BOGOR TODAY- Kontestasi Pilwalkot 2018 mulai memanaskan konstelasi politik di pertengahan tahun ayam api. Sejumlah partai mulai berkemas menata koalisi.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kini telah memutuskan untuk melanjutkan Koalisi Merah Putih (KMP) dengan Partai Gerindra. Tiga nama dimunculkan PKS untuk maju mengikuti survei, yakni Ahmad Ruhyat, Najamuddin dan Atang Trisnanto. Nama menguat adalah Ahmad Ruhyat. Figur Ruhyat diyakini menguat lantaran ketokohannya sudah mengakar di Kota Bogor. Gagal di kontestasi politik 2013 lalu, Ruhyat memberi sinyal bakal maju lagi dalam Pilkada Kota Bogor 2019. “Saya bagaimana survei saja. Kita tunggu hasil survei nanti ya,” kata dia, saat ditanya, kemarin.
Sementara Gerindra masih bergeming, belum memunculkan nama yang pas untuk disandingkan dengan ketiga nama tadi. Kabarnya, sejumlah tokoh dilirik untuk dijadikan pasangan Ruhyat. Kader-kader muda potensional seperti Jenal Mutaqin dan Sopian Ali Agam masuk dalam daftar incaran. Yang terbaru adalah Harry Ara yang masuk dalam daftar penjaringan.
Harry juga dikenal memiliki tautan politik dengan Ruhyat. Kabar bahwa aktivis dan pengacara ini masuk dalam radar penjaringan inipun tak ditampik sejumlah elite kedua partai.
“Semua kita jaring. Nama-nama aktivis juga masuk dalam bursa,” kata Sopian Ali Agam.
Harry Ara dikenal sebagai Anggota TP4 Kota Bogor. Ia juga lahir di Bogor. Harry bersekolah di SDN Panargan 3 Kota Bogor, kemudian melanjutkan ke SMPN 4 Kota Bogor.
Karena kerinduannya pada sang Ayah yakni Alamarhum Dr Pittor Hutabarat, MSc yang juga Dosen Fakultas Peternakan IPB, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMA milik Yayasan IPB.
Harry juga tercatat sebagai alumni Diploma 3 IPB. Setelah rampung di IPB, ia melanjutkan studi Ilmu Hukum di STIH Darma Andigha Bogor, kampus yang dirintis Letjend Purn Andhi Galib Alm. dimana mantan Jaksa Agung itu pun menjadi dosennya langsung.
Soal kabar ini, Harry mengakui jika beberapa partai memang telah berkomunikasi. Namun, dirinya menegaskan setia dengan hymne Gerindra. “Saya mengikuti arus saja. Politik itu dinamis. Semua serba mungkin,” kata dia.(Yuska Apitya)