BOGOR TODAY – Asri (31) pemilik warung di bilangan Kelurahan Nanggewer, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor merasakan dampak persoalan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dikeluhkan para orang tua siswa karena keterbatasan akses internet.

Dengan begitu, dirinya menyediakan akses Wireless Fidelity (Wifi) untuk anak-anak, sehingga warung tersebut selalu ramai didatangi anak-anak setiap pagi

Asri mengatakan, anak-anak akan mendatangi warungnya tersebut pada pagi hari untuk belajar secara daring. Dia hanya hanya memasang tarif Rp 2.000 bagi setiap siswa untuk bisa sepuasnya menikmati layanan internet.

“Awalnya karena suami suka main game, terus ternyata ramai anak-anak main game di sini. Trus kita kasih tarif Rp 2.000 untuk seharian,” ujarnya, Selasa (11/8/2020).

Ia menjelaskan, kedainya ramai dikunjungi anak-anak untuk mengikuti sekolah daring, lantaran ada satu siswa SD yang meminta izin mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan meminta koneksi internet. Dengan senang hati ia pun mengizinkan anak itu untuk mendapatkan akses Wi-fi.

“Mulai makin ramenya pas corona saja, ada anak minta izin boleh gak katanya buat belajar online di sini. Terus kata saya boleh, bagus malahan untuk belajar. Orang tuanya juga pada dateng ke sini nitipin anaknya, ngaku tekor kalau harus beli data setiap bulan,” kata Asri.

Menurut Asri, kini kedai yang dibuka sejak 2015 ini selalu didatangi siswa SD hingga SMA setiap harinya. Karena itu, ia harus membuka kedai lebih pagi dari biasanya demi memberikan akses internet kepada anak-anak yang harus mulai sekolah secara daring tersebut.

“Sebelum seperti ini, biasanya buka pukul 09.00 WIB, tapi karena anak sekolah biasanya dikasih tugas pukul 07.30 WIB kita bukanya jadinya pukul 07.00 WIB,” ucap Asri yang dipanggil Tante oleh anak-anak sekolah.

Asri menyebut hanya ingin membantu anak sekolah yang kesulitan mengakses internet. Dia tidak menyangka warungnya malah menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang menitipkan anaknya untuk belajar di kedai miliknya yang menjadi lebih laris daripada biasanya. (Bambang Supriyadi)