BOGOR TODAY – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan Komunitas (PSBMK) yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor menuai protes dari sejumlah musisi Bogor.

Mereka menganggap pemberlakuan PSBMK tidak adil bahkan dianggap mematikan mata pencaharian sebagai musisi yang biasa bekerja di malam hari. Mereka pun mendatangi Kantor Wali Kota Bogor yang berada di Jalan Ir Djuanda untuk menyampaikan aspirasinya, Kamis (3/8/2020).

“Kedatangan kami untuk memprotes kebijakan Pemkot Bogor dan Gugus Tugas Covid-19 tentang penerapan PSBKM yang berlangsung sejak Sabtu (29/8) lalu. Kami menilai upaya Pemkot Bogor dalam usahanya menekan penyebaran Covid-19 yang meningkat dan menjadikan Bogor sebagai zona merah sudah positif,” kata Koordinator Aksi, Ahmad Zulfikar di Balaikota.

Menurut dia, kebijakan tersebut berdampak buruk bagi para musisi Bogor yang mayoritas mencari nafkah dan beraktifitas malam hari di banyak tempat seperti kafe atau restoran.

“Kebijakan ini berimbas pada aspek ekonomi sebagian warga Bogor yang mencari nafkah dan bekerja serta beraktivitas di malam hari, termasuk para musisi pekerja seni harian,” ujarnya.

Ia berharap, Pemkot Bogor memiliki solusi atas imbas yang nyatanya terjadi pada mereka. Dikatakannya, sebagai profesional dan warga negara Indonesia, tentunya profesi para musisi juga memiliki hak yang sama dengan profesi lainnya, seperti para pekerja yang bekerja dari pagi hingga sore hari.

“Kami di sini memohon, atas dasar keadilan sosial, Pancasila sila kelima. Kami minta wali kota Bogor untuk meninjau ulang kebijakan PSBMK dan aturan jam malam ini,” ucapnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya menyampaikan bahwa saat ini kasus covid-19 di Kota Bogor sangat mengkhawatirkan. “Tadi saya ngobrol dengan perwaiklan musisi jadi saya ingin menyampaikan beberapa hal yang pertama situasi Kota Bogor saat ini memang darurat kasus covid terus naik jadi kita harus betul-betul lebih baik lagi, angka-angkanya mengkahwatirkan sekali kita tidak ingin ada banyak korban berjatuhan,” kata Bima.

Bima juga memahami konsekuensi dari pembatasan operasional dan jam malam. Untuk itu, Pemkot Bogor berupaya mencari soslusi untuk memfasilitasi para musisi yang kehilangan mata pencaharian karena pembatasan jam operasional dan jam malam.

“Karena itu di dalam kami bersepakat mungkin tidak akan maksimal tapi Insya Allah ini ihtiar kita jadi saya ingi menerbirkan surat edaran yang meminta seluruh pusat perbelanjaan mal, hotel, kantor-kantor pemerintahan suapaya sampai tanggal 11 memfasilitasi teman-teman musisi,” pungkasnya. (Heri)