Dadeng-Khutbah

Sidang Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia

Pada kesempatan yang berbahagia ini, patutlah kita bersyukur kepada Allah SWT. Dan sambil duduk bersimpuh, marilah kita niatkan diri untuk lebih rutin dan konsisten di setiap kesempatan dan kesempitan, dimanapun dan kapanpun kita melangkahkan kaki dalam meniti tangga taqwa kepada Allah SWT.

Oleh : Dadeng S. Ependi, S.PdI,MM
Bahrul Uluum Bogor

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Di bulan yang mulia ini, kita sebagai umat Islam diingatkan akan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah, dimana Nabi Agung Muhammad SAW. diisra’kan dan dimi’rajkan oleh Allah SWT. dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, lalu diberangkatkan ke langit ke tujuh yaitu Sidratul Muntaha. Di bulan inilah Nabi Muhammad menerima wahyu atau perintah sholat secara langsung dari Allah tanpa melalui perantara malaikat Jibril, ini menunjukkan begitu pentingnya shalat lima waktu yang merupakan sendi agama dan menjadi tiang agama Islam. Sesuai dengan sabda Nabi; Artinya: Sholat (lima waktu) adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya berarti ia telah menegakkan agama dan barang siapa yang meninggalkannya berati ia telah merobohkan agama. (HR.Baihaqi)

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini juga menjadi ujian yang sangat besar bagi keimanan seseorang dalam meyakini kebenaran ajaran dan risalah yang dibawa oleh utusan Allah. Memang, kalau kita pikir bagaimana mungkin seseorang mampu untuk melakukan perjalanan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa kemudian dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha hanya dalam waktu satu malam saja. Padahal, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin kalau Allah menghendakinya. Ketidakpercayaan akan kekuasaan Allah yang mampu mengisra’- mi’rajkan Nabi dalam waktu satu malam membuat banyak orang yang tidak percaya dan berpaling dari kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan akhirnya mereka banyak yang kembali dalam kemunafikan dan kemusyrikan Naudzubillah mindzallik.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Peristiwa Isra’ Mi’raj itu benar-benar terjadi dan memang dikehendaki oleh Allah SWT. Karena dalam al-Qur’an sudah dijelaskan dalam QS: AL-Isra: 17 yang artinya : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami, sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui Dalam perjalanan Nabi ke Sidratul Muntaha ada beberapa hal yang diperlihatkan kepada Nabi. Diantaranya, beliau melihat ada beberapa orang yang sedang memotong-motong lidah mereka sendiri, kemudian beliau bertanya kepada Malaikat Jibril ”Wahai Jibril siapakah orang itu?”. Malaikat jibril menjawab; “Wahai Nabi Allah, itu adalah contoh umatmu yang ahli berpidato dan memberikan nasihat-nasihat kepada orang lain, tetapi nasihat itu tidak diamalkan untuk dirinya sendiri. Selain itu juga beliau melihat ada beberapa orang yang sedang mencakar-cakar wajahnya sampai mengelupas dan pulih kembali secara terus menerus, dan kemudian beliau bertanya kepada Malaikat Jibril; “Wahai Jibril siapakah orang itu?”. Jibril menjawab; “Itulah siksaan bagi umatmu yang suka menggunjing orang lain”.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Beberapa kejadian yang diperlihatkan kepada Nabi pada waktu Isra’ Mi’raj itu semua merupakan g a m b a r a n siksaan akibat dari perb u a t a n u m a t manusia. Q.S. Maryam 19: 59 yang artinya : Maka akan datang sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Dari pengalaman yang dilihat oleh Nabi Muhammad SAW., akhirnya beliau selalu mengkhawatirkan umatnya di setiap saat dan waktu. Bahkan di saat beliau sakit keras beliau berwasiat kepada umatnya dengan mengatakan: “ummati, ummati, ummati.” Karena itu, hendaklah kamu berhimpun dalam jama’ah, karena sesungguhnya kekuasaan Allah itu meliputi jama’ah. Barangsiapa menyimpang dari kebenaran akan dimasukkan ke dalam neraka. Ketahuilah bahwa Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi memerintahkan kepada kamu suatu perbuatan yang dimuai Diri-Nya sendiri. Maka Allah pun berfirman : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat- Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orangorang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS – Al-Ahzab : 56)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Oleh karena itu, marilah kita selalu mawas diri agar lebih bersyukur dan bertaqwa kepada Allah, dan selalu membekali diri untuk lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan yang semakin bebas ini. Akhirnya kita hanya bisa berharap dan berdo’a agar kita semua diberi hidayah oleh Allah SWT, dan mendapatkan syafa’at dari seorang Rasul yang selalu mengkhawatirkan umatnya dari siksaan api neraka. Saya panjatkan puji dan syukur kepada Allah atas karunia, taufik dan hidayah-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi pula bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang menyeru kepada jalan keridhaan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amiin.