Oleh : Bambang Supriyadi (Reporter TODAY TV)

Malam itu saya hanya bisa pasrah usai mendapat kabar soal Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto divonis Covid-19. Pasalnya, satu hari sebelum dikabarkan terpapar, Rudy sempat menghadiri forum Ruang Jurnalisme Kelompok Wartawan (rujukan) DPRD Kabupaten Bogor pada Kamis 24 September 2020.

Dan di saat yang sama saya bersama rekan lainnya melakukan wawancara dengannya terkait isu yang cukup mencuat, bahkan menjadi gejolak di masyarat, yakni soal sanksi borgol yang dilakukan oknum petugas Satpol PP kepada pelanggar yang tak mengabaikan protokol kesehatan.

Saat itu perasaan campur aduk, panik hingga badan sedikit gemetar. Demi memastikan kembali beliau terpapar, saya menanyakan hal itu kepada rekan-rekan se-profesi, tapi tak ada satu pun seluler mereka yang aktif, karena memang saat itu sudah tengah malam.

Hingga pukul 00.45 WIB, mata ini belum juga mengajak untuk beristirahat, gelisah tak terabaikan. Namun, entah pukul berapa kedua mata sudah mulai lelah karena kupaksa membaca beberapa artikel di internet.

Entah kenapa, tiba-tiba dengan reflek badan ini mengajak untuk bangun, padahal matahari belum menampakan wujudnya. Sekilas alat penunjuk waktu itu masih berada di angka 4.30 WIB. Kucoba untuk kembali memejamkan mata, tapi tetap tak bisa.

Sambil menunggu pagi, saya pun menyibukkan diri dengan beragam aktivitas. Hingga akhirnya jam berwarna pink yang tergantung di atas pintu menunjukan pukul 7.45 WIB diiringi mentari yang masih malu-malu untuk menampakan wujudnya.

Saya pikir, dengan bergantinya hari ingatan akan hal itu akan sirna, tetapi tidak. Kabar itu masih menempel dalam memori.

Oh iya, soal kabar itu, saya terpaksa merahasiakan kepada istri. Dengan alasan agar dia tak ikut panik jika mengetahui saya sempat berinteraksi dengan pasien yang divonis Covid-19. Namun, lambat laun ia menaruh curiga karena sikap saya yang tak seperti biasa. Saat itu lebih banyak diam dan melamun. Namun saya masih tetap merahasiakannya.

Seiring berjalannya waktu, sekitar pukul 10.22 WIB saya dikagetkan dengan dering telephone yang menginformasikan bahwa akan adanya pelaksanaan Rapid test di DPRD Kabupaten Bogor. Tak pikir panjang saya pun bergegas hingga tak sempat sarapan, bahkan kopi yang baru saja saya buat pun terpaksa dicampakan. Sepeda motor berwarna hitam dipadu merah yang selalu disimpan di ruang tamu pun langsung dilakukan pemanasan mesin.

Melihat saya tergesa-gesa, istri pun heran, “Mau kemana,” tanya dia. Saya hanya jawab singkat, karena ini kesempatsn untuk mengetahui kondisi saya saat itu, apakah terpapar atau tidak, “Mau Rapid tes di Cibinong, soalnya Ketua DPRD positif,” terang saya.

Mendengar jawaban itu, istri pun terkejut, raut mukanya tampak panik. Beberapa pertanyaan juga ia lontarkan mendesak saya untuk bercerita soal itu, bahkan ia pun sempat memberikan pesan soal protokol kesehatan yang selama ini saya abaikan. Hanya salam dari jauh saya pun langsung tancap gas bertolak menuju lokasi.

Sesampainya di lokasi, kurang lebih 20 orang rekan-rekan yang mengikuti giat forum Ruang Jurnalisme Kelompok Wartawan (rujukan) dan beberapa petugas dari Dinas Kesehatan, Kabupaten Bogor sudah tiba terlebih dahulu lengkap dengan Alat Pelindung Diri (APD) dan beberapa peralatan Rapid test sudah disusun rapi di atas meja.

Rasa tak sabar ingin mengetahui kondisi saya lebih dalam lagi, hingga akhirnya kepanikan itu memuncak, keringat mulai terasa mengucur dari dahi yang tertutup topi hitam saya. Sesekali saya mengusapnya dengan masker yang saya gunakan.

Satu persatu, nama-nama itu dipanggil petugas, hingga akhirnya nama saya disebutkan. Saat berhadapan dengan petugas rasa panik itu belum hilang, malah semakin memuncak. Tak sampai lima menit darah saya pun ditaruh dalam alat pendeteksi yang entah apa namanya.
“Tunggu lima belas menit ya,” perintah petugas.

Sambil menunggu hasilnya, saya coba menenangkan diri dengan membakar satu batang rokok dan meminum segelas air mineral yang sengaja disediakan di lokasi. Tepat lima belas menit kemudian alat pendeteksi berwarna putih tersebut mulai dijejerkan di atas meja. Dengan sigap mata saya mencari acak alat yang bertuliskan nama pribadi.

Kuraih dengan cepat, namun saat itu saya masih belum mengerti dengan hasilnya. Dalam alat itu tertera tiga kode berbentuk huruf, C, G dan M. Sedangkan darah saya tepat berada di posisi huruf C, “Kalau darahnya berhenti di huruf C tandanya apa pak?,” tanyaku pada petugas, “C tandanya non-reaktif,” jawab petugas sambil melanjutkan test kepada rekan-rekan yang lain.

Melihat hasilnya non-reaktif, rasa syukur yang amat dalam saya ucapkan. Bahkan saya pun mencoba mengabadikan hasil itu dengan ponsel saya dan langsung memamerkan di status WhatsApp. (*)