Home Bisnis Today UKM Today MERAJUT UNTUNG DARI LAMPION BENANG

MERAJUT UNTUNG DARI LAMPION BENANG

0
785

164934_lamputidurdaribenang1

Penerangan lampu tentu sudah menjadi kebutuhan untuk menjalani berbagai aktivitas terutama di dalam ruangan. Namun tidak hanya sebagai alat penerang ruangan, lewat tangan-tangan kreatif para perajin, lampu bisa sekaligus menjadi penghias ruangan. Sudah banyak kreasi bentuk maupun bahan baku lampu yang digunakan para perajin untuk menciptakan keunikan dalam produknya.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Lampu dengan berbagai inovasi bentuk dan bahan baku ini ban­yak dibutuhkan untuk aksesori interior hotel, restoran hingga kafe. Lampu dekorasi seperti ini juga banyak dicari untuk memperindah ruangan pada saat acara-acara spesial sep­erti pesta pernikahan dan ulang tahun.

Salah satu inovasi lampu dekorasi yang unik dan memiliki nilai kreativitas tinggi adalah lampu dari untaian benang. Bentuk lampu ini beraneka macam dan mampu memberi nuansa berbeda karena cahaya dari lampu menerabas benang.

Ray Abdul Fatah, pembuat lampion karakter hasil rajutan benang asal Bekasi, Jawa Barat mengatakan, lampu jenis ini memiliki nilai jual yang tinggi. Bagi Ray, lampu jenis ini cukup jarang ditemui dan tidak diproduksi di pabrik manapun kare­na tidak dibuat dengan mesin alias hand­made.

Untuk membuat lampu karakter dari benang ini, seseorang harus memiliki ke­ahlian khusus dalam merangkai benang menjadi tudung lampu. “Pengerjaannya memang cukup rumit,” kata dia.

Ide menjalankan bisnis ini didapat Ray ketika dia berkunjung ke Yogyakarta, Dia melihat banyak perajin lampu benang yang produknya laris diserbu wisatawan. Sedangkan pada saat itu, Ray berpikir be­lum ada penjual sejenis di sekitaran Jabo­detabek. Akhirnya Ray belajar otodidak melalui video tutorial-tutorial di Youtube.

Ray mendirikan usaha lampunya den­gan nama Ravvy 26 House pada Maret 2014 lalu di bilangan Bekasi. Tempat itu dia ja­dikan bengkel produksi lampu sekaligus tempat penjualan karyanya. Meski masih menjadi orang baru di bidang ini, Ray mengaku pendapatan dari penjualan lam­punya sangat lumayan. Bahkan ia menjadi­kan profesi ini sebagai profesi utamanya.

Lampu karakter benang buatan Ray banyak digunakan juga sebagai pemanis ruangan kantor, hotel, restoran, dan rumah tangga. Selama setahun menggeluti bisnis ini, produknya cukup diminati pasar.

Tahap awal pembuatan produk ini adalah dengan mengolesi bola karet den­gan lem. Setelah itu produk dijemur se­lama satu hari. Setelah itu bola karet di kaitkan benang-benang membentuk bu­latan. Setelah kering bola karet yang sudah dibalut benang dikempeskan memakai jarum dan bola karet di keluarkan. Setelah itu jadilah benang yang berbentuk bulat.

Ray biasanya mengerjakan satu lampu dalam sehari. Jika di musim penghujan Ray mengaku kegiatan produksinya se­dikit terganggu karena proses pengeringan terhambat. Saat ini dia memiliki delapan orang karyawan dengan kapasitas produk­si hingga 200 lampu per bulan.

Hasil karya Ray dibanderol dari Rp 95.000 hinggaRp 125.000 per unit. Jika ada pesanan khusus harga jual bisa lebih mahal dari harga rata-rata. Dia bilang, bentuk karakter yang paling laris adalah karakter kartun Frozen, Hello Kitty, dan Doraemon.

Ray mengaku bisa mengantongi omzetnya hingga Rp 30 juta per bulan. Dia banyak berpromosi lewat situs dan berb­agai media sosial.

Sementara itu, Perajin lampion asal Banyumas, Jawa Ten­gah, Marta Afrianto, mengaku pesanan pun mengalir dari berbagai kota di Indonesia. “Awalnya iseng-iseng, karena istri sakit, kalau malam mau ngapain terus saya iseng-iseng buat. Kebetulan lihat kakak juga buat kerajinan ini cuma dia buat hanya 1 macem. Kita coba berinovasi dengan membuat bentuk karakter kartun yang digemari anak-anak yang sedang tren seperti angry birds, hello kitty, mickey mouse, donald bebek serta lampu gan­tung,” kata Marta.

Selain membuat kerajinan lampion dan lampu tidur yang disesuaikan dengan karakter tokoh yang sedang naik daun. Bisnisnya yang sudah berjalan selama 1 ta­hun ini terus berkembang setelah pemasa­rannya merambah ke dunia online.

“Dulu saya buat polos. Tapi karena kendala pemasaran saya coba download-download gambar, coba cari terus hingga mulai ada inovasi-inovasi untuk dari kara­kter tersebut untuk pemasaran. Ternya­ta pangsa pasarnya bagus sampai saya keteteran. Saat ini saya masih berani ke pesanan-pesananan saja lewat online. Kita belum berani nyetok,” jelasnya.

Buah tangannya kini sudah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia, antaralain ke Jember, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Bali termasuk di Banyumas. Harga yang dipatok per lampu pun hanya Rp 50.000 hingga Rp 120.000 tergantung bentuk dan ukuran. “Pesan terbanyak itu ke Jember, dua minggu sekali 50 buah lampu tidur berbagai macam ukuran dan model,” tam­bahnya.

(KTN/DTK)