Untitled-13HARGA jual jaket kulit original atau asli memang relatif tidaklah murah. Ini juga yang membuat jaket kulit asli tetap menjadi tren fashion ekslusif dan berkelas. Tentunya dengan tren fashion jaket kulit yang tak ada matinya ini membuat Sutarmanto tetap eksis menjadi pengusaha jaket kulit di Kota Bogor.

Oleh : Winda Herviana
[email protected]

Sebelum menjadi seorang pen­gusaha, Sutarmanto merupakan karyawan di salah satu perusa­haan jaket kulit terbesar di Asia yang berlokasi di Tangerang. Namun sayangnya, akibat perekonomian RI yang tak stabil, perusahaan penyuplai produk fashion brand ternama, seperti Pierre Cardin dan Harley Davidson ini pun ha­rus tutup. Para pekerja pun turut terkena imbas kejadian tersebut, termasuk Sutar­manto.

Lika-liku perjalanan Sutarmanto setelah mengalami PHK pun menjadi memori tersendiri baginya. Sebelum menjadi seorang pengusaha Kalong, dirinya terlebih dahulu berjualan aneka jajanan.

“Pernah saya berjualan donat den­gan memasukan ke kantin sekolah dan rumah sakit. Beberapa kali saya gonta-ganti usaha, intinya saya lakukan untuk berjuang hidup,” ujar Sutarmanto saat ditemui di lokasi produksi konveksi kulit Kalong, Jalan Raya Kedung Halang No­mor 189, Bogor.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Sutarmanto mulai tergerak melihat pasar konveksi kulit asli yang tak terlalu marak pada waktu itu. Akhirnya, pada tahun 2000 Sutarmanto mulai fokus dengan memproduksi jaket kulit asli.

“Saya lihat pada waktu itu maraknya adalah jaket dengan bahan sintetis. Ba­han sintetis sendiri terlihat mirip dengan kulit asli, padahal kualitasnya jauh berbe­da. Oleh karena itu, saya komitmen un­tuk memproduksi bahan kulit asli demi mempertahankan kepuasan konsumen dan untuk kualitas Kalong sendiri,” terangnya kepada BOGOR TODAY, Rabu, (22/6/2016).

Dengan modal awal sekitar Rp 20 juta, akhirnya Sutarmanto fokus untuk membesarkan usaha bisnis fashion kulit seperti jaket, sepatu, topi, tas, dan ak­sesoris lainnya. Belasan tahun mendal­ami sebagai pelaku usaha, Sutarmanto kini sudah memiliki tiga cabang yang berada di daerah Kedung Halang, Talang hingga Cilendek Barat.

Untuk kualitas bahan utama produknya pun tak perlu diragukan. Sutarmanto memilih kulit kambing, sapi, dan domba sebagai bahan utama produk kulitnya.

“Kualitas produk Kalong mengacu standar pasar ekspor, benang dan ja­hitannya pun menggunakan auto lock sehingga jika benang ada yang terbuka tak akan membuat benang lainnya ikut lepas,” terangnya.

Sutarmanto mengaku memang dirin­ya lebih membidik kalangan menegah ke atas. Untuk harga yang ditawarkan, jaket kulit Kalong miliknya menawarkan harga mulai Rp 1,8 jutaan. Kemudian, harga tas dibanderol Rp 450 ribu hingga Rp 3 juta.

“Kami memproduksi sepatu penga­man (safety shoes), yakni sepatu kerja yang dilengkapi pengeras depan dari baja, namun keunggulan produk kami ialah sepatunya lentur dan ringan. Harg­anya sekitar Rp 450 ribu,” tuturnya.

Dengan memasuki momen musim mudik lebaran yang sebentar lagi, dirin­ya kini tengah gencar memproduksi promo harga yang relatif murah, yakni paket lengkap untuk sepatu touring, ja­ket, dan sarung tangan seharga Rp 900 ribu.

Pengalaman menekuni bisnis se­lama belasan tahun membuat Sutar­manto sudah banyak makan asam garam dunia usaha. Produk yang di­jualnya pun sering mendapat pujian dan dipesan oleh berbagai kalangan atas.

Walau demikian, tak dimungkiri oleh Sutarmanto, fluktuatif jumlah pemesanan maupun pembelian tentunya berpengaruh besar untuk omzet yang diterimanya. Namun, ia tetap optimis usaha yang dirintisnya ini akan tetap eksis dan bertahan. (ed:Mina)