Untitled-15OLEH: PARNI HADI

HIDUP itu ibarat po­hon. Hidup tanpa cinta ibarat pohon tanpa bunga atau buah. Cinta tanpa keindahan ibarat buah tanpa biji atau bunga tanpa bau harumnya. “Life, love and beauty” adalah sebuah kesatuan, begitu pesan yang saya peroleh setelah membaca puisi penyair Libanon, Khahlil Gibran.

Sengaja saya pilih berbicara tentang cinta (love) dalam kaitannya dengan hidup (life) dan keindahan (beauty) ketika berhadapan dengan 46 pemuda dari 18 negara, peserta “Interfaith Youth Camp” yang diselenggarakan DD di Kali­urang, Yogyakarta, tahun lalu.

Sesuai namanya Interfaith, atau lintas ke­percayaan, para pemuda itu, pria dan wanita, termasuk dari Indonesia, beragama macam-macam. Mayoritas Islam, tapi ada yang Kristen, Katholik, Hindu dan Buddha.

 Cinta menyatukan mereka dalam suatu perhelatan yang dikemas dengan nama perkemahan sebagai ajang dialog. Cinta merajut mereka menuju satu tujuan, tanpa memandang latar belakang agama, kebang­saan dan ideologi politik. Satu tujuan itu ada­lah: perdamaian (peace). Hidup berdampin­gan secara damai sering terusik oleh konflik. Mencegah terjadinya dan mencari solusi atas konflik karena perbedaan keyakinan agama adalah tujuan pertemuan itu.

Apa yang menyatukan seluruh umat ma­nusia sedunia? Jawabnya adalah kehidupan. Lebih jelasnya, upaya untuk mempertahankan hidup (survival) dari ancaman. Ancaman ter­besar bagi kehidupan adalah konflik yang be­reskalasi menjadi perang. Ancaman lain adalah bencana, baik karena peristiwa alam maupun lebih-lebih buatan (kesalahan) manusia.

“There is nothing worth your life”, begitu bunyi sebuah ungkapan. Artinya, tiada sesuatu apa pun yang lebih berharga daripada hidup­mu. Untuk itu, upaya untuk tetap hidup bersa­ma harus terus digalang dengan menumbuh­kan cinta atau rasa welas asih (compassion) melalui dialog yang saling memahami dan saling menghargai menuju kerjasama saling menguntungkan dan memberi martabat.

Penderitaan akibat bencana dan ke­celakaan sering menyatukan umat manusia. Tapi, bersatu dalam kebahagiaan atau keg­embiraan (happiness or joy) jauh lebih baik daripada dalam penderitaan.

Sebagai orang yang dituakan dalam per­temuan itu, saya berupaya mengaitkan keg­iatan itu dengan sesuatu yang mengandung empat anasir yang menyatukan seluruh umat manusia itu: “Life, Love, Beauty and Joy”. Menanam pohon adalah sesuatu itu.

Perubahan iklim global mengancam ke­hidupan seluruh umat manusia dan menan­am pohon adalah salah satu solusinya. Pohon adalah lambang kehidupan dan tiada kehidu­pan tanpa cinta. Jadi, menanam pohon sama dengan menanam cinta.

Maka, saya ajak para peserta dan ang­gota panitia penyelenggara bersama-sama menanam pohon yang memberi faedah, baik bunga, buah,kayu dan keindahan yang dit­imbulkannya. Tempat menanam pohon itu haruslah strategis dan bersejarah, sehingga mudah dan menarik untuk dikunjungi.

Alhamdulillah, ada wisma RRI di Kali­urang, yang berpekarangan luas. Rumah ra­dio perjuangan itu sempat ditinggali keluarga almarhum Taufik Kiemas, mantan Ketua MPR RI dan suami Megawati, sewaktu perang ger­ilya pasca Proklamasi 17 Agustus, 1945. Dirut RRI, Ibu Niken Widiastuti, setuju pekarangan wisma itu dijadikan taman dengan nama “Youth for Peace Garden”.

Para pemuda itu sambil menyanyikan jingle “Green Radio, yo yo, yo, make the world green through radio”, dengan suka cita menanam po­hon yang menyandang nama dan asal negara masing-masing. Taman itu dikelola bersama oleh RRI dan DD, yang memang sudah beker­jasama dalam aksi Green Radio dan Sedekah Po­hon di beberapa daerah sejak beberapa tahun.

Sebagai penggagas program Green Ra­dio, saya membayangkan suatu hari nanti para peserta itu akan kembali lagi ke tempat itu bersama anggota keluarga untuk melihat pohon mereka masing-masing hidup, tum­buh, berbunga, berbuah, memperindah ling­kungan dan membahagiakan. (*)

loading...