Untitled-18Bisnis kudapan kini makin beragam jenis maupun variannya, mulai dari makanan khas Indonesia hingga menu makanan adaptasi dari luar negeri. Meski kian banyak camilan asing ikut meramaikan bis­nis kuliner di dalam negeri, tetapi makanan tradisional tetap tidak ditinggalkan penggemarnya. Apa­lagi saat ini inovasi menu kian gen­car dilakukan para pelaku usaha lokal.

Salah satunya yang dilakukan oleh Anton Wibowo di Tangerang. Lewat merek usaha King Banana, dia menjajal camilan pisang gore­ng keju renyah dengan tamba­han berbagai jenis taburan di atas­nya.

Meski baru memulai usaha lima bulan lalu, Anton percaya diri un­tuk menawarkan kemitraan usaha sejak dua bulan lalu. Saat ini sudah ada empat gerai yang beroperasi, dua gerai milik pusat dan dua gerai lainnya milik mitra usaha.

Anton menawarkan dua paket kemitraan yakni paket full senilai Rp 7 juta dan paket ekonomis seharga hanya menyediakan tempat usaha saja karena semua peralatan usaha mulai dari gerobak, kompor, waRp 3,5 juta. Untuk paket full mitra jan, kemasan, bahan baku dan lain­nya sudah disediakan pusat. “Kami juga akan memberi pelatihan dan pendampingan ketika pembukaan gerai,” ujarnya, kemarin. ­

Adapun paket kedua hanya akan mendapatkan alat promosi berupa banner King Banana, bahan baku awal yakni tepung krispi, kemasan, dan berhak menjajakan delapan macam topping. Menurut Anton, kelebihan produknya terletak pada varian taburan yang banyak dan up to date sehingga konsumen ti­dak bosan. Beberapa di antaranya, seperti karamel, durian, tiramisu, blackforest, stroberi, blueberry, sri­kaya, dan lainnya.

Harga jual pisang goreng keju original Rp 10.000 per kotak. Menu dengan tambahan topping dijual Rp 12.000−Rp 14.000 per kotak. Target­kan mitra bisa menjual 40 kotak−50 kotak per hari. Dari situ, estimasi omzet berkisar Rp 10 juta−Rp 12 juta per bulan. Setelah dikurangi bi­aya sewa tempat, pembelian bahan baku, gaji pegawai, dan biaya op­erasional, mitra masih bisa meraup laba bersih sekitar 25%-30%. “Tar­get balik modal maksimal enam bu­lan,” kata dia. Pusat tidak mengutip biaya royalti, tetapi mitra memasok tepung krispi dan kemasan ke pusat. Lokasi usaha disarankan di wilayah padat penduduk misal dekat pe­rumahan atau di halaman minimar­ket.(Yuska Apitya|net|ed:Mina)

loading...

1 KOMENTAR

Comments are closed.