agusOleh: Ahmad Agus Fitriawan
(Guru MTs. Yamanka Kec. Rancabungur Kab. Bogor)

 Harvard University dalam reviewnya menyimpulkan bahwa ada dua hal pokok yang menjadi kunci kesuksesan hidup yaitu belajar (learn) dan berubah (change). Dalam perspektif Islam, learn bisa kita mengejawantahkan melalui semangat membaca, dan change bisa kita implementasikan melalui semangat perubahan (hijrah). Dua hal ini merupakan konsepsi hidup sukses yang pernah dipraktekkan Nabi Muhammad SAW. Setelah mempelajari dan memahami substansi risalah Islam, termasuk didalamnya perintah iqra’, Nabi kemudian mendapat perintah untuk melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ke Madinah bukan berarti lari dari tanggungjawab, tetapi hijrah adalah strategi baru untuk mengembangkan dakwah dan menyebarkan risalah Islam, termasuk mengembangkan konsepsi iqra’.

Spirit iqra’ dan hijrah inilah yang seharusnya dihidupkan dan dikembangkan pada sistem pendidikan kita. Spirit iqra’ mengandaikan adanya sebuah sistem pendidikan yang berani menyuguhan berbagai ilmu pengetahuan, baik yang bersifat material-dunawi maupun yang bersifat spiritual-ukhrawi. Menyuguhkan dua jenis ilmu pengetahuan ini menjadi mutlak dilakukan, karena untuk melahirkan khalifah (kader pemimpin) di muka bumi, terlebih di era globalisasi seperti sekarang ini, kedua jenis pengetahuan tersebut sangat dibutuhkan.

Metode iqra’ yang diterapkan oleh Nabi SAW di Madinah mampu mencetak generasi muslim yang handal dan mumpuni. Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Salman al-Farisi dan sederetan nama lainnya adalah produk pendidikan ala iqra’ yang dipraktekan oleh Nabi SAW di Madinah.

Beberapa dekade setelah beliau wafat, metode ini masih dapat dipertahankan dan dikembangkan. Sehingga generasi Islam saat ini berhasil melahirkan para arsitek masa depan yang mampu mencipta ragam keilmuan yang terbentang luas dan mampu melampaui batas zaman, ada astronom, dokter, filosuf, fisikawan, ekonom, politikus, insinyur, dan sebagainya. Uniknya, disamping menguasai ragam keilmuan yang terbentang luas, para ilmuwan muslim itu juga menjadi agamawan yang hafal Al-Qur’an dan al-Hadits, ahli tafsir, ahli fiqih, dan bahkan ahli tasawuf. Lihat misalnya, al-Ghazali, al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, Ibnu, Haitsam, dan masih banyak lagi.

Pada masa itu, tidak ada terminologis dikotomis antara ilmu pengetahuan yang bersifat duniawi dan ilmu yang bersifat ukhrowi. Keduanya berintegrasi menjadi satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan. Bahkan mereka mampu menguasai kedua disiplin ilmu tersebut secara seimbang. Inilah konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Nabi SAW melalui metode iqra’.

Berbeda dengan koteks pendidikan di Indonesia. Di negara kita, terminologi dikotomis itu masih sangat kentara. Misalnya, ada pengetahuan agama dan pengetahuan umum, pendidikan tradisional dan modern, lembaga pendidikan unggulan dan non unggulan, ilmu positif objektif dan reflektif subjektif dan seterusnya. Dikotomisasi seperti ini, sebagaimana yang dikatakan Abdurrahman Mas’ud (2002), pada dasarnya merupakan aktualisasi sikap tinggi hati dan keangkuahan kelompok primordial, jika demikian faktanya, maka sistem pendidikan kita masih belum mampu menerjemahkan secara apik konsepsi iqra’ yang digagas oleh Nabi SAW.

Selain penguasaan terhadap dua disiplin ilmu di atas, konsepsi iqra’ mengandaikan pengembangan wawasan peserta didik, baik yang bersifat lokal, nasional, regional, maupun internasional. Penguasaan wawasan perlu ditekankan karena bermodalkan dua disiplin ilmu di atas secara normatif saja tidak menjamin bahwa suatu lembaga pendidikan mampu mencetak kader yang handal dan peka terhadap realitas sosial. Maka dalam rangka pengembangan wawasan ini, peserta didik diharuskan untuk hijrah baik pada tataran pemikiran maupun pada tataran sikap dan perilaku.

Hijrah pada tataran pemikiran menkonsepsikan terjadinya perubahan paradigma pemikiran dari paradigma lama yang regresif-destruktif ke paradigma baru yang progresif-konstruktif. Sementara hijrah pada tataran sikap dan perilaku menuntut adanya perubahan sikap dan perilaku dari yang negatif dan amoral kepada perilaku yang positif, bermoral dan futuristik. Agar terjadi hijrah, baik pada level pemikiran, maupun perilaku, maka dibutuhkan iklim pendidikan yang kondusif dan mengarah pada hal tersebut. Oleh sebab itu, siswa harus dididik untuk selalu mobile (moving class), baik di rumah maupun sekolah, dan juga field trip baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan banyak melihar dunia luar, maka dalam diri peserta didik akan terbangun mindset baru yang lebih maju dan lebih optimistik dalam menatap masa depannya.

Oleh karena itu, semangat dan spirit hijrah khususnya dalam bidang pendidikan, harus kita implementasikan secara riil dalam kehidupan kita dewasa ini. Kita harus segera hijrah dan berubah, karena “sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang melakukan perubahan akan nasibnya”. (QS. ar-Ra’d (13): 11). Tanpa semangat perubahan dari segenap elemen masyarakat, kebangkitan pendidikan di masa depan sulit diejawantahkan. Semoga.

loading...