukan juga unsur budaya Sunda dan ko­lonial Belanda. Budaya Sunda bisa terlihat dari sepasang pa­tung Maung berwarna hitam dan putih. Padahal dalam ke­budayaan tiongkok penjaga se­buah lawang haruslah patung Singa.

Disinilah nampak keber­agaman dari Lawang Suryakan­cana yang walaupun bernuan­sa Tionghoa tetap mengangkat unsur Sunda berupa sim­bol penjaga diganti menjadi maung. Maung putih diarti­kan sebagai betina sementara maung hitam diartikan jantan yang membuat sebuah kes­eimbangan sekaligus penghor­matan kepada karuhun Sunda. Ditambah lagi penamaan Day­euh Bogor dibawah tulisan Lawang Suryakancana me­wakili suku Sunda, sedangkan penamaan nama Buitenzorg diatas tulisan Dayeuh Bogor mewakili bahasa Belanda.

Melihat jauh ke atas atap Lawang Suryakancana, akan terlihat Kujang yang memang simbol dari Kota Bogor. Kujang setinggi 112 cm dengan bagian runcingnya sengaja diarahkan ke arah Kebun Raya Bogor sesuai pintu masuk lawang, karena Kujang juga diibarat­kan sebagai penjaga Lawang Suryakancana.

“Memang belum ada tu­lisan namanya, tapi dari pihak vihara menamakannya Taman Bambu Suryakancana. Tinggal nanti jika walikota berkenan untuk bisa meresmikannya,” ujar Tokoh Budaya Tionghoa Bogor, Mardi Lim, kemarin.

Mardi juga mengaku, dirin­ya mengetahui dengan jelas sejarah Suryakencana yang sudah menjadi kawasan bagi keturunan Tionghoa sejak ja­man Belanda. Hadirnya warga Tionghoa pada jaman Belanda diawali saat Belanda memin­dahkan pusat kekuasaan poli­tiknya di Bogor. Belanda pun membangun istana yang ten­tunya harus didukung dengan pembangunan infrastruktur penunjang ekonomi.

Daerah yang memang dekat dengan Kebun Raya Bo­gor membuat Suryakancana dipilih sebagai pusat ekonomi. Dimana, Belanda memercay­akannya kepada orang-orang Tionghoa sebagai penggerak ekonomi. Sementara, pribumi yakni sunda direkayasa untuk keluar dari kawasan sungai karena dikhawatirkan ada sen­timen negatif terhadap Belan­da dan melakukan pemberon­takan.

Mardi Lim menuturkan, kawasan Suryakencana ini memang dibentuk oleh Kolo­nial Belanda. Namun, setelah Belanda hengkang kawasan ini kembali dengan percam­puran berbagai etnis tidak lagi hanya Tionghoa saja. “Lawang Suryakancana ini jadi momen­tum titik awal perjalanan se­jarah Kota Bogor untuk sama-sama menggalangkan kearifan lokalnya sebagai Kota Pusaka,” pungkas Mardi.

(Dina| Abdul Kadir Basalamah)