CIBINONG TODAY – Hampir satu pekan pasca pemindahan Sayid Bahar bin Ali bin Smith atau lebih akrab disapa Habib Bahar bin Smith dari Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor ke Lapas Kelas I Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, arus protes terus mengalir dari sejumlah pendukungnya. Termasuk keluarga.

Menyikapi hal itu, pendiri Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin Pabuaran, Kemang, Kabupaten Bogor ini mengungkapkan kondisi terkini tentang dirinya pasca dipindahkan ke Nusakambangan.

Dengan memakai kaos merah yang diduga seragam lapas dan ikat kepala dengan warna senada, pernyataan itu ia sampaikan dalam bentuk video dengan durasi 04:36 dan beredar luas di media sosial facebook.

“Terhadap keluarga, murid saya dan masyarakat indonesia bahwa sejak penangkapan kembali di pesantren dan dibawa ke lapas Gunung Sindur hingga dipindahkan ke Nusakambangan, saya dalam keadaan sehat, alhamdulilah dan diperlakukan dengan baik sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP),” ungkap pria kelahiran Manado 34 silam tersebut, Senin (25/5/2020).

Disamping itu, suami dari Fadlun Faisal Balghoits ini mengakui bahwa petugas, baik yang berada di lapas Gunung Sindur maupun di Nusakambangan melayani dirinya dengan semestinya. Bahkan ia pun menepis kabar dirinya mengalami tindak kekerasan (dipukuli, red).

“Keluarga juga tahu saya orangnya seperti apa. Saya orangnya ibarat bola karet, jika semakin ditekan bukan semakin merunduk akan tetapi akan semakin menjadi (berontak) dan saya juga sebagai warga binan yang patuh ketika petugas memperlakukan dengan baik saya pun akan demikian,” katanya.

Setiap warga binaan baru, ia harus rela memotong rambutnya tanpa paksaan siapapun. Hal itu menurutnya sudah peraturan yang berlaku di lapas Nusakambangan.

Bahar pun meminta kepada keluarganya untuk tidak mengkhawatirkan penyakit yang dideritanya. “Kepada keluarga bahwa khususnya ummi dan istri
jangan mengkhawatirkan penyakit (lambung) saya dan alhamdulillah sampai sekarang petugas yang ada di Lapas Batu ini sangat melayani dengan baik,” pintanya.

Dan tak kalah penting, Baharpun meminta kepada seluruh umat Islam serta murid-muridnya dengan ketiadaan dirinya di pondok pesantren tidak menyurutkan semangat untuk terus membela agama, bangsa dan negara.

“Ingat wasiat saya, sir wala taqif,
maju terus jangan pernah mundur membela agama,” tutupnya. (Bambang Supriyadi).