Untitled-16POLRES Bekasi Kota masih menyelidiki kasus beras plastik yang dioplos dengan beras asli. Polisi membawa sampel beras berbahaya itu ke laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Laboratorium Polri.

IMAM BACHTIAR|YUSKA APITYA
[email protected]

Tidak hanya ke BPOM, kami juga ingin mengetahui dan dibawa ke laboratorium Dinas Pertanian dan dibawa ke laboratorium pangan IPB bogor, baik berupa bubur atau nasi dari beras pelapor yang menurut pelapor berbeda dari biasanya. Keduanya kita jadikan barang bukti,” kata Kapolres Bekasi Kota Kombes Pol Rudi Setiawan di kantornya, Jalan Pramuka, Bekasi, Kamis (21/5/2015).  Hingga tadi malam, beras bercampur plastik yang dikirim polisi Bekasi Kota itu, masih diteliti di laboratorium IPB. ‘’IPB masih melakukan uji sampel, masih dalam uji lab. Hasilnya akn segera dipublikasikan,’’ kata staf Humas IPB, Waluyo, Kamis (21/5/2015).

Maraknya pemberitaan mengenai temuan beras sintetis yang diduga berbahan plastik cukup membuat warga resah. Namun ternyata tak semua beras sintetis mengandung bahan yang berbahaya.
Institut Pertanian Bogor (IPB) pernah membuat beras sintetis atau dalam dunia penelitian lebih dikenal dengan nama beras analog. Beras tersebut merupakan salah satu produk diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan tepung terigu.
Guru Besar Ilmu Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Fransiska Rungkat Zakaria, mengatakan, beras analog tersebut masih berbahan dasar alami. Beras itu menggunakan bahan dasar singkong, tepung sagu, janggung, umbi-umbian, dan beberapa sumber karbohidrat lain. “Jika dibandingkan beras padi, sumber karbohidrat dan gizi yang terkandung di dalam beras analog tidak jauh berbeda,” ungkap Fansiska.
Lebih lanjut ia menerangkan, bahan baku yang digunakan untuk membuat beras analog memiliki kandungan indeks glikemik atau kandungan glukosa yang lebih rendah dibandingkan beras padi.
Artinya, dengan mengonsumsi beras analog, kondisi kesehatan para penderita diabetes melitus diharapkan lebih stabil dan terjaga karena pada umumnya beras analog terbuat dari bahan baku yang rendah kadar indeks glikemiknya. “Permasalahan harga jual masih menjadi kendala, padahal beras analog diharapkan menjadi salah satu diversifikasi pangan untuk mengurangi kebergantungan angka impor beras dalam negeri,” kata Fransiska yang kini menjabat Anggota Komisi I Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Terpisah, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Sutrisno Mardja, memaparkan, sejauh ini teknologi pangan terkait disertifikasi pangan sudah lama dikembangkan. Jenis bahan pangan alternatif, seperti singkong, ubi jalar, jagung, kentang banyak ditemui dan mudah diproduksi di dalam negeri. Namun, permasalahan ada ketika masyarakat sudah terus tergantung pada nasi. “Ini merupakan momen, dimana peran pemerintah untuk mendorong masyarakat mau memakan bahan makanan lain selain nasi,” katanya di sela diskusi ketahanan pangan di Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor, Kamis (21/5/2015).
Sutrisno menduga, bila beras plastik masuk ke Indonesia diselundupkan melalui pulau-pulau terluar bukan melalui pelabuhan resmi. Di pulau terluar ini, yang mungkin lengah pengawasannya,” tambahnya.
Sementara itu, sejumlah warga Kabupaten Bogor diduga mengkonsumsi beras sintetis yang berbahan plastik. Kecurigaan warga bahwa beras yang dikonsumsinya mengandung beras plastik karena saat dimakan, menempel di mulut dan terdapat sisa butiran plastik.
Adanya dugaan beredarnya beras sintetis dialami sejumlah warga Desa Parung, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Desi Musyidah (36) warga Kampung Jati RT 3/4, Desa Parung, Kacamatan Parung mengaku telah membeli beras yang diduga dicampur dengan beras sintetis. Kecurigaan Desi karena setelah dimasak dan dikonsumsi, merasakan ada sisa plastik menempel di mulutnya. “Awalnya, anak saya yang makan mengeluh seperti menelan plastik. Saat diperiksa, ternyata nasinya ada seperti lem menggumpal warna putih,” kata Desi, Kamis (21/5/2015) kemarin.

Saat berasnya diperiksa, Desi menemukan ada butiran beras yang warnanya sedikit berbeda dengan beras asli.”Kalau beras asli kan warnanya putih pekat, tapi ada beberapa butir beras yang putihnya mengkilap dan agak transparan,” katanya.
Dia belum bisa memastikan apakah butiran beras yang warnanya sedikit mengkilap itu adalah beras sintetis.”Berasnya enggak saya masak lagi. Tadi siang, orang kecamatan sudah datang kesini, ngambil contoh berasnya,” ujarnya.
Wawan Kuswandi, Kasie Ekonomi Kecamatan Parung mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan warga dan langsung mengambil contoh beras yang diduga sintetis itu guna diteliti lebih lanjut. “Dari beras contoh yang kami ambil, secara kasat mata sangat sulit untuk dibedakan,” katanya.
Sejauh ini, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menyimpulkan apakah beras yang dikonsumsi warga sintetis atau asli. “Harus ada uji laboratorium dulu. Tapi, kita sudah menghimbau agar warga untuk waspada dan berhati-hati saat membeli beras,” katanya

Ditreskrimsus Polda Jabar mengendus kabar beras plastik (sintesis) dipasok dari Kabupaten Karawang. Tim khusus Polda Jabar saat ini memfokuskan penyelidikan ke sejumlah distributor beras di wilayah itu.
Direktur reskrimsus Polda Jabar Kombes Pol Denny Wirdhan mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kepolisian di Kabupaten Karawang, terkait penyelidikan itu. Namun sejauh ini petugas belum menemukan tempat pemasok dan produksi beras sintetis tersebut di Karawang.
Walau belum ditemukan, Direskrimsus masih terus melakukan pendalaman terkait informasi tempat atau rumah produksi pembuatan beras sintetis itu. “Intinya kami terus melakukan penyelidikan dan masih fokus di Kabupaten Karawang untuk menelusuri tempat produksi beras sintesis ini,” kata Wirdhan.
Terkait temuan beras sintetis di Pasar Tanah Merah, Mutiara Gading, Mustikajaya, Kota Bekasi, pada selasa (19/5) lalu, Polda Jabar melakukan antisipasi. “Kami menindaklanjuti temuan beras sintesis di Bekasi ter utama untuk menelusuri penye barannya di wilayah Jawa Barat. Namun sejauh ini belum ada,” ujar dia.

Kapolda Jabar Irjen Pol M Iriawan memastikan, jajarannya akan mengungkap kasus berassistetis. Polda Jabar menurunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan sebagai tindakan represif terhadap para pedagang yang menjual berassintetis. “Kasus beras sinetis ini akan kami ungkap,” kata Iria wan di Mapolres Cimahi, kemarin.
Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar menghimbau masyarakat tidak panik menghadapi peredaran beras tiruan. Meskipun sudah ditemukan di Bekasi, tapi belum ada keterangan positif dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). “Sampel beras dari Bekasi su dah dibawa Badan POM. Kami masih menunggu hasil uji laboratoriumnya. Kami harap pedagang dan masyarakat tidak resah,” kata Kepala Disperindag Jabar Ferry Sofwan Arief, kemarin.

Kepala Dinas Pertanian dan Katahanan Pangan Kota Bandung (Distan KP) Elly Wasliah mengatakan, di Kota Bandung tidak pernah ditemukan adanya peredaran beras sintetis. Hal ini berdasarkan peme riksaan rutin yang dilakukan oleh Distan KP. Untuk memastikan Kota Bandung aman dari peredaran beras sintetis, Distan KP akan meningkatkan pengawasan ter utama di pasar-pasar yang men jual bahan kebutuhan pokok. “Minggu kemarin baru dilaksanakan pemeriksaan rutin ke lapangan oleh bidang mutu. Itu masih aman dan tidak di temukan beras plastik di Kota Ban dung,” kata Elly.
Elly mengimbau masyarakat waspada dan teliti saat membeli. “Harga beras sintetis yang dijual di Bekasi itu kan Rp8.000 per kilo, setara dengan medium dua. Masyarakat jangan tergiur dengan harga murah,” tandasnya. (*)