alfian mujani 240JIKA akan berliburan co­balah tiru apa yang di­lakukan Thomas Cook. Tokoh wisata dunia abad 19 M ini memiliki ide liburan yang sangat brilian. Selin brilian juga unik dan original. Pada tahun 1841, Cook men­gajak 500 orang mengi­kuti perjalanan wisata naik kereta api sejauh 22 mil dari Leicester ke Loughborough.

Tujuan wisata itu adalah bertemu orang-orang saleh yang akan menceramahi para peserta tur agar bisa terlepas dari perbua­tan negatif dan termotivasi menjadi lebih baik. Para penikmat pelesiran atau wisata kontemporer, pasti tertawa sinis dengan model wisata ini. Bagi mereka, liburan ada­lah bebas di alam bebas tanpa terikat apa­pun, termasuk terikat pada Tuhan.

Tapi bagi Thomas Cook, liburan berarti waktu senggang untuk membebaskan diri dari segala yang negatif dalam diri dan ke­mudian mengisinya dengan sesuatu yang positif demi menggapai kedewasaan diri dan kebahagiaan sejati. “To travel is to dispel the mists of fable and clear the mind of prejudice taught from babyhood, and facilitate perfect­ness of seeing eye to eye,’’ katanya.

Bagaimana dengan liburan kita, berlu­mur dosa atau pahala?