Home Today Update Art And Culture NASI TUMPENG – KULINER TRADISIONAL MASYARAKAT INDONESIA

NASI TUMPENG – KULINER TRADISIONAL MASYARAKAT INDONESIA

0
226

Jajan_Pasar_in_JakartaNia S. Amira
[email protected]

Bagi kebanyakan masyara­kat Indonesia, terutama suku Jawa, Bali dan Mad­ura memiliki tradisi mem­buat tumpeng saat melaksanakan kenduri, merayakan suatu peris­tiwa penting. Makna yang terkan­dung dalam sebuah nasi tumpeng berhubungan erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pu­lau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng memang berasal dari tradisi kuno masyara­kat Indonesia dan karenanya ben­tuk Tumpeng yang dibuat seperti gunung itu merupakan personifika­si gunung Mahameru di India, tem­pat bersemayam para hyang, atau Dewa Dewi serta para leluhur (ne­nek moyang). Seperti diketahui, adat istiadat masyarakat Jawa ban­yak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.

Dalam perkembangannya, tumpeng diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam sebagai agama yang masuk dan berkembang di Indonesia sejak abad ke 13, teru­tama di pulau Jawa. Pada masa itu, tumpeng dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan ke­pada Yang Maha Kuasa.

Dalam tradisi kenduri pada masyarakat Jawa dikenal sebutan Slametan, yaitu di mana tumpeng yang disajikan sebelumnya dido­akan menurut ajaran Islam. Menu­rut tradisi Islam Jawa, Tumpeng merupakan akronim dalam ba­hasa Jawa yaitu : yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Leng­kapnya, ada satu unit makanan lagi namanya Buceng, dibuat dari ketan yang merupakan akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh).

Sedangkan lauk-pauk yang me­nyertai tumpeng berjumlah 7 ma­cam, angka 7 dalam bahasa Jawa disebut pitu, artinya Pitulungan atau pertolongan. Tiga kalimat ak­ronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra’ ayat 80: “Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan ke­luarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan”. Menu­rut beberapa ahli tafsir, doa ini di­baca Nabi Muhammad SAW sewaktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan me­nyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan ke­pada Yang Maha Pencipta agar kita memperoleh kebaikan dan terhin­dar dari segala keburukan, serta memperoleh kemuliaan dari yang memberikan pertolongan.

Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Karena memiliki ni­lai rasa syukur dan perayaan, kini tumpeng sering kali menggantikan fungsi kue dalam perayaan pesta ulang tahun.

Masyarakat umum di Indonesia biasa menyebut Nasi tumpeng seb­agai ‘tumpengan’. Di Yogyakarta dan kota-kota lainnya di Jawa berkem­bang tradisi tumpengan pada malam sebelum tanggal 17 Agustus yang merupakan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan pada kesempatan tersebut para orang tua bersama dengan generasi muda berdoa bersama di depan Tumpeng untuk mendoakan keselamatan Negara.

Setelah pembacaan doa, pucuk tumpeng yang biasanya dimasak berwarna kuning itu dipotong dan diberi­kan kepada orang yang paling pent­ing, paling terhor­mat, paling dimu­liakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksud­kan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang un­tuk bersama-sama menikmati tumpeng. Ini adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tu­han sekaligus merayakan kebersa­maan dan kerukunan.