Foto : Net
Foto : Net

Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini tak biasa. Kemen­terian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Simpo­sium Guru dan Tenaga Kerja 2015 untuk men­dorong para guru berkarya dan berinovasi. Tak hanya itu, guru-guru yang menginspirasi pun diangkat. Salah satunya, Karyati Vederubun. Siapa dia?

(Yuska Apitya Aji)

Di antara sekian banyak kisah guru yang menginspirasi, Mendikbud Anies Baswedan terenyuh saat membaca cerita seorang guru di pedalaman Maluku, Karyati Veder­ubun (33). “Saya membaca kisahnya. Mereka mengajar setelah menempuh jarak jauh, mereka berkumpul di sungai dengan bersama-sama mengabdi,” ce­rita Anies saat membuka simposium di Istora Senayan, Jakarta Selatan, Senin (23/11/2015).

Karyati Vederubun (33) setiap pe­kan menelusuri sungai dan hutan untuk mengajar di desa pedalaman Maluku. Tak punya banyak bekal makanan, ka­dang dia memakan dedaunan dan air dari sungai. Berat? Begitulah gambaran guru di pelosok negeri.

Yati, demikian sapaan akrabnya, mengajar anak-anak Desa Atiahu, Dusun Balakeu, Kecamatan Siwalalat, Maluku, yang hidup nomaden di pedalaman hu­tan. Bergantian dengan rekannya sem­inggu sekali, dia menempuh perjalanan 9 jam untuk bisa menemui para muridn­ya. “Di pagi hari saya harus mengguna­kan ojek untuk menuju ke persimpangan ke tempat tugas saya karena memang tidak ada akses jalan yang dilalui, maka kami melalui hutan dan sungai,” kata Yati di sela-sela Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan yang digelar Ke­mendikbud di Istora Senayan, Senin (23/11/2015).

Yati tinggal di Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Timur, Maluku. Ia telah tiga tahun mengabdi sebagai guru PNS di Maluku. Selama di hutan, dia tinggal di rumah warga. Setelah enam hari, dia pulang lalu bergantian dengan rekannya. “Kami menyusuri hutan kare­na medannya sulit sehingga kami tidak bisa membawa bekal. Jadi di perjalanan itu saya makan daun dan minum air. Medannya itu sungainya besar membe­lah Kabupaten Seram Timur dan Selatan lebarnya 100 meter,” paparnya.

Sesampainya di hutan, sering kali tak ada murid yang bisa ditemui. Kadang, Yati harus mencari anak-anak itu lebih dalam lagi ke hutan. “Kadang ada mu­ridnya kadang tidak ada muridnya kare­na masyarakat di sana nomaden sehing­ga kalau mereka sudah ke hutan jadi kita harus cari atau kita harus pesan orang yang mau ke hutan untuk turun,” cerit­anya, disambut tangis oleh para peserta.

Banyak anak-anak di Dusun Balakeu ini tidak menuntaskan sekolahnya hing­ga tamat SD. Sebagian ada yang sudah menikah di usia sangat muda. “Akses ja­lan juga harus diperhatikan, pihak sosial harus mendampingi mereka, memberi­kan pelatihan dan pemahaman supaya mereka berkembang,” kata Yati.

Menjelang peringatan Hari Guru Nasional, ia berpesan pemerintah harus memberikan perhatian khusus terha­dap guru. Sebaiknya ada tunjangan dan fasilitas untuk mereka yang bertugas di daerah terpencil.

Bagi Menteri Anies, cerita Karyati tersebut membuatnya semakin optimistis tentang nasib anak-anak di masa depan. Ke depan, bakal banyak anak didik yang tercerahkan. “Rasanya kita menyaksikan pejuang pejuang Indonesia masa kini yang telah mereka didik dan akan muncul anak anak didik anak yang tercerahkan. Kami yakin wajah masa depan daerah akan berubah,” ungkap Anies.

Tak hanya itu, mantan rektor Uni­versitas Paramadina ini juga mengata­kan salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi guru adalah lewat uji kom­petensi. Dia akan mengecek hasil pro­gram tersebut dan melakukan evaluasi menyeluruh demi kepentingan guru dan anak didik.

“Kita ingin kita semua berkaca di mana letak kurangnya. Apa yang harus diperbaikinya dilihat dari sisi cerminnya. Supaya bisa memberikan masukan yang lebih lengkap, sama-sama meningkat­kan kinerja kita,” jelas Anies.

Dalam kesempatan tersebut, pria berusia 46 tahun ini juga kembali meng­ingatkan pentingnya guru yang mem­berikan inspirasi. Sebab, itulah sebaik-baiknya guru yang bakal diingat anak didik. “Kalau kita bertanya sebutkan nama guru favorit. Ada dua guru ada murid yang akan menyebut langsung namanya. Biasanya guru favorit adalah guru yang menyenangkan dan mengin­spirasi. Kita semua ingin sama-sama menyaksikan jika 20 tahun lagi anak-anak kita berkumpul ingatkah nama gurumu maka akan menyebut nama ibu-ibu sekalian,” pesan Anies yang dis­ambut tepuk tangan hadirin.

Simposium ini dihadiri 2.110 Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), para finalis dan pemenang pemilihan GTK berprestasi dan berdedikasi. Selain itu, hadir juga 1.000 GTK dari Pusat Pengem­bangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, sebanyak 150 kepala sekolah yang tergabung dalam forum Kepala Sekolah Negara ASEAN, perwakilan UNESCO Asia Pasific Center of Education for International Under­standing Korea, dan Sekretariat ASEAN.

Peringatan Hari Guru tahun ini mengangkat tema ‘Guru Mulia Karena Karya’. Pemilihan terhadap tema terse­but relevan dengan kebijakan pemerin­tah dan mengajak seluruh masyarakat untuk selalu menghargai profesi guru, membawa pada masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan berada di ten­gah percaturan kehidupan masyarakat global.

loading...