dsc0197AIR untuk kehidupan. Sering kita dengar perkataan ini. Air termasuk minuman yang baik dan halal. Air awalnya memang sangat baik untuk manusia namun kini air itu sulit dikategorikan mana air yang baik. Makin lama air tidak lagi baik untuk kesehatan manusia. Kondisi ini belum juga membuat manusia sadar akan perangai merusak air. Air banya kuman, air yang tercemar, air yang mengandung bakteri. Itulah campuran air kita saat ini. Mengapa air itu jadi seperti itu? kini sumber pencemaran belum bisa diminimalkan.

Oleh: BAHAGIA, SP., MSC
Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan IPB dan dosen tetap
Universitas Ibn Khaldun Bogor

Semua aktivitas manu­sia yang jorok-jorok semuanya bermuara pada mata air. Kita membuang kotoran seperti tinja. Kemudian airnya akan masuk kedalam sumur lagi. Berbarengan dengan pa­datnya penduduk maka jelas kita akan minum kembali air kotoran sendiri. Menurut BPS (2013) jumlah penduduk Indo­nesia tahun 2010 sekitar 238,5 juta akan diprediksi meningkat menjadi 305,6 juta pada tahun 2035.

Pertumbuhan penduduk tadi memicu banyaknya ko­toran maka kita akan minum juga air kotoran dari tetangga sebelah. Hal ini sudah terjadi. Rumah-rumah sudah berdem­petan satu sama lain. Air tetang­ga juga mengalir ke sumur kita. Penggalian sumur kita bergan­tung juga dengan debit air tet­angga. Sedikit atau banyak air tetangga juga mempengaruhi debit air sumur kita. Begitulah dekatnya sumur itu dengan su­mur tetangga. Kalau tetangga menggali sumur dekat dengan sumur kita akan mempenga­ruhi debit air sumur tetangga.

Porsi air itu akan terbagi-bagi. Sebagian untuk sumur si A dan sebagian lagi untuk si B. Fakta ini rawan bagi mutu Air kedepan dan bisa saja kita akan mengalami kekeringan. Tentu kotoran tetangga yang dekat dengan kita akan mempenga­ruhi kualitas air kita. Kotoran tinja tadi sebagian kecil dari pencemaran air tanah. Selain itu, jika kita berpatokan kepada mata pencahrian yang sebagian besar penduduk bertani. Di­pastikan sumber pencemaran terbesar selain industri berasal dari aktivitas pertanian.

Racun hama yang dikenal dengan pestisida mengandung DDT (dichlorodiphenyltrichlo­roethane) sangat berbahay bagi manusia. Serangga saja mati ter­kena bahan beracun ini. Sama halnya dengan manusia. DDT ini akan membanjiri air sumur suatu saat. DDT ini akan makin banyak karena penduduk kita belum bertani ramah ekolo­gis. Dengan fakta itu aktivitas menyemprot pestisida makin sering dilakukan. Bersamaan dengan ganasnya hama karena kerusakan ekosistem.

Hama makin banyak karena pedator mati dialam. Penyem­protan makin sering dilaku­kan, seringnya penyemprotan menyebabkan pekatnya kand­ungan DDT yang terbuang dan masuk kedalam tanah. Kalau saat hujan maka DDT tadi akan dibawa masuk kedalam tanah melalui aliran permukaan. Se­bagian lagi akan masuk kedalam sungai. Semuanya akan men­jadi bagian dari air sumur kita saat ini. Ditambah lagi sampai kini aktivitas pertanian belum bisa terlepas dari penggunaan pestisida dan pupuk.

Pupuk pabrikan juga berma­saah terutama urea. Kandungan urea tidak baik untuk air mi­num. Masuknya urea dan jenis pupuk lain kedalam sumur dan sungai dipastikan bertambah banyak. Selagi kita belum me­lepaskan diri dari belenggu ber­tani tidak pro ekologis. Pastinya suatu saat kita akan mengalami hal ini, ditambah lagi dengan kita selalu butuh makan teru­tama beras. Budidaya padi akan terus digalakkan. Tentu sema­kin pekat pestisida tadi masuk kedalam tanah. Pupuk urea tadi juga semakin banyak.

Jika kita melihat kondisi penduduk yang sebagian be­sar masih bergantung kepada air sumur dan kemasan maka jelas suatu saat akan muncul bahaya. Dua sumber air yang paling banyak digunakan diper­desaan di Indonesia. Menurut BPS (2013) ada sekitar 16498 ribu desa yang menggunakan air kemasan dan ada sekitar 28013 ribu desa yang menggu­nakan air sumur. Dua sumber air ini yang paling digunakan oleh masyarakat diperdesaan. Kedua-duanya kalau tidak dike­lola menjadi bencana bagi umat manusia.

Bergesernya manusia meng­gunakan air kemasan karena tingkat kepercayaan akan kurang terhadap air yang ber­mutu. Disamping tidak mau repot untuk memasaknnya terlebih dahulu. Satu sisi air kemasan menguntungkan bagi manusia. Sisi yang lain air ke­masan membuat manusia ti­dak mau memperbaiki kualitas air. Manusia membiarkan saja kualitas air makin buruk sebab masih berpikir ada air kema­san. Suatu saat air kemasan yang disedot dari gunung juga makin berkurang debit airnya. Berkurang karena airnya diam­bil terus menerus.

Kondisi ekologisnya makin rusak. Daerah hijaunya makin berkurang sehingga suatu dae­rah tadi tidak bisa menyimpan air. Satu sisi penyedotan terlalu parah dilakukan. Bersamaan dengan kebutuhan manusia akan air tadi. Akhirnya air ke­masan langka dan juga kita mengalami kekeringan. Air kita juga tercemar karena tidak diperbaiki mutunya dari seka­rang. Nampak kita terlena den­gan kekayaan air ini.

Untuk itu ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, mewujudkan pertanian ramah ekologis bukan lagi wacana. Kita tidak perlu melakukan per­luasan lahan dan lain sebagain­ya. Mempertahankan lahan yang sudah ada. Menggunakan pertanian green house (rumah kaca) secara masal. Akhirnya hama tidak bisa masuk sehing­ga mengurangi penggunaan pestisida. Inovasi pertanian ini harus segera diwujudkan sebe­lum negeri kita makin parah terutama kerusakan ekologis.

Kedua, mengkonservasi kembali hewan-hewan alami yang jadi musuh alami. Musuh alami itu mati dialam sehingga yang bertahan serangga peny­erang tumbuhan. Hidupkan kembali laba-laba. Kita terlalu sepele dengan laba-laba sehing­ga kita membunuhnya dengan pestisida. Kita juga meremeh­kan jenis katak sehingga katak punah dan kita merasakan hama-hama yang banyak tadi. Ketiga, menggerakkan kembali pertanian mina padi jika perta­nian dengan penggunaan green house belum bisa terwujud.

Mina padi maksudnya, meng­gunakan ikan bersama dengan menanam padi disawah. Dengan cara itu ham yang jatuh ke air akan dimakan ikan. Hal itupun akan menumbuhkan ekosistem baru seperti datangnya katak tadi. Keempat, tata ruang hijau pertanian. Pinggiran kebun-ke­bun sebaiknya dikosongkan un­tuk daerah resapan air.

Jangan semua lahan diper­gunakan untuk kebun. Kadang merasa rugi tidak digunakan namun bencana saat banjir. Terakhir, pemerintah segera membudayakan lebih optimal penggunaan pupuk organik. Jalan inilah yang bisa ditem­puh untuk menyelamatkan air dan kesuburan tanah. Satu sisi akan bertentangan dengan pabrik pembuat pupuk yang tidak organik. Meski demikian perusahaan itu bisa melirik bis­nis yang organik kedepannya sehingga tidak akan merugikan pihal lain. (*)

 

loading...