MANUSIA dalam pandangan al-Qur’an bukanlah makhluk anthropomorfisme yaitu makhluk penjasadan Tuhan, atau mengubah Tuhan menjadi manusia. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya. Disamping itu manusia dianugerahi akal yang memungkinkan dia dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa dia pada sebuah kualitas tertinggi sebagai manusia takwa.

Oleh: AHMAD AGUS FITRIAWAN, M.PD.I
Guru MTs. Yamanka dan SMK Avicenna Mandiri
Kec. Rancabungur Kab. Bogor

Kualitas manusia be­rada diantara naluri dan nurani. Dalam rentetan seperti itulah manusia ber­perilaku, baik perilaku yang positif maupun yang negatif. Fungsi intelegensi dapat me­naikkan manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Namun in­telegensi saja tidaklah cukup melainkan harus diikuti dengan nurani yang tajam dan bersih. Nurani (mata batin, akal budi) dipahami sebagai superego, sebagai conscience atau seb­agai nafsu muthmainnah (do­rongan yang positif ). Prof. Dr. Fuad Hasan mengatakan bahwa bagi manusia bukan sekedar to live (bagaimana memiliki) dan to survive (bagaimana ber­tahan), melainkan juga to exist (bagaimana keberadaannya). Untuk itu, maka manusia me­merlukan pembekalan yang kualitatif dan kuantitatif yang lebih baik daripada hewan.

Adalah Syeikh Imam al Ghazali atau bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Mu­hammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii merupakan ulama produktif. Tidak kurang 228 kitab telah ditulisnya, meliputi berbagai disiplin ilmu; tasawuf, fikih, teologi, logika, hingga fil­safat. Sang Hujjatul Islam (ju­lukan ini diberikan karena ke­mampuan daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah) ini sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abba­siyah, yang merupakan pusat kebesaran Islam.

Al Ghazali pernah mengkla­sifikasi profil manusia menjadi empat golongan; Pertama, Ro­julun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu). Orang ini bisa disebut ‘alim = mengetahui. Ke­pada orang ini yang harus kita lakukan adalah mengikutinya. Apalagi kalau kita masih terma­suk dalam golongan orang yang awam, yang masih butuh banyak diajari, maka sudah seharusnya kita mencari orang yang seperti ini, duduk bersama dengannya akan menjadi pengobat hati. “Ini adalah jenis manusia yang pal­ing baik. Jenis manusia yang me­miliki kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmu, maka ia menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mung­kin agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi se­luruh umat manusia. Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat,” ujarnya.

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Ses­eorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirin­ya Tahu). Untuk model ini, bo­lehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah tertidur. Sikap kita kepadanya mem­bangunkan dia. Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemu­kan orang yang sebenarnya me­miliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi. Karena keberadaan dia seakan gak berguna, selama dia belum bangun manusia ini suk­ses di dunia tapi rugi di akhirat.

Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Se­seorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu). Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tem­pat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar. Dengan bela­jar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Manusia seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat.

Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu). Menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa menger­ti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikan­nya. Manusia seperti ini dini­lai tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat.

Kualitas dan nilai manusia akan terkuak bila manusia me­miliki kemampuan untuk men­garahkan naluri bebasnya ber­dasarkan pertimbangan aqliah yang dikaruniai Allah kepadan­ya dan dibimbing oleh cahaya iman yang menerangi nuranin­ya yang paling murni. Wallahu ‘alam bish Showab.

 

loading...