ILAGA TODAY – Kondisi keamanan di Kabupaten Puncak, Papua sudah normal kembali pascarentetan kasus penembakan yang membuat sebagian warga terpaksa harus mengungsi.

Suasana yang kondusif ini dibuktikan dengan makan bersama atau acara bakar batu khas masyarakat lokal setempat. Acara untuk sebuah prosesi perdamaian ala masyarakat di pegunungan Tengah Papua ini digelar masyarakat nusantara, masyarakat asli Puncak, TNI/Polri, kepala suku, dan toko gereja di Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Sabtu 5 Oktober 2019.

Kondisi di Kabupaten Puncak sejak Kamis 3 Oktober sudah berangsur angsur kondusif. Aktivitas ekonomi seperti jual/beli di Pasar Ilaga sudah mulai berlangsung kembali. Sejumlah kios milik masyarakat pendatang juga sudah mulai buka kembali seperti biasa tanpa rasa takut. Bahkan penerbangan di Bandara Aminggaru Ilaga dalam sehari bisa melayani 10 hingga 20 penerbangan pesawat terbang. Para tukang ojek juga sudah beraktivitas seperti biasa.

Kepala Suku Besar Ilaga, Hosea Wonda mewakili masyarakat besar Puncak di sela acara Bakar Batu menjamin keamanan bagi masyarakat nusantara yang ada di Ilaga untuk beraktifitas seperti biasanya tanpa rasa takut. Wonda meminta kepada mereka yang sudah terlanjur mengungsi agar segera kembali ke Ilaga untuk melaksanakan aktifitas seperti biasa.

“Masyarakat nusantara, PNS, guru, saya minta agar kembali ke Ilaga. Kami menjamin keamanan kalian,” tuturnya.

Sementara itu bupati Kabupaten Puncak Willem Wandik mengatakan, seusai makan bersama dengan masyarakat ada beberapa hal yang ada beberapa hal yang di sampaikan.

Di antaranya yakni kesepakatan mengakhiri kontak senjata di Ilaga. Karena dampak dari kontak senjata membuat trauma kepada masyarakat sipil serta aktivitas pembangunan di ilaga tidak berjalan dengan baik.

Bupati menyatakan, TPM-OPM melalui pimpinannya Lekagak Telenggen sudah menyatakan tidak akan berperang lagi di Ilaga.

“Bahkan masyarakat di Distrik Ilaga Utara tempat lokasi sejumlah rentetan peristiwa penembakan ternyata dengan acara makan bersama ini semua warga sudah menyatakan kembali ke tempat tinggalnya. Hal itu ditandai dengan mereka membawa bendera merah putih secara bersama sama,” tuturnya.

Willem Wandik mendorong pendekatan yang di gunakan untuk membangun Papua adalah pendekatan hati.

“Buat dialog dengan demikian masyarakat Papua berasa bagian dari republik ini. Dan mereka akan menerima negara ada di tengah mereka ketimbang menggunakan pendekatan militer,” katanya. (net)

loading...