Untitled-11PEMERINTAH tengah menghitung harga jual bahan bakar minyak (BBM) terbaru yang akan diberlaku­kan mulai kuartal kedua 2016. Kementerian ESDM mempertimbangkan, harga baru premium ini agar tak berpengaruh besar pada tingkat inflasi.

Oleh : Yuska Apitya
[email protected]

Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan guna memperoleh perhitungan yang tepat, saat ini pemerintah sedang menyusun formula teranyar peri­hal penetapan harga jual BBM yang dilego di masyarakat. “Untuk penyesuaian harga BBM, sedikit lagi kita umumkan. Saat ini kita masih mencari formula yang bisa dijaga,” ujar Sudirman di Gedung Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Jakarta, Senin (28/3/2016).

Sudirman menjelaskan, adanya formula teranyar mengenai perhi­tungan BBM diperlukan demi memi­nimalisir dampak dari fluktuasi har­ga minyak dunia. Sebab, di tengah tren penurunan harga minyak nyat­anya tak menjadikan harga-harga ba­rang otomatis menurun.

Mantan petinggi divisi pengadaan minyak dan produk BBM PT Pertam­ina (Persero) ini meyakini dengan adanya formulasi baru mengenai penetapan harga BBM, harga-harga yang dilego di masyarakat dapat ter­jaga kestabilannya. “Artinya, harga BBM tidak akan naik atau turun yang berlebihan sehingga ada kestabilan harga. Apalagi pada bulan Juli akan masuk musim liburan (Lebaran), karena itu kita sebisa mungkin agar nanti tidak berpengaruh pada bulan Juli, sehingga kita cari formula agar bulan Juni atau Juli tidak ada kenai­kan,” tambahnya.

Seperti diketahui, saat ini harga BBM jenis premium untuk wilayah Ja­wa-Bali dilego pada level Rp7.050 per liter. Sedangkan untuk solar bersubsi­di dijual pada harga Rp5.650 per liter.

Sementara untuk harga BBM non subsidi seperti Pertamax Plus berada di level Rp8.750 per liter, Pertamina Dex Rp8.600, dan Pertalite Rp7.700 per liter.

“Siapa yang paling kena akibat­nya kalau harga (barang) naik, ya ma­syarakat kecil paling bawah,” tandas Sudirman. Pada kesempatan berbe­da, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria berpendapat pemerintah harus ber­hati-hati dalam menetapkan harga jual BBM menyusul fluktuasi harga minyak dunia.

Sofyano menegaskan, demi kepentingan orang banyak pemer­intah tidak harus terpaku dengan formula harga yang telah ditetap­kannya pada tenor tiga bulan dengan menggunakan acuan harga rata-rata mops dan kurs rupiah ter­hadap dolar AS di tiga bulan terakhir. “Harga minyak dunia sangat anoma­li. Jika tiga bulan yang lalu rata-rata bertengger pada posisi 28 dolar AS hingga 34 dolar AS/barrel, maka saat ini perlahan-lahan telah merangkak naik mendekati posisi 41 dolar AS,” kata Sofyano.

Terpisah, Dirjen Migas Kemen­terian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, menambahkan, pemerintah mem­pertimbangkan berbagai hal dalam penetapan harga BBM jenis Solar dan Premium. Dia memberi sinyal bahwa penurunan harga tidak akan terlalu besar, sebab pemerintah ingin men­jaga kestabilan perekonomian, jan­gan sampai harga BBM turun atau naik terlalu jauh. “Semua usul diper­timbangkan. Yang penting stabilitas, stabilitas harus kita pertimbangkan. Harga MOPS kan sudah mulai naik nih. Lebaran itu bulan Juli kan? Kalau kita pas naik di sana, tambah berat. Nah ini yang harus kita pertimbang­kan, bagaimana caranya menstabil­kan biar waktu lebaran harga BBM nggak naik tinggi,” paparnya.

Pihaknya tak ingin harga BBM sekarang turun jauh, tapi naik pada waktu menjelang Idul Fitri nanti. Se­bab, kenaikan harga BBM menjelang hari raya dapat membuat harga-harga barang kebutuhan pokok mel­onjak. Karena itu, harga BBM harus dijaga supaya tidak menimbulkan gejolak bagi perekonomian nasi­onal. “Itu yang jadi pertimbangan kita, bagaimana penurunan ini bisa menjangkau saat lebaran nggak naik. Kalau sekarang kita turunkan terlalu dalam, nanti pas lebaran naik, nanti harga-harga akan naik,” tutupnya.

Sebagai informasi, harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premi­um dan Solar yang dijual di SPBU saat ini, yaitu Rp 7.050/liter dan Rp 5.650/liter, sudah di atas harga keekonomian.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, harga BBM jenis Premium sudah di bawah Rp 5.000/liter sejak akhir Desember 2015, dan Solar su­dah di bawah Rp 4.000/liter. Harga keekonomian bensin Premium men­capai titik terendahnya pada 3 Feb­ruari 2016, yaitu Rp 4.800/liter. (*)

loading...