LEUWILIANG TODAY – Proyek bencana penanganan darurat berupa perbaikan tebing sungai di Kampung Tengah Desa Puraseda Kecamatan Leuwiliang dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi, bangunan tebingan sungai tersebut  bahan material bronjong nya hanya menggunakan sirtu atau kolar saja.
Pekerjaan bronjong yang menggunakan Anggaran APBD untuk bencana darurat dari BPBD Kabupaten Bogor diduga kuat banyak melanggar bestek, sehingga pekerjaan konstruksi berupa pemasangan bronjong tersebut tidak akan banyak membantu mengurangi kerugian yang lebih besar akibat bencana di wilayah itu, sehingga manfaat nya pun tidak ada sehingga mubazir manfaat dari proyek tebingan penahan air tersebut.
Berdasarkan pantauan publik bogor dilokasi, ada beberapa hal tak lazim dengan pekerjaan yang tidak melewati proses lelang itu. Mulai dari terlalu kecilnya material bebatuan yang menggunakan sirtu batu kolar, yang seharusnya menggunakan material batu belah berdiameter 15 cm sampai 25 cm.
Bangunan bronjong itu terlihat tidak memperhitungkan kekuatan untuk  menahan derasnya air sungai apabila terjadi hujan, sehingga dapat jebol kembali akibat tergerus derasnya air sungai.
Kaur Ekbang Desa Puraseda, Budi menyesalkan pekerjaan yang dilakukan oleh pemborong itu. Seharusnya bangunan bronjong itu menggunakan  batu yang berukuran lebih besar yang berdiameter 15 – 25 Cm. Dengan demikian, batu tersebut, akan mampu menahan beban derasnya air sungai.
”Saya sangat prihatin sekali, seharusnya pemborong lebih mengutamakan kualitas dan kuantitas sehingga bangunan bronjong ini kuat dan tidak mudah hancur,” ujar Budi, Rabu (4/4/18).
Tambah Budi menjelaskan, proyek itu pun tidak memasang papan nilai anggaran dan tidak terpasang dlokasi, sehingga masyarakat pun tidak tahu jumlah nilai anggaran proyek itu, masyarakat pun menilai itu seperti proyek siluman saja.
Tidak hanya papan anggaran, namun anyaman kawat pagar bronjong itu pun terlihat tidak menggunakan paku ikat. Wajar saja bila hujan, gampang berubah bentuk, lalu ambruk karna pasangan batu belahnya menggunakan kolar dan sirtu.
“Kalu pasangan bronjongnya batu nya pake sirtu bisa kaluar lagi dari lobang bronjong, harusnya memakai material batu belah bukan dengan batu kolar seperti sirtu.
“Sepertinya pasangan bronjong dengan batu kolar atau sirtu itu tidak ada rumusnya, seharusnya material nya pake batu belah jadi akan saling mengonci sehingga tidak habis lg tergerus oleh derasnya air sungai,” jelasnya.
Terpisah Sekdis BPBD Budi Pranowo saat dikonfirmasi via wattsaps enggan membalas. Namun kepala PPATK BPBD, Sumardi berjanji akan meninjau kelokasi proyek. “Pekerjaan bronjong tersebut akan dilihat dan di koroscek ke lokasi proyek,” katanya.  (Agus)