Opini-1-V-Sigit-Tri-PrabowoOleh: V SIGIT TRI PRABOWO

Sebagai bekas ‘‘atlet‘‘ panjat pinang andalan RT, saya menganggap Agustus adalah bulan penuh kegairahan. Bu­lan ketika batang-batang pinang ditancapkan, dan di puncaknya hadiah digantungkan. Panjat pinang adalah lomba penuh sor­ak-sorai bagi kami, orang-orang kecil. Kontestasi untuk meraih kegembiraan bersama, jauh melampau nilai hadiah yang di­gantung di puncak. Kegiatan yang jauh dari caci-maki, fitnah, dan manipulasi.

Langkah pertama dalam strategi panjat pinang adalah kese­diaan bercermin diri. Tiap anggota regu mesti memahami potensi dan kelemahan diri. Atlet bertu­buh gempal mesti ikhlas menem­patkan diri sebagai dasar supaya ia tidak menjadi beban pemain di bawahnya. Atlet berikutnya yang sedikit lebih kurus akan meman­jat sambil bertumpu di pundak si gempal. Begitu seterusnya sampai pemain yang paling kecil dan ku­rus. Enak dong pemain yang pal­ing kurus karena dia yang akan meraih hadiah? Jangan khawatir, kami, para atlet panjat pinang selalu bersikap kesatria. Pemain teratas akan meraih hadiah kemu­dian menjatuhkannya ke bawah untuk kemudian dikumpulkan dan dinikmati bersama.

Si gempal di bawah pun tidak pernah merasa khawatir bahwa sang peraih hadiah bakal ber­tindak licik menyimpan hadiah untuk dirinya. Adapun si kurus juga tak berat hati menjatuhkan hadiahnya ke bawah karena tak mungkin si gempal di bawah sana melarikannya. Panjat pinang juga bukan koalisi sarat kepentingan kelompok. Pembagian hadiah dalam panjat pinang tak berhubungan dengan besarnya kekua­tan atau kelincahan menggapai bingkisan. Hadiah dibagi sesuai kebutuhan, karena semua sadar soal sumbangsih tak ada yang layak mengklaim paling berjasa.

Karena kesadaran itulah kami lebih tanggap apa yang dibutuh­kan sesama. Bingkisan tas sekolah tentu jadi milik dia yang anaknya hendak masuk sekolah. Bingkisan termos air panas untuk dia yang istrinya sebentar lagi melahirkan dan tentu sering butuh air panas. Dalam panjat pinang kami per­caya untuk saling menggantung­kan harapan. Kami ikhlas bekerja keras karena tahu teman-teman kami yang lebih kuat, mendukung dengan sepenuh hati. Sementara yang di bawah rela berkorban menjadi tumpuan karena tahu ha­sil kerja keras tak hanya dinikmati di atas sana.

Sarat Pengajaran

Panjat pinang tidak hanya menjadi sumber kegembiraan. Ia juga sarat pengajaran. Dengan panjat pinang, kami tahu bahwa keikhlasan, keteguhan, dan ke­percayaan adalah perpaduan un­tuk menuai keberhasilan. Kami, para pemanjat kurus kecil ber­semangat bekerja keras karena percaya pada dukungan kukuh sahabat-sahabat di bawah.

Sementara para sahabat yang berbadan gempal ikhlas melayani karena mereka sudah tahu bahwa hasil kerja keras ini adalah mi­lik bersama. Bahwa para peraih hadiah di atas tak akan pernah melupakan dukungan yang di bawah. Dalam hidup bangsa yang penuh karut-marut ini para bekas ‘‘atlet‘‘ panjat pinang selayakny­alah terus menyalakan semangat.

Banyak kekecewaan kami rasakan, banyak pengkhianatan kami saksikan, namun kami tak pernah hilang harapan dan ke­percayaan. Bisa jadi kepercayaan kami telah dimanfaatkan, atau malah disalahgunakan. Wahai para penguasa, sesungguhnya kami sudah memiliki pelajaran bagaimana harus hidup ber­bangsa. Maka janganlah kalian merusaknya dengan mencerai-beraikan kami dalam kotak-kotak kepentingan. Janganlah membu­juk-bujuk kami untuk menggadai­kan harapan demi kursi kalian.

Bahkan, jika ada waktu, su­dilah berpanjat pinang bersama kami supaya Anda juga bisa bela­jar. Belajar tentang keikhlasan dan pengorbanan, termasuk menge­nai kepercayaan dan pelayanan, dan terutama belajar memeluk teguh batang pinang penopang harapan: Pancasila. (*)

1 KOMENTAR

  1. Saya tidak tahu bagaimana artikel saya ini bisa muncul di web ini dengan ilustrasi wajah yang tidak saya kenal. Untuk konfirmasi silahkan hubungi 085723120871

Comments are closed.