BOGOR TODAY – Pada umumnya alat musik dawai adalah berbahan dasar kayu. Namun hal tersebut membuat pengikisan terhadap produksi kayu yang ada di hutan.

Berbeda dengan Bengkel Alat Musik Bambu (BAMB) yang berada di kawasan Gang Masjid, Cilendek Timur, Kecamatan Bogor Barat. Mereka berhasil menyulap lembaran bambu menjadi deretan alat musik tradisional hingga nontradisional, seperti, gitar akustik, selo, kecapi, hingga bedug.

Bangunan yang memiliki dua lantai ini berfungsi sebagai rumah produksi berbagai macam alat musik, hingga workshop. BAMB sendiri berdiri di bawah naungan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) yang sudah terbentuk sejak 2002 silam. LPSN, lembaga nonprofit yang fokus pada pendidikan kesenian.

Satu unit gitar dibanderol setara dengan kualitas gitar yang dihasilkan, yakni Rp 7 hingga 15 juta rupiah dengan pengerjaan selama satu bulan ini mampu dipasarkan hingga menembus ke pasar Mancanegara, seperti Amerika Serikat dan Jepang.

“Karena dahulu kami sering membuat pelatihan guru-guru seni dan budaya dengan salah satu mata pelajaran yaitu dawai jadi kita mencoba untuk membuat gitar seadanya, yaitu dengan bambu yang dipotong sedikit lalu dipasang senar. Kemudian lama-lam terpikir untuk membuat gitar sebenarnya,” papar Faisal yang merupakan Design dan Instruktur LPSN, kepada bogor-today.com.

Menurutnya, bambu yang digunakan untuk pembuatan alat musik didominasi dengan jenis bambu betung, surat dan bambu hitam. Sebelum menjadi lembaran bambu siap produksi, bambu terlebih dahulu melalui proses perendaman selama satu tahun, dan dilakukan pengeringan secara alami selama enam bulan. Proses yang panjang itu, menghasilkan suara yang bagus dengan daya tahan lama.

“Semakin lama proses, maka kualitas suara yang dihasilkan semakin panjang,” ujar Faisal.

Masing-masing bambu yang digunakan, sambung Faisal, memiliki kelebihan dan kekurangannya, namun untuk saat ini lebih banyak memakai bambu betung.

“Kalau bambu hitam dia lebih empuk dan bulirnya lebih kasar, ketika bulirnya kecabut satu itu parah, cuma kendalanya ruasnya tidak ada yg panjang, ada buku-bukunya di soundboard itu sangat kita hindari karena kurang lentur,” tukasnya. (Bambang Supriyadi)