BOGOR TODAY – Jalan Kapten Muslihat yang berada di kawasan Taman Topi selalu ramai dilalui warga Bogor. Jalan utama penghubung Stasiun Bogor dengan Istana Presiden itu ternyata menyimpan sejarah panjang perjuangan rakyat Bogor menuju kemerdekaan. Nama jalan itu diambil dari nama pejuang Bogor yakni Kapten Tubagus Muslihat.

Dihimpun dari berbagai sumber dokumentasi museum Perjuangan Bogor, Jumat (7/8/2020) kemarin, kapten Muslihat lahir di Pandeglang 26 Oktober 1926. Ayahnya Tubagus Djuhanuddin adalah seorang kepala Sekolah Rakyat (SR) yang mendapat tugas di Bogor.

Muslihat pernah bekerja di Bosbouw Proefstation yang sekarang bernama Balai Penelitian Kehutanan di Gunung Batu Bogor. Dia juga pernah bekerja di Rumah Sakit Kedung Halang Bogor menjadi juru rawat. Lalu pindah lagi ke jawatan kehutanan.

Pada saat itu Kota Bogor dikuasai tentara Jepang yang kemudian mendirikan pasukan PETA (Pembela Tanah Air). Muslihat ikut bergabung dalam PETA dan terpilih sebagai hudanco atau komandan seksi atau peleton.

Namun saat Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom sekutu pada 14 Agustus 1945, tentara Jepang membubarkan PETA dan menyuruh anggota PETA yang ada di asrama untuk kembali ke kampungnya masing-masing. Setelah itu pada tanggal 17 Agustus 1945 Presiden Soekarno dan Wapres Hatta memproklamirkan kemerdekaaan Indonesia.

Tentara Jepang banyak yang kembali ke negaranya dan situasi ini membuat semangat rakyat mengusir penjajah semakin kuat. Kantor-kantor yang diduduki tentara Jepang berhasil direbut oleh pejuang dan beralih menjadi milik RI. Tak terkecuali TB Muslihat yang berjuang di Bogor dan dia diangkat menjadi Kapten dan ditugaskan sebagai komandan Kompi IV Batalion II Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Meski sudah merdeka, Indonesia belum sepenuhnya bebas dari para penjajah. Setelah Jepang lengser, datang tentara Inggris. Mereka berhasil menguasai tempat-tempat utama.

Di Bogor tentara Inggris mencoba merebut Istana yang waktu itu dijaga ketat oleh pemuda-pemuda Bogor. Mereka berhasil memasuki Istana Bogor dan memukul mundur para penjuang.

Tepat pada 6 Desember 1945 rakyat Bogor melakukan pemberontakan. Dengan senjata seadanya seperti bambu runcing, golok, pedang mereka menyerang markas-markas yang dihuni tentara Inggris.

Kontak senjata pecah. Pasukan Inggris dan para pejuang saling serang. Kapten Muslihat keluar dari tempat persembunyiannya untuk melakukan penyerangan terbuka. Dia menembaki para penjajah dan sebagian tentara Inggris tumbang.

Dalam baku tembak itu, akhirnya dua timah panas tentara Inggris membuat perjuangan Kapten Muslihat berakhir. Sang Kapten gugur di medan perang diusianya yang masih muda, yakni 19 tahun meninggalkan istri yang tengah mengandung.

Timah panas kedua kembali menembus pinggang membuat Kapten Muslihat tumbang. Darah bercucuran dan mengalir membuat kaos putih yang dikenakan berubah menjadi merah.

Sehingga jasa dan perjuangannya diabadikan menjadi nama Jalan utama di Bogor yakni Jalan Kapten Muslihat di dekat Taman Topi dan dibuat patung khusus yang menggambarkan heroiknya Sang Kapten saat berjuang. Patung itu terletak di Plaza Taman Topi dekat Stasiun Bogor. (Bambang Supriyadi)