Untitled-18Barang bekas atau rong­sokan umumnya di­pandang sebelah mata sebagai sampah yang tidak berguna dan membuat ruangan tampak kotor. Namun ternyata tidak banyak yang tahu jika barang bekas memi­liki nilai ekonomis.

Beberapa jenis barang yang sudah tidak dipakai bisa dimanfaatkan lagi atau bisa di­daur ulang. Rantai bisnis jual-beli barang bekas juga ternyata menawarkan peluang usaha yang menggiurkan. Tidak se­dikit pengusaha pengepul ba­rang bekas yang memperoleh omzet hingga ratusan juta ru­piah saban bulan.

Salah satunya adalah Anis Saefullah di Cengkareng, Ja­karta Barat. Ia mengaku men­gawali bisnis ini benar-benar dari nol, yaitu dengan menjadi pemulung. Dari menjadi pemu­lung, ia memahami berapa nilai ekonomis sebuah barang bekas.

Selama menjadi pemu­lung. Anis membangun pemulung, pengepul, maupun tempat-tempat yang pasti mengjaring, baik itu dengan sesama hasilkan barang-barang bekas, sep­erti pabrik, rumah sakit, perkan­toran dan lainnyanya. ­

Jenis-jenis barang bekas yang sering ia kumpulkan diantaranya peralatan elektronik, komputer dan sebagainya. Terbiasa dengan itu, pengetahuan akan fungsi-fungsi bagian alat elektronik pun bertam­bah. “Misalnya soal komputer, saya jadi tahu mana yang namanya RAM, VGA, CPU dan sebagainya. Saya pun bisa merakit komputer. Jadi kom­puter yang saya beli dalam keadaan mati, saya perbaiki dan saya jual lagi. Harganya bisa naik berlipat-lipat,” imbuh Anis.

Setelah cukup banyak memiliki relasi, Anis lantas menjadi pengepul barang bekas di tahun 1999. Saat ini Anis memiliki sekitar tujuh gudang untuk mengepul barang-barang bekas dari para pemulung yang tersebar dari Jakarta, Bandung, Ci­rebon, dan lainnya.

Pembelinya berasal dari bera­gam kalangan seperti warga yang mencari barang murah, kolektor ba­rang antik dan ke perusahaan-peru­sahaan yang mengolah bahan bekas. Patokan harga beli dari pemulung dan harga jual ke pelanggan tidak bisa dipatok secara pasti, tergan­tung kondisi barang dan kemam­puan menaksir barang yang datang ke tempatnya. “Pengalaman berta­hun-tahun menjadi pemulung yang membuat saya bisa menaksir harga barang,” ujarnya.

Misalnya, monitor komputer yang sudah mati dia beli Rp 20.000 per unit dari pemulung. Setelah diperbaiki dan dijajakan beserta CPU yang juga bekas dan sudah di­perbaiki, bisa dia jual seharga Rp 1 juta.

Pengepul barang bekas yang lain adalah Solikin di Pamulang, Tangerang Selatan. Ia menjadi pengepul dari bekas pembongkaran gedung. Hasil dari pembongkaran gedung kemudian ia pilah-pilah seperti kusen, pintu, batu bata, gen­teng dan lainnya. Barang-barang ini dijual lagi ke pabrik atau dicari untuk timbunan perataan tanah. (Yuska Apitya/ktn)

loading...