KASUS pencabutan izin dan jadwal penerbangan Lion Air oleh Kementerian Perhubungan (Kemen­hub) setidaknya menjadi sebuah legitimasi bahwa pemerintah tengah serius menata sistem penerban­gan di Indonesia.

Keberadaan bandar udara (bandara) di dalam negeri, khususnya akhir-akhir ini tampaknya be­lum dapat disebut menjadi tempat yang aman bagi penumpang pesawat udara. Modernisasi bandara yang menumbuhkan kesan canggih ternyata belum mampu mencegah kenakalan maskapai. Kelemahan seperti itu tidak boleh mendapatkan toleransi seke­cil apa pun. Pengelola Bandara dan maskapai pener­bangan harus bertanggung jawab penuh.

Menyederhanakan risiko biasanya selalu diikuti dengan tindakan menurunkan standar pengamanan. Kalau standar pengamanan diturunkan, konsekuen­sinya sangat jelas. Penurunan standar pengamanan bagasi penumpang pun juga wajib dibenahi. Kasus demi kasus pembongkaran dan pencurian di bagasi pesawat juga berkali-kali terjadi. Perilaku penga­manan seperti ini tentu saja sangat memprihatinkan.

Pengamanan maksimal terhadap bagasi penum­pang harus selalu dilakukan tanpa perlu menunggu terungkapnya kasus pembobolan itu. Perlu diingat­kan lagi bahwa kalau standar pengamanan di banda­ra tidak ditingkatkan, penumpang pesawat terbang akan trauma. Sebab, bandara akan di asumsikan sebagai tempat yang berisiko. Bukan hanya risiko ke­hilangan barang, tetapi risiko terseret masalah. Seka­rang, para calon penumpang pasawat boleh merasa takut kalau koper mereka bisa dijadikan tempat untuk menyelundupkan barang-barang terlarang. Maka, setelah terungkapnya kasus pembobolan kop­er penumpang itu, pengelola bandara dan maskapai penerbangan harus benar-benar fokus meningkat­kan standar pengamanan.

Bandara harus menjadi tempat yang aman dan nyaman. Bandara bukan hanya menjadi tempat menaikkan dan menurunkan penumpang. Bandara juga mencitrakan budaya bangsa. Murid-murid sekolah dasar sudah diberi pemahaman bahwa ban­dara dan pelabuhan laut itu adalah pintu gerbang negara. Maka, semua pihak atau komponen yang bertugas memberikan pelayanan di pintu gerbang negara itu sekali-kali tidak boleh bertindak tercela. Sebab, sekali saja terjadi perbuatan tercela oleh para petugas di pintu gerbang negara, citra nega­ralah yang dipertaruhkan.

Para wisatawan asing yang kopernya pernah di­bobol para porter nakal pasti kecewa dan mempun­yai persepsi yang buruk tentang manajemen bandara di Indonesia. Kalau pengalaman buruk itu dituturkan ke rekan-rekannya, citra Indonesia menjadi jelek. Ke­menterian Perhubungan RI perlu memberi perhatian ekstra terhadap kasus ini. Sebab, pihak berwajib su­dah mengeluarkan dugaan adanya mafia pembobol koper penumpang di bandara. Kalau sudah dilakukan oleh mafia, berarti modus kejahatan ini tidak hanya terjadi di satu bandara, tetapi di banyak bandara.

Keseriusan dalam menangani kejahatan di ban­dara ini sangat penting karena citra negara ini diper­taruhkan. Karena citra yang buruk dalam hal keadaan bandara pasti akan sangat berpengaruh pada kun­jungan warga asing ke Tanah Air. Apalagi Presiden Joko Widodo baru saja menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta pada 2018 mendatang. Kalau masalah ini tidak ditangani serius, target tersebut dipastikan akan gagal. Bagaimana mungkin mereka mau datang ke negara yang tidak ada jaminan keamanannya? Karena itu sudah seha­rusnya pemerintah dan pihak terkait lainnya mencari solusi yang efektif guna menghilangkan kejahatan yang kerap terjadi tidak saja di Bandara Soekarno- Hatta, tetapi juga di berbagai bandara di Tanah Air.

Apalagi kejadian pencurian di bandara ini tidak terjadi sekali atau dua kali. Ada yang mau melapor, ada juga yang enggan melakukannya karena tidak mau repot. Korbannya pun tidak saja warga lokal, para warga asing juga pernah menjadi sasaran pen­curian tas. Tentu kejadian ini sangat memalukan karena bandara ini tak mampu menjamin keamanan para penumpangnya. Ada sejumlah faktor mengapa kejahatan di bandara masih terus terjadi. Pertama, kita terlalu permisif terhadap kejahatan di bandara. Sikap yang cenderung abai ini menyebabkan para Stakeholder yang terkait dengan penyelenggaraan di bandara tidak serius dalam soal pengamanannya.

Kalau serius mengamankan, tentu hal ini tidak sampai terjadi berulang kali. Adanya laporan kejadi­an pencurian meski hanya satu harusnya menjadi celah untuk membongkar secara serius kejahatan tersebut sehingga tidak sampai berlarut-larut dan banyak menelan korban. Kedua, ringannya hukuman bagi sang pencuri membuat hal itu tidak memberi­kan efek jera. Sudah menjadi rahasia umum, kasus pencurian seperti ini tidak pernah memiliki huku­man yang berat. Jika terjadi kasus pencurian demiki­an, biasanya yang terkena sanksi hanya pelaku di lapangan. (*)