Untitled-14TIM liputan Bogor Today berkesempatan untuk berbincang bersama Bimo, salah satu dari tiga pemilik kedai kopi mungil nan imut di sudut D’Palma GuestHouse. Letaknya tidak jauh dari belokan Sempur, bersinggungan dengan Jalan JalakHarupat, berada persis di persimpangan antara Jalan Halimun, sebelum kantor RRI Bogor.

Dengan mengusung konsep desain interior rustic industrial yang ra­mah lingkungan, sejalan pendapat Bimo, bahwa bagus tidak harus mahal, dan barang-barang yang di-recycle pun bisa jadi bagus, serta memanfaatkan ba­rang-barang yang ada di sekitar. Maraca yang dalam bahasa Sunda berarti ‘membaca bers­ama-sama’ ini menawarkan remote working space yang menyatu dengan alam. Lokasinya yang cukup strategis berada di salah satu sisi Kebun Raya Bogor, menjadikan kedai kopi sekaligus ruang baca ini cukup asri un­tuk dikunjungi. Soft opening sejak Maret 2016, Maraca yang awalnya buka pada sore hari, atas permin­taan pengunjungnya kemudian bergeser ke jam operasional mu­lai pukul 09.00 sampai 22.00.

Menawarkan menu-menu cemilan bahkan beberapa san­tapan cukup berat, menjadi­kan Maraca sebuah kafe yang sebenarnya tidak ingin terjebak dengan label. “Tidak terlalu ma­salah dengan sebutan orang mau bilang Kita warung kopi, coffee shop, atau apa. Yang pasti, kalau kopi Kita me­mang agak lebih banyak pilihan menunya.” Ungkap Bimo, kepada Bogor Today.

Pilihan kopi di Maraca mulai dari yang espresso based, single origin kopi-kopi Nu­santara, yang dari pilihan-pilihan tersebut diharapkan bisa jadi minuman untuk dapat dinikmati sesuai selera segmen pengunjung Maraca. “Orang-orang yang suka minum kopi dan baca buku, tanpa pandang usia,” kat­anya.

Beberapa hal yang menjadi perhatian Bimo dalam mengelola tempat ini supaya dapat tetap berjalan baik, yakni mengenai rasa, komunitas, dan engagement. Tentang rasa, Bimo sangat berharap menu-menu yang disajikan di Maraca terjaga kualitasnya supa­ya pengunjung mau kembali datang karena rasanya yang enak.

Soal komunitas, beberapa acara art work­shop dan pertemuan rutin telah masuk jad­wal Maraca untuk beberapa bulan ke depan. Mengenai engagement sendiri, Bimo masih konsisten melakukannya sampai detik ini; memuat foto beberapa pengunjung regul­ernya lengkap dengan profesi dan kutipan kata mutiara mereka, yang kemudian men­gunggahnya ke akun media sosial Maraca.

“Saya ingin mengenalkan, ini lho orang-orang Bogor, yang bisa ditemui kalau ngopi di Maraca,” terang Bimo, menggenapi soal strategi engagement tersebut.

Menawarkan sebuah tempat alternatif untuk membaca buku dan bertemu orang, bukanlah tanpa perjuangan. Bermodalkan pengalaman Bimo menjadi barista waktu ku­liah di Jogja, Della yang suka membaca dan koleksi buku baik online maupun offline, ser­ta Feni yang aktif dengan kesenian dan me­dia sosialnya, menjadikan para pemiliknya membangun Maraca Books & Coffee seperti sekarang ini.

Rasio modal awal paling besar dialoka­sikan untuk tempat berjangka waktu sewa perdua tahun, dengan tiga kali angsuran pembayaran. Modal selanjutnya untuk bi­aya renovasi secara keseluruhan, baik inte­rior, eksterior, maupun konstruksi, termasuk penambahan daya listrik hingga 5500Watt.

Persoalan listrik juga lah yang kemudian membuat Bimo dan rekan-rekan akhirnya memutuskan untuk menggunakan teknik manual brewing yang hemat listrik selain itu juga ramah lingkungan. Cukup merogoh Rp. 2,5juta rupiah saja, alat hand-espresso manual pun siap dikirim dari daratan Eropa sampai tiba di Indonesia. Dengan total kisa­ran modal awal senilai Rp. 250juta-an rupiah, dalam waktu kurang dari sebulan operasion­alnya telah berjalan, lima sampai enam pers­en darinya sudah dapat diperoleh.

Iklim kopi di Bogor yang ramah usaha pula lah yang menjadi pertimbangan Bimo dan kawan-kawan untuk lebih mendu­kung kopi Nasional sebagai komoditas utama dari Maraca. “Kalau Bogor ma­kin ramai, makin banyak yang datang ke sini, karena tempat ngopinya banyak, mereka jadi punya pilihan,” ujarnya sam­bil memaparkan beberapa fasilitas standard yang ditawarkan.

Salah satu fasilitasnya adalah Wi-Fi (Wire­less Fidelity) yang memang disediakan seb­agai bentuk dukungan terhadap para pen­gunjung, terutama bagi mereka yang sibuk supaya tetap dapat remote working, menja­dikan Maraca sebagai salah satu pilihan un­tuk outdoor dan indoor co-working space. Di samping itu juga tersedia mushola untuk beribadah, serta wastafel juga toilet. Bagi pengunjung yang mungkin hendak ibadah berjamaah, tersedia pula mushola yang lebih besar di D’Palma GuestHouse yang bangu­nannya masih berada di area yang sama.

Saat ini kapasitas pengunjung Maraca adalah 10-15 orang untuk indoor, dan 15-20 orang untuk outdoor. Bimo pun menyampai­kan rencananya untuk menambah area di ba­gian samping untuk menyiasatinya.

Untuk promo sendiri, Maraca bekerjasa­ma dengan D’Palma menawarkan voucher 20 persen discount bagi semua tamu dari Guest­House tersebut, induk semang yang juga me­nyewakan tempat bagi coffee shop dengan koleksi buku untuk dibaca di tempat yang cukup lengkap. Ada sekitar 100 judul dengan berbagai macam jenis bacaan, mulai dari bu­ku-buku sastra, filsafat, psikologi, sampai col­oring book for adult pun tersedia di Maraca Books & Coffee, lengkap dengan pensil dan alat pewarna lainnya.

Beberapa menu andalan yang menjadi favorit bagi pengunjung Maraca antara lain ada V60 manual brew & Vietnam Drip untuk kopinya, Waffle Ice Cream, Croissant, & Muf­fin untuk cemilannya, serta Chicken Butter Rice untuk makanannya. Bagi mereka yang tidak minum kopi, bisa juga menikmati pili­han minuman lainnya seperti Ice Lychee atau Ice Peach Tea.

Dengan kisaran harga kopi dari Rp. 14.000– Rp. 25.000, cemilan dari Rp. 5.000- Rp. 26.000, sedangkan makanannya mu­lai dari Rp. 24.000, memantapkan konsep yang memang menjadi pegangan awal mula berdirinya coffee shop ini, bahwa sesuatu yang berkualitas tidaklah harus selalu mahal.

Usai obrolan singkat dan ringan tim li­putan Bogor Today bersama Maraca Books & Coffee, ada pesan yang masih terus tern­giang-ngiang sampai artikel ini ditulis. Yakni bagaimana menjadikan kopi Indonesia seb­agai tuan di negerinya sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh Bimo dan kawan-kawan, untuk terus mendukung kopi dan juga petani Indonesia, demi kesejahteraan yang lebih baik bagi Kita semua. (Hesti Amelia)

 

loading...