biotrop-(3)Komitmen Southeast Asian Ministers of Education Organization for Tropical Biology (SEAMEO Biotrop) untuk menghi jaukan Dunia mulai diseriusi. Untuk menunjang komitmennya ini, kemarin diluncurkan buku baru bertajuk ‘Gerakan Menabung Pohon

Oleh : Abdul Kadir Basalamah
[email protected]

Penulis buku terkait Budidaya Tanaman Hutan dan Agroforesty, Irdika Mansur mengatakan, ger­akan menabung pohon adalah suatu inisiatif untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan memerangi pema­nasan global. “Tetapi dalam waktu yang bersamaan juga mampu mendapatkan keun­tungan finansial dan lompatan ekonomi bagi peserta program gerakan menabung pohon,” katanya. “Kayu pernah menjadi primadona devisa Indonesia hingga tahun 70-80an dan menjadi nomor dua setelah minyak. Kemudian kayu merosot dari 50 juta meter kubik per tahun hingga tinggal 5 jutaan meter kubik pertahun,” sambungnya.

Irdika menambahkan, pohon sebagai penghasil kayu dapat ditanam dan dipanen. Maka dengan gerakan menabung pohon di­harapkan dapat mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai salah satu penghasil kayu dunia dimasa lalu.

Irdika juga memaparkan bahwa hutan rakyat dari tahun ke tahun mulai berkem­bang dan minat masyarakat untuk menanam pohon terus meningkat. Satu persatu jenis-jenis pohon hutan Indonesia yang cepat tumbuh dengan nilai ekonomi tinggi mulai dikenalkan kepada masyarakat. Fenom­ena ini ditangkap dan diperbesar skalanya dalam bentuk Gerakan Menabung Pohon.

Ia juga mengatakan, agar secara teknis budidaya, kelayakan usaha, pemasaran dan kelembagaan gerakan ini mendapatkan ha­sil yang diharapkan maka perlu dibuat buku panduan. “Buku ini terdiri dari berbagai ba­gian, seperti teknik budidaya penanaman, baik tanaman monokultur maupun agro­forestri, analisa usaha, bentuk kemitraan, teknik pemasaran produk gerakan menabung pohon, pengembangan masyarakat, kelem­bagaan menabung pohon dan teknik moni­toring gerakan menabung pohon,” terangnya.

Senada dengan Irdika, Faroby Falatehan (Analisis Finansial Tanaman Agroforestri), mengatakan, menabung pohon adalah suatu aksi tanggung jawab sosial perusahaan corporate social responsibility (CSR) berori­entasi pada planet (konservasi), people (ko­munitas) dan private (keuntungan perusa­haan). “Tanggung jawab menabung pohon ini juga dapat menguntungkan perusahaan, profitnya merupakan hasil dari tumpang sari (tanaman jagung, kedele, dll), kayu yang dapat digunakan bagi masyarakat, melalui penjarangan dan hasil panen, penangkapan Carbon, nilai tambah dari kayu dan produk lainnya (seperti dibuat susu kedele, kayu timber ataupun kayu lapis),” terangnya.

Didalam Gerakan Menabung Pohon, ada 12 tahapan yang harus dipahami, yakni; perta draft (Social Maping), kedua offering (Sosialisasi, Komitmen Petani dan Kades, Pendataan Lot), ketiga plan (Marketing Lot ke Donator), keempat ready to plant (Pen­gadaan material tanam bibit, pupuk, dll), ke­lima Supervisi Verifikator (Persiapan Lahan dan Tenaga, Planting (Penanaman), keenam planted (Pendataan ulang Lot dan Cek pena­naman oleh relawan, petani, kepala desa serta penyusunan BAP Lot), ketujuh Verified (Verifikasi Lot dan Penyusunan Perjanjian Menabung Pohon), kedelapan saving trees (Bimbingan), kesembilan growing (Penca­cahan/pemotoan dan pemeliharaan intensif serta penyulaman), kesepuluh Production (Pemeliharaan tahunan dan Produksi), kes­ebelas Sustain (Penjarangan/Panen, tanam ulang dan petani menjadi ecopreneur) dan terakhir Growth (Penjualan hasil pan­en, bagi hasil dan Donaso Lot Baru).

Sejumlah pesohor di dunia ling­kungan tampil dan mencurahkan pe­mikirannya di buku Gerakan Menabung Pohon ini. Diantaranya, Irdika Mansur, R. Muis, M.R. Lubis, M. Baihaqi (Master dalam Budidaya Tanaman Hutan dan Agroforestry), A. Faroby Falatehan dan Deffi Ayu Puspito Sari (Analisis Finansial Tanaman Agroforestri), Lukman Baga dan Hendra Khaerizal (Narsum Kemi­traan dan Koperasi), Ma’mun Sarma dan Rizal Bahtiar (Pola Pemasaran Hasil; Hu­tan Rakyat) dan terakhir Fredian Tonny (Pengembangan Masyarakat dan kelem­bagaan Menabung Pohon).

“Semoga buku ini dapat berman­faat bagi para pembacanya. Sharing ilmu merupakan bagian yang terpinting dalam hidup,” pungkas Faroby, kema­rin. (*)