BOGOR TODAY – Dengan berbagai pertimbangan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memutuskan untuk memulai fase pra Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau new Normal. Hal tersebut mengingat masa PSBB transisi proporsional di Kota Bogor berakhir hari ini (2/7).

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, fase Pra AKb ini kemungkinan dimulai pada 3 Juli 2020 hingga satu bulan. Dalam fase ini, PSBB yang diterapkan berbeda dan belum full AKB, karena ada beberapa yang akan dibuka dan diizinkan beroperasu tetapi masih banyak yang perlu waktu.

“PSBB proporsional di masa transisi berakhir tepat hari ini. Sementara itu, mulai 3 Juli 2020, insyaallah Kota Bogor akan memasuki fase pra AKB. Jadi ini PSBB yang berbeda, tetapi juga belum dikatakan full AKB. Karena ada beberapa yang akan kita buka, izinkan beroperasi, tetapi masih banyak yang perlu waktu. Jadi kita namakan ini adalah fase pra AKB selama satu bulan penuh,” kata Bima Arya, di Balai Kota Bogor Kamis (2/7/2020).

Ia menyebut tingkat penularan COVID-19 di Kota Bogor menjadi paling rendah dibandingkan daerah lain di Jawa Barat. Hal itu, kata Bima, disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. “Kota Bogor itu angka penularannya RT dan RO-nya paling rendah yaitu 0,33. Jadi mengingat kita dekat dengan Jakarta, angka ini sangat baik,” ucap Bima.

Meski begitu, Pemkot Bogor akan terus waspada karena pandemi belum berakhir. Strategi yang digunakan dalam memerangi COVID-19 juga harus tepat agar angka penularannya tetap bisa ditekan dalam jangka panjang.

Bima mengibaratkan berperang melawan COVID-19 ini seperti lari maraton. “Pada prinsipnya, berperang melawan COVID ini seperti lari maraton, bukan berlari speed. Jadi perlu stamina, perlu strategi. Jadi ini bukan siapa lebih cepat, tetapi soal siapa yang bisa memiliki strategi untuk bertarung dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu Pemkot Bogor menyiapkan strategi maraton dalam mengatasi COVID ini,” tuturnya.

Selama fase pra AKB, lanjut Bima, beberapa bidang akan diizinkan beroperasi dengan syarat pengetatan protokol kesehatan. Beberapa bidang tersebut yakni, transportasi, hotel dan restoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit serta sarana kebugaran.

“Prinsipnya menyelaraskan antara aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Aspek kesehatan adalah yang utama yang terpenting. Namun ekonomi juga harus kita perhatikan,” ujar Bima.

Dia menambahkan, fase pra AKB ini akan segera diajukan ke Gubernur Jawa Barat, agar besok bisa diterapkan. “Jadi ini belum full AKB, tetapi beberapa bidang yang tadi disebutkan sudah boleh beroperasi dengan tetap penerapan protokol kesehatan,” pungkasnya. (Heri)