pertaliteYuska Apitya

[email protected]

PT Pertamina (Persero) mencatat lonjakan konsumsi Pertalite cukup besar di Januari 2017. Banyak pengguna kendaraan saat ini mulai meninggalkan Premium dan mengantre membeli BBM RON 90 itu di SPBU.

        Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, menjelaskan pada bulan lalu konsumsi rata-rata harian Pertalite yakni 32.000 kilo liter (KL). Namun pada Januari tahun ini meningkat menjadi 35.000 KL.
“Pada saat Januari kemudian ada lagi kenaikan hampir mencapai 35.000 KL pertalite per hari. Jadi memang kita lihat ada kelompok masyarakat yang memang juga sudah secara terus menerus menggunakan produk Pertalite,” jelas Wianda ditemui di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta, Selasa (17/1/2017).
Sebaliknya, lanjut dia, konsumsi Premium anjlok lantaran banyak penggunanya yang beralih menggunakan Pertalite dan Pertamax. “Karena konsumsinya (Pertalite) dari hari ke hari terus bertambah. Kalau Premium juga menurun cukup jauh. Premium sebelum ada Pertalite, konsumsinya sekitar 75.000 KL, kalau dilihat sekarang mungkin konsumsi Premium sekitar 43.000-45.000 KL per hari. Jadi ada penurunan drastis,” jelas Wianda.
“Tapi kita tetap berkewajiban menyediakan Premium sebagai opsi. Walaupun kita sebagai badan usaha bisa me-review setiap mingguan, tapi kita harus melakukan pertimbangan cukup dalam karena konsumsi Pertalite cukup tinggi,” jelasnya.

        Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium untuk periode 1 Januari 2017-31 Maret 2017 tidak mengalami perubahan, tetap Rp 6.450/liter.
Sedangkan pertalite sejak 5 Januari 2017 lalu telah dinaikkan oleh PT Pertamina (Persero) dari Rp 7.050/liter menjadi Rp 7.350/liter karena adanya kenaikan harga minyak dunia dan perubahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kini perbedaan harga antara premium dan pertalite menjadi lebih besar, dari sebelumnya hanya Rp 600/liter menjadi Rp 900/liter. Apakah pengguna pertalite akan beralih kembali ke premium?
Direktur Pemasaran Pertamina, Muhammad Iskandar, optimistis penjualan pertalite akan tetap normal dan tidak terjadi migrasi ke premium. Sebab, harga pertalite sekarang masih di bawah harga tertinggi premium, yaitu Rp 8.500/liter.
Kalau premium seharga Rp 8.500/liter saja masih normal penjualannya pada 2014 lalu, maka pertalite seharga Rp 7.350/liter pun masih dalam jangkauan masyarakat.  “Kalau kita lihat dengan daya beli masyarakat, tidak terlalu signifikan perubahannya. Masyarakat pernah merasakan premium di harga Rp 8.500/liter pada November 2014,” ujar Iskandar.
Iskandar juga optimistis konsumsi pertalite tidak akan anjlok karena pertamax turbo yang harganya Rp 8.700/liter saat diluncurkan saja banyak peminatnya. “Kemarin kita launching pertamax turbo di harga Rp 8.700/liter saja ternyata banyak yang pakai. Motor juga pakai,” tuturnya.
Perbedaan harga antara premium dan pertalite juga masih di bawah Rp 1.000/liter. Menurut Iskandar, disparitasnya belum terlampau jauh sehingga psikologis masyarakat belum terpengaruh. “Idealnya (perbedaan harga maksimum antara premium dan pertalite) di angka Rp 1.000-1.200/liter, itu angka psikologis,” pungkasnya.(*)