Home Opini Today PUASA BENTUK KELUARGA BERPRESTASI

PUASA BENTUK KELUARGA BERPRESTASI

0
44

Oleh : Heru B. Setyawan

(Guru Senior Sekolah Pesat dan Relawan Baznas Pusat)

Ayat yang paling popular tentang puasa adalah,” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al Baqarah, ayat 183). Puasa itu tanda orang beriman dan puasa juga dilakukan oleh umat terdahulu. Nabi Adam dahulu juga puasa selain bertobat, Nabi Daud juga melakukan puasa Daud.

Selama 11 bulan kita selalu berkutat dengan urusan kerja, meski itu juga ibadah kalau kita niatkan untuk ibadah, tapi suasana ramadhan jelas lain dengan bulan bulan lain diluar ramadhan, karena setan dibelenggu, pintu neraka ditutup rapat-rapat dan pintu surga dibuka lebar-lebar. Apalagi suasananya juga mendukung, jam belajar di sekolah dan jam kerja di kantor serta pabrik dikurangi.

Bulan ramadhan adalah bulan tarbiyah (pendidikan), maka ada kesempatan bagi kita untuk belajar lagi tentang agama Islam semakin baik dan benar. Bulan ramadhan saatnya untuk memperbanyak membaca, memahami dan mengamalkan Kitab Suci Al Qur’an, bulan puasa juga kesempatan untuk meningkatkan jumlah dan mutu ibadah kita, baik ibadah ritual maupun  ibadah sosial.

Banyak prestasi dan kemenangan gemilang umat Islam terjadi justru pada bulan suci ramadhan yang penuh berkah ini, bulan ramadhan yang diawalnya rahmat, pertengahannya  maghfirah dan penghujungnya pembebasan dari api neraka. Maka bulan suci ramadhan sebagai tamu agung ini selalu dinantikan oleh umat Islam setiap tahunnya.

Sejarah mencatat  prestasi dan kemenangan gemilang umat Islam tersebut, yaitu: perang badar, perang ini terjadi pada 17 ramadhan tahun 2 hijriyah. Dimana pasukan  kaum muslimin yang hanya berjumlah sekitar 300an orang bertempur melawan pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah sekitar 1.000 orang lebih dengan persenjataan lengkap. Akhirnya, secara dramatis pasukan muslimin mampu mengalahkan pasukan Quraisy. Hasil ini memang tidak terlepas dari bantuan Allah SWT yang termaktub dalam Kitab Suci Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 123: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.”

Proklamasi kemerdekaan Indonesia bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 9 ramadhan. Ketika itu, Sukarno-Hatta ditemani tokoh-tokoh nasional lainnya secara dramatis memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Bisa kita bayangkan dalam kondisi puasa para founding father (pendiri bangsa) dan para golongan pemuda ini mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan proklamasi.

Luar biasa bukan,  berkah bulan suci ramadhan bagi bangsa Indonesia, sungguh menakjubkan di saat lesu, letih, lemah karena puasa, sejarah membuktikan bahwa puasa bukanlah penghalang untuk berbuat sesuatu hal yang spektakuler dan penuh prestasi. Rasa lapar sewaktu kita puasa, pada suatu titik tertentu akan menimbulkan energi yang luar biasa.

Maka atas dasar itu, sebuah keluarga  bisa membuat prestasi pada bulan suci ramadhan ini, dengan menjalankan ibadah puasa dengan serius dan sesuai dengan syariat Islam, bukan sekedar menjalankan ibadah puasa dengan bermalas-malasan saja. Inilah peran yang harus dilakukan sebuah keluarga agar momentum ramadhan bisa membentuk keluarga yang berprestasi, yaitu:

Pertama, seluruh anggota keluarga kita segera bertobat, jangan ditunda-tunda mumpung masih hidup. Kesempatan yang paling baik dalam hidup ini adalah kesempatan bertobat sebelum wafat. Mumpung bulan penuh ampunan dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dosa sebesar apapun kalau kita bertobat dengan sungguh-sungguh, tidak mengulangi lagi dan menyesali atas dosa kita (tobat nasuha)  maka Allah akan mengampuni seluruh dosa-dosa kita.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS.Az Zumar, ayat 53). Surat ini yang menginspirasi almarhum rocker Gito Rollies menuju pertobatannya, yang semula hidupnya penuh kegelapan dan selalu berbuat maksiat, diakhir hayatnya menjadi hamba yang soleh.

Bisa jadi, gaji bapak tidak naik-naik, sementara uang belanja ibu selalu kurang tiap bulan serta anak kita sulit belajar dan doa-doa kita belum terkabul karena terhalang oleh besarnya dosa-dosa kita yang belum diampuni oleh Allah dan kita memang belum bertobat. Maka segeralah beristiqfar dan bertobat, nanti Allah akan mengganti sifat jelek kita menjadi sifat yang baik dan Allah akan mencegah kita berbuat maksiat serta Allah akan membimbing kita untuk bersahabat dengan orang-orang soleh dan solehah.

Jika keluarga kita berhasil melaksanakan tobat nasuha dan berhasil hijrah dari dunia gelap menuju cahaya Allah dan menjadi hamba yang soleh serta solehah ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa, serta puasa keluarga kita termasuk puasa yang penuh prestasi otomatis keluarga kita juga menjadi keluarga yang berprestasi.

Kedua, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan keluarga kita. Coba simak dengan penuh keimanan arti dari surat Al Baqarah ayat 2-5, yaitu: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Jadi yang sukses dan berprestasi adalah seorang hamba yang bertaqwa  (beruntung) seperti yang disebutkan pada ayat di atas, yaitu: mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang dermawan dan mereka yang beriman kepada Al Quran dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.

Dengan adanya ramadhan, keluarga kita bisa sahur bersama, buka bersama, shalat berjamaah, tadarus bersama, jika di bulan-bulan biasa ini jarang terjadi, karena kesibukan anggota keluarga masing-masing. Dengan suasana kebersamaan ini akan menimbulkan keharmonisan dalam keluarga kita dan insyaAllah akan tercipta keluarga yang sakinah. Terciptanya keluarga sakinah adalah prestasi yang luar biasa.

Jika akhir-akhir ini di media massa terdapat banyaknya kasus perkosaan, miras, narkoba, pergaulan bebas, LGBT dan bahkan ada seorang bapak yang menghamili anaknya, hal ini pelakunya pastilah dari keluarga yang jauh dari keimanan.

Dan balasan bagi seorang hamba yang beriman adalah sebagai berikut :  Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya (QS Al Baqarah ayat 25).

Inilah kemenangan dan prestasi yang sebenarnya kita hidup di dunia ini, yaitu ujungnya kita masuk ke surganya Allah SWT, tidak ada artinya kita hidup di dunia yang fana ini,  jika kita kaya raya, tinggi jabatan, terkenal dan banyak dipuji orang tapi ujungnya masuk neraka.

Ketiga, meningkatkan kompetensi keluarga kita. Puasa adalah saat yang tepat untuk introspeksi diri atas kekurangan kita, sehingga dengan tahu kelemahan dan kekurangan diri kita, akan memacu kita untuk memperbaiki diri dan pada akhirnya kita bisa meningkatkan mutu kompetensi keluarga kita.

Misal jika seorang bapak menjadi pemimpin yang mudah marah dan sewenang-wenang terhadap anak buah, maka dengan puasa ini kita bisa lebih sabar dan adil dengan anak buah. Atau jika kita sebagai seorang pegawai yang suka mengeluh dan malas dalam bekerja, maka dengan puasa ini kita bisa lebih bersyukur dan rajin dalam bekerja. Kalau perlu agar lebih profesional para bapak-bapak ini bisa ikut workshop, in house training dan seminar di bidang kompetensinya masing-masing.

Sedang seorang ibu, bisa ikut kursus kecantikan dan kursus masak, agar suami betah di rumah, karena istrinya selalu berpenampilan cantik dan enak masakannya, selain juga menghemat anggaran rumah tangga, sebab memasak sendiri di rumah itu lebih hemat dari pada beli di luar.  . Apalagi jika seorang istri memasaknya dengan ikhlas, maka akan menimbulkan kasih sayang suami terhadap istrinya, serta hal ini berpahala besar. Sedang sebagai seorang anak bisa ikut bimbingan belajar agar nilai akademis bisa meningkat dan ikut pesantren kilat dengan serius, sehingga timbul ketenangan batinnya, karena masa remaja rawan dengan sifat galau.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga keluarga kita termasuk keluarga yang berprestasi, Aamiin. Jayalah Indonesiaku. (*)