JAKARTA TODAY– Cerita beratnya perjuangan hidup kembali datang dari Dusun Bulung, Desa Tonro Lima, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar. Warga setempat bernama Raden (40 tahun), yang diketahui mengalami kebutaan pada matanya, sejak empat tahun terakhir diketahui menggantungkan hidup sebagai pengupas kulit buah kelapa.

“Memang salah satu mata saya sama sekali sudah tidak bisa melihat apa-apa, tapi yang satunya masih bisa melihat namun samar-samar, kadang kalau kena cahaya yang sangat terang tiba-tiba semuanya terlihat putih, makanya saya harus pakai kacamata hitam,” kata Raden saaat dijumpai wartawan di rumahnya beberapa waktu lalu.

Dijelaskan Raden, kondisi kedua matanya yang tidak lagi berfungsi secara normal, berawal dari penyakit Tipes yang dideritanya beberapa tahun lalu. Lagi-lagi karena alasan kemiskinan, mengakibatkan penyakit yang diderita Raden tidak tersentuh perawatan medis, hingga sempat membuatnya terbaring selama satu setengah tahun, dengan perawatan seadanya di gubuk miliknya yang hanya berukuran tiga kali lima meter saja.

“Setelah sembuh, saya sempat bingung dan putus asa lantaran tidak lagi bisa bekerja seperti biasanya, namun karena hidup harus terus dijalani, saya sadar tidak akan bisa mendapatkan apa-apa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari jika hanya berdiam diri saja di rumah, sejak saat itu saya mulai mencoba melakukan pekerjaan mengupas kulit buah kelapa, walau dengan kondisi kedua mata yang tidak lagi berfungsi secara normal,” ungkapnya sembari membernarkan kacamata hitam yang dipakainya.

Diakui Raden, tidak mudah baginya untuk memulai pekerjaan baru dengan kondisi kedua mata yang tidak berfungsi secara normal.

“Tidak hanya terjatuh saat melewati jembatan dan menabrak sepeda motor yang terparkir di depan, tidak jarang tangan saya juga harus terluka akibat sayatan alat pengupas kuliat buah kelapa,” ujar Raden sembari menunjukkan beberapa bekas luka di tangannya.

Dikutip dari Detik.com, dari hasil bekerja sebagai pengupas kulit buah kelapa, Raden mengaku mendapat upah sebanyak 100 rupiah untuk setiap buah kelapa.

“Dalam sehari saya hanya mampu mengupas 100 buah kelapa, kadang juga saya bekerja sebagai passisi (pengupas daging buah kelapa), dengan upah 12 ribu rupiah perkarung,” katanya.

Kendati hasil dari pekerjaan yang dilakoninya sedikit dan tidak terus menerus, Raden tetap bersyukur karena masih dapat berbuat untuk memenuhi kebutuhan hari-harinya, tanpa harus berharap belas kasih dari orang lain,

“Ya Alahmadulillah Pak, setidaknya Tuhan masih member jalan agar saya bisa terus bekerja, kalau lagi tidak ada kelapa, apa saja saya lakukan, membantu warga asal ada sedikit buat makan,” pungkas Raden sembari tersenyum.

Sehari-hari, Raden tinggal sendiri di rumahnya. Meski pernah memiliki seorang istri namun Raden tidak dikaruniai anak. Ironis, setelah sembuh dari penyakit tipes yang dideritanya dan mengetahui kedua matanya tidak lagi berfungsi secara normal, sang istri justru pergi meninggalkannya.

Beruntung, Raden masih memiliki sanak keluarga dan tetangga yang selalu memberikan perhatian, kendati kondisi mereka juga pas-pasan.(net)

loading...