Untitled-14AKHLAK adalah salah satu hal penting dan utama dalam membangun kejayaan. Di dalam akhlak itu terdapat tata krama, etika, dan kese­larasan (harmoni) nalar, naluri, rasa, dan indria.

Bang Sem Haesy

NALAR yang cerdas memandu naluri yang peka, sehingga sensitifitas rasa dapat dikelola dengan baik. Ujungnya adalah indria berjalan sesuai dengan fungsinya secara proporsional. Keseimbangan itu yang akan men­jadi daya perekat antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional.

Beberapa waktu berselang, dalam rapat De­wan Kebudayaan Jawa Barat, Prof. Gan­jar Kurnia (Ketua), Abah Iwan Abdurrahman, Yesmil ahli hukum yang budayawan, Yus Ruslan Ahmad – planolog yang san­gat nyunda, saya dan beberapa te­man lain mencoba menangkap es­ensi perubahan sosial dari hal-hal sederhana.

Antara lain melalui contoh per­ilaku, seperti menyikapi orang batuk, berdehem, membuang ludah dan dahak, sesuai dengan standar etika sosial, seperti yang dicontohlan orang tua kita. Termasuk bagaimana meny­iapkan tempolong sebelum nyeureuh.

Masyarakat Singapura dan Malay­sia mencapai tingkat disiplin prima dalam mewujudkan lingkungan se­hat, dimulai dari hal semacam itu. Pun begitu pula negara-negara lain.

Para leluhur Sunda, seperti ter­surat dan tersirat dalam Sanghyang Siksakanda Karesian, mengatur etika sosial semacam itu. Termasuk men­galirkan do’a.

Begini Sanghyang Siksakandang Karesian memberi artikulasi: “Nem­balan nu batuk, nu ngadehem, nu ngareuhak, maka nguni embuing; kalih ngawih, ya lembu akalang nga­ranya. Nyanda di (u)rut sanghyang kalih deuuk di tihang, di kayu, di batu, nyeueung inya anggeus diri disilihan nyanda, ngara(n)na lembu anggasin. Itu kehna ingetkeuneun la­mun dek luput ti naraka.”

Kalimat di atas bermakna : Men­yahut orang batuk, mendehem, membuang dahak, menyahut ibu-ibu yang menyanyi, ibarat lembu masuk gelanggang. Begitu pula bersandar pada tiang bekas sandaran orang suci, duduk pada bekas duduk orang suci (di kayu dan batu) disebut lembu me­nantang. (Untuk) itu semua perlu diin­gat (tata krama) agar tak menimbulkan bencana atau petaka.

Lembu masuk gelanggang dan lembu menantang bermakna, jangan mengambil risiko melakukan sesua­tu, yang salah-salah akan menyebab­kan diri celaka. Jangan menimbulkan situasi dan lingkungan sosial yang tak nyaman bagi orang banyak.

Begitu pula tatakrama dalam be­lajar melalui beragam medium bu­daya, dari menonton wayang sampai membaca, untuk menambah peng­etahuan dan wawasan.

Sanghyang Siksakandang Kare­sian menuliskan : “Aya ta deui. La­mun urang nyeueung nu ngawayang, ngadenge-keun nu ma(n)tun, nemu siksaan tina carita, ya kangken guru panggung ngara(n)na. Lamun urang nemu siksaan rampes ti nu maca ya kangken guru tangtu ngara(n)na. Lamun mireungeuh beunang nu ku­riak ma: ukir-ukiran, paparahatan, papadungan, tutulisan, sui nanya ka nu diguna, temu ku rasa sorangan ku beunangna ilik di guna sakalih ya kangken guru wreti ngara(n)na. Nemu agama ti anak, ya kangken guru rare ngara(n)na. Nemu dar­ma ti aki ma ya kangken guru kaki ngara(n)na. Nemu darma ti lanceuk ma ya kangken guru kakang ngara(n)na. Nemu darma ti toa ma ya kang­ken guru ua ngara(n)na.”

Ada lagi. Bila kita menonton wayang, mendengar juru pantun, ambillah pelajaran dari kisah yang disajikan. Itulah yang kita sebut guru panggung. Bila kita memper­oleh pelajaran atau pengetahuan yang baik dari membaca, itulah yang disebut guru tangtu. Bila mendapat pengetahuan dengan menyaksikan karya profesional dan ahli, itulah guru wreti. Pengetahuan yang kita dapat dari anak, disebut guru rare. Pengetahuan dari kakek dan kakak yang disebut guru kaki dan guru ka­kang. Pengetahuan dari orang-orang tua yang disebut guru ua.