P_20160607_225736SESUNGGUHNYA bulan suci Ramadhan penuh berkah dan ampunan yang dirindukan kedatangannya, sudah sekian lama kita tunggu-tunggu, kini tidak lama lagi dan kurang dari sepekan yang akan datang akan segera meninggalkan kita. Menjauh dari keseharian kita, hilal syawal akan muncul dan mengakhiri bulan mulia itu.

Oleh: AHMAD AGUS FITRIAWAN, M.PD.I
Guru MTs. Yamanka dan SMK Avicenna Mandir
Kec. Rancabungur Kab. Bogor

Kalau kita perhati­kan masyarakat di sekeliling kita, sebagian mereka bahkan mulai disi­bukkan dengan hiruk pikuk Idul Fitri. Luapan kegembiraan sudah terasa. Mall-mall menjadi padat. Lalu lintas kendaraan di jalanan lambat merayap. Ban­yak rumah berganti cat. Baju baru dan makanan enak juga telah siap.

Jika demikian gempitanya masyarakat di sekeliling kita berbahagia di penghujung akhir Ramadhan, tidak demikian hal­nya dengan para sahabat dan salafus shalih. Semakin dekat dengan akhir Ramadhan, kes­edihan justru menggelayuti generasi terbaik itu. Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka juga bergembira karena Ied adalah hari kegembiraan. Namun di akhir Ramadhan sep­erti ini, ada nuansa kesedihan yang sepertinya tidak kita miliki di masa modern ini.

Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam tera­khir Ramadhan, pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka ter­kadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka. Ada satu riwayat yang men­gisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makh­luk-makhluk Allah lainnya.

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Di malam tera­khir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramad­han, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”

Kemudian ada seorang saha­bat bertanya, “Apakah musibah itu, ya Rasulullah?” “Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebaji­kan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah yang terlebih besar apabila semuanya itu su­dah berlalu?”

Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih. Mengapa para sahabat dan orang-orang shalih bersedih ke­tika Ramadhan hampir berakh­ir? Kita bisa menangkap alasan kesedihan itu dalam berbagai konteks sebab.

Pertama, patutlah orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi sebab dengan perginya bulan suci itu, pergi pula berb­agai keutamaannya. Bukankah Ramadhan bulan yang paling berkah, yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditu­tup? Bukankah hanya di bu­lan suci ini syetan dibelenggu? Maka kemudian ibadah terasa ringan dan kaum muslimin be­rada dalam puncak kebaikan? “Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, di­wajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta para syetan dibelenggu… (HR. Ahmad)

Bukankah hanya di bulan Ramadhan amal sunnah digan­jar pahala amal wajib, dan se­luruh pahala kebajikan dilipat­gandakan hingga tiada batasan? Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika Ramad­han pergi. Ia hanya akan datang pada bulan Ramadhan setahun lagi. Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada Ra­madhan yang akan datang. Maka pantaslah jika para sahabat dan orang-orang shalih bersedih, bahkan menangis mendapati Ramadhan akan pergi.

Kedua, adalah peringatan dari Rasulullah SAW bahwa semestinya Ramadhan men­jadikan seseorang diampuni dosanya. Jika seseorang sudah mendapati Ramadhan, sebulan bersama dengan peluang besar yang penuh keutamaan, namun masih saja belum mendapatkan ampunan, benar-benar orang itu sangat rugi. Bahkan celaka. “Celakalah seorang yang mema­suki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni” (HR. Ha­kim dan Thabrani)

Masalahnya adalah, apakah seseorang bisa menjamin bahwa dirinya mendapatkan ampunan itu. Sementara jika ia tidak dapat ampunan, ia celaka. Betapa hal yang tidak dapat dipastikan ini menyentuh rasa khauf para sahabat dan orang-orang shalih. Mereka takut sekiranya menjadi orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan, pada­hal Ramadhan akan segera per­gi. Maka mereka pun menangis, meluapkan ketakutannya ke­pada Allah seraya bermunajat agar amal-amalnya diterima. “Wahai Rabb kami… terimalah puasa kami, shalat kami, ruku’ kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Para sahabat dan orang-orang shalih bukan hanya ber­doa di akhir Ramadhan. Bahkan, konon, rasa khauf membuat mereka berdoa selama enam bulan agar amal-amal di bulan Ramadhan mereka diterima Allah SWT. Lalu enam bulan setelahnya mereka berdoa agar dipertemukan dengan Ramad­han berikutnya.

Dalam Islam, sebuah amal bahkan hidup kita akan diten­tukan bagaimana kita men­gakhirinya. Kita mengenal isti­lah husnul khatimah dan juga su’ul khatimah. Rasulullah SAW pernah menegaskan, bahwa se­tiap amal itu sangat tergantung bagaimana kita mengakhirinya. (1) “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar telah bera­mal dengan amalan ahli neraka padahal sesungguhnya ia ter­masuk ahli surga, dan beramal dengan amalan ahli surga pa­dahal ia termasuk ahli neraka. Dan sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutu­pannya.” (HR. Al- Bukhari dari Sahl bin Muadz). (2) Ibnu Hajar berkata dalam syarhnya, Ibnu Bathal berkata, “Bahwa tidak diketahuinya akhir suatu amal dari seorang hamba memiliki hikmah yang luar biasa dan di­dikan yang halus, karena jika seorang tahu bahwa ia selamat, pasti ia akan berbangga diri dan bermalas-malasan. Namun bila ia termasuk orang yang bi­nasa (karena adzab), akan ber­tambah kedurhakaannya. Se­hingga tidak diketahuinya akhir sebuah amal, agar orang selalu berada dalam keadaan khauf dan raja’ (berharap) (Fathul Bari Juz II hal 330)

Ketakutan dan kekhawatiran terhadap amal-amal kita dik­arenakan dua sebab: Pertama, karena amal-amal itu tergan­tung penutupnya (khatimah) se­dangkan kita tidak tahu dengan apa amalan kita akan ditutup (su’ul khatimah atau khusnul khatimah). Kedua, Jika sean­dainya amal penutupnya adalah kebaikan, maka kita tetap kha­watir akankah amal kita terse­but diterima? Karena amal itu terkadang dhahirnya kelihatan baik dan sempurna, namun sesungguhnya disana ada cacat yang tersembunyi yang menja­dikan tertolaknya amal di sisi Allah seperti riya, ujub, masna (mengungkit-ungkit pembe­rian), makan harta haram dan lain-lain.

Untuk itu, bagaimana kita mengakhiri Ramadhan ini menjadi penting dan menjadi indikasi bagaimana kualitas Ramadhan kita kali ini. Barang­siapa telah berbuat baik di bu­lan Ramadhan hendaklah me­nyempurnakan kebaikannya, dan barangsiapa berbuat jahat hendaklah ia bertobat dan men­jalankan kebaikan pada sisa-sisa umurnya.

Barangkali tidak akan men­jumpai lagi hari-hari Ramadhan setelah tahun ini. Maka henda­klah diakhiri dengan kebaikan dan senantiasa melanjutkan perbuatan baik yang telah di­lakukan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lain. Karena Rabb yang memiliki bulan-bu­lan itu hanyalah satu, dan Dia mengawasi kita dan menyaksi­kan kita. Dan Dia memerintah­kan kita untuk taat sepanjang hayat. Wallahu’alam (*)

 

loading...