BOGOR TODAY – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Bupati Bogor, Ade Yasin dan juga jajaran kepolisian resor Bogor.
Suami dari Bupati Bogor, Ade Yasin, yakni Yanwar Permadi bin Muhammad Salim meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi, Kabupaten Bogor, Kamis (24/9/2020) dini hari.

Almarhum diketahui merupakan anggota kepolisian Resor Bogor (Polres Bogor) dengan pangkat terakhir ajun inspektur satu (Aiptu). Selama 25 tahun almarhum mengabdi sebagai anggota Polri dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pondok Rajeg, Cibinong.

Saepudin Muchtar atau lebih akrab disapa Gus Udin menceritakan bahwa almarhum sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Siloam dan sudah dikatakan membaik. Namun setelah sesampainya dikediamannya, almarhum sempat meminta kepada istri (Ade Yasin) untuk beristirahat di suatu vila.

“Awalnya memang mau di bawa ke suatu vila untuk menenangkan diri dan menginginkan adanya nuansa berbeda tapi tetap beliau ingin beristirahat di Pullman. Dan akhirnya sekitar pukul 11 malam ketika saya datang kondisi almarhum tampak mulai menurun kesehatannya dan jam 11.45 itu kondisinya sudah terlhat drop, pernapasannya pun sudah terlihat sulit meski telah dibantu dengan oksigen saat itu,” jelas Gus Udin kepada wartawan, Kamis (23/9/2020).

Tak berselang lama, sambung Gus Udin sekitar pukul 12.30 WIB datang tim medis dari Rumah Sakit Ciawi untuk mengevakuasi almarhum. Setelah mendapatkan tindakan pukul 00.40 WIB almarhum sudah menghembuskan nafas terakhir.

“Beliau (Bupati) sebenarnya sudah membimbing di saat-saat kritis. Itu sudah ngaji bersama, membimbing tahlil dan juga memang dalam posisi itu betul-betul membimbing suami termasuk ketika kami belum datang,” sambungnya.

Sementara itu, Adik Ade Yasin, Zaenul Mutaqin di lokasi pemakaman mengatakan, selama bertugas 25 tahun di kepolisian almarhum tanpa cacat. Ia dikenal baik. Hal itu dibuktikan saat meninggal, beliau mendapatkan tanda jasa sebagai pengambdian,” kata Zaenul yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kota Bogor Komisi III.

Kata dia, berdasarkan ketentuan itu. Masa tugas dan mendapatkan tanda jasa. Almahum Aiptu Yanwar diperkenankan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Pondok Rajeg.

Namun demikian, informasi didperoleh diduga almarhum meninggal karena riwayat penyakit kanker paru-paru. Bahkan pada 2018 sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. 

Sebab beberapa waktu lalu, Ade Yasin sempat mengenang saat-saat genting di kehidupannya antara keluarga dan karir politiknya di masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018. Saat itu, sang suami, Yanwar Permadi sempat dirawat karena divonis dokter menderita kanker paru-paru stadium 4B.

Bahkan saat itu, sang suami sempat dirawat selama satu bulan di salah satu rumah sakit di China. Dalam kesempatan itulah, Ade memiliki sikap optimis dan kerap memberikan motivasi untuk sang suami, meski hati sebagai sang istri tak bisa pungkiri hatinya bersedih.

Pada situasi demikianlah, Ade dibuat bimbang karena dalam kesempatan yang sama peraturangan di Pilkada 2018 sedang memasuki proses gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Saat itu, saya tidak peduli di sini (Bogor, Red) sedang digugat atau hasil Pilkadanya dibawa ke MK (Mahkamah Konstitusi). Saya tidak peduli. Selain suami saya, tidak ada yang penting,” kenang Ade, beberapa waku lalu.

Sebulan kemudian, almarhum sempat dinyatakan sembuh, namun harus menjalani kontrol setiap dua pekan sekali. Waktu terus berjalan, sang suami pun sembuh dan terus mendampinginya dalam setiap kegiatan sebagai orang nomor satu di Kabupaten Bogor.

Namun tak disangka, Kamis 24 September 2020, sang suami malah berpulang. Padahal Ade sempat memberikan motivasi kepada penderita kanker, terkait pengalamannya itu.

Disisi lain, Ade mengatakan terdapat dua hal yang paling penting dilakukan terhadap keluarga, saudara, maupun kerabat yang mengidap kanker. Pertama adalah motivasi yang berkesinambungan.

“Kalau ini (motivasi) tidak ada, obat secanggih apapun tidak mungkin bisa menyembuhkan. Tapi ketika kita memberikan semangat hidup, itu menjadi penting,” ujarnya.

Poin kedua ialah berserah diri kepada Tuhan, dan memercayakan pengobatan kepada dokter. “Karena, namanya kanker itu mau serang otak, payudara, atau paru-paru, rasanya sama. apalagi yang mengalami kemoterapi, itu rasanya sakit,” imbuhnya. (Bambang Supriyadi)